10.9.14

Pak Polisi dan Pasar

Muka-muka lesu bercampur kesal sangat tampak terlihat. Entah kenapa suasana pasar kali ini sangat muram, tak biasanya.
Beberapa langkah memasuki pasar, tak tampak pedagang beras yang biasa saya beli beras merahnya. Penjual sayur pun langka. Beberapa orang berkumpul tampaknya mendiskusikan sesuatu. Oh, rupanya ada pak polisi pamong praja di antaranya. Hmm,ada apakah ini??
Saya hanya sempat bertanya sedikit, tak berani banyak. Wajah para pedagang sedang gundah, tidak etislah saya "mewawancarai" mereka lagi.
Baru beberapa bulan, abu bekas bakaran pasar yang lama pun mungkin masih hangat. Pedagang yang menjajakan barang dagangannya di emperan trotoar pasar ini adalah mereka yang tak mampu membayar sewa kios di dalam gedung yang harganya menjulang itu. Kini mereka akan diusir lagi.
I don't know. Hati ini ngilu. Para ina-ina (sebagian besar pedagang adalah ibu-ibu berusia lanjut) ini adalah pejuang-pejuang bagi keluarganya. Namun, pemkot melalui tangan Satpol PP mau menghancurkan mata pencaharian mereka kembali.
Saat beranjak keluar pasar, Polisi Pamong Praja terlihat santai duduk berjejer. Tinggal menunggu aba-aba dari atasannya untuk mem"bereskan" para pedagang.

Ironi.

Atas nama kerapihan dan ketertiban di atas penderitaan rakyat kecil.