30.3.14

Membalut Luka Gaza, sebuah review

Hal yang paling sulit untuk saya lakukan adalah membuat review sebuah buku. Jika selesai membaca, maka hanya 4 hal yang akan saya katakan, suka-suka sekali-biasa saja atau tidak suka. Untuk menjabarkan ke hal yang lebih detil, sulit sekali.  Namun, untuk kegiatan baru One Month One Book, saya akan mulai mencobanya. SEMANGAT!!!

Buku yang saya pilih kali ini adalah Membalut Luka Gaza. Buku yang ditulis oleh dr. Prita beserta relawan lainnya dari organisasi kemanusiaan BMSI.

Buku ini adalah hasil barteran buku dengan dr. Prita sendiri. Saya dengan buku Sedikit Tentangku dan Kendari (Lagi), dan dr.Prita dengan buku ini.

Gaza adalah tanah Palestina yang kini tersisa. Israel dan kaum Yahudinya telah berhasil mengusir bangsa Palestina dari tanah-tanah mereka sendiri. Warga Palestina kini hidup di bawah intimidasi dan blokade Israel.

"...karena dalam hidup ini hanya ada dua pilihan bagi kami, hidup bahagia di dunia atau wafat dalam syahid untuk surga..."
Salah satu kisah yang menarik adalah di kisah pembuka. Tentang Coca Cola, minuman bersoda dari Amerika.

Dalam penyambutan para relawan di salah satu universitas yang masih bertahan di Gaza, dr. Prita dan yang lain malah disuguhkan dengan minuman yang selalu dikaitkan dengan Amerika, yaitu Coca Cola. Minuman yang terpaksa mereka sajikan karena tak bisa memilih. Apapun yang bisa mereka dapatkan dari hasil penyelundupan melewati terowongan-terowongan, apapun itu, mereka hanya bisa pasrah menerima saja. 

Bangsa Palestina adalah bangsa yang masih memegang teguh budaya Arab, salah satunya selalu ramah dan berusaha ramah dengan para tamu. Salah satu relawan bahkan merasakan dampaknya ;) Saking ramahnya,  perutnya hampir tak mampu lagi menampung makanan yang terus mereka tawarkan saat menjamu tamunya. Selain karena sering, juga akibat porsinya yang lebih.

Meski dalam kondisi yang susah, namun masyarakat Palestina pantang untuk meminta-meminta. Para pengemis jarang terlihat. Bahkan anak-anak kecil pun sudah terbiasa untuk berusaha sendiri dengan berjualan di jalanan. (Beli, tidak mau minta!)

Kalau di tempat lain, para artis menghiasi kota dalam iklan-iklan, atau mungkin foto pejabat kota. Maka di Gaza, para syuhada-lah yang dipampang fotonya. Keluarga mereka sangat bangga apabila ada anggota keluarga yang syahid hingga menghias fotonya dan memasangnya di jalan atau di tempat umum. (Menjemput syuhada ala Gaza).

Pokoknya banyak kisah yang belum banyak diketahui tentang Gaza dan Palestina. Kisah-kisah menarik dan inspiratif tentang semangat Gaza yang tak padam hanya karena blokade Israel.

Buku yang tak seberapa tebal ini, hasil penjualannya disumbangkan ke BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia) untuk Beasiswa mahasiswa Palestina yang bersekolah di Indonesia. Mereka bersekolah di negara kita, semuanya adalah dokter-dokter spesialis yang sangat dibutuhkan masyarakat Gaza.



3 komentar:

  1. meski lagi susah, menjamu tamunya tetap dinomor satukan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Adat orang Arab memang begitu katanya dr.Prita

      Hapus
  2. salam hangat dari kami ijin menyimak gan, dari kami pengrajin jaket kulit

    BalasHapus

Silahkan berikan komentar anda atas isi blog saya ini. Kritik, saran yang membangun sangat diharapkan, namun harap sopan.