24.10.13

PLN Bersih untuk Indonesia, untuk Kita Juga

Melihat postingan tentang lomba blog PLN dan plang "PLN Bersih, No Suap" membuat saya berkerut dahi, "Emang bisa??" tanya saya dalam hati. Cap bersih dan apapun yang senada dengan itu, di negeri dan jaman sekarang ini adalah hal yang teramat sulit. Sungguh.
Lihat saja di televisi, koran dan berita online, fakta atau opini yang ada adalah korupsi, penyalahgunaan wewenang dimana-mana. Suap, apalagi, adalah hal yang dianggap wajar di masyarakat kita. Tak menyuap seperti tak gaul :( (hedeeeuuuh).


Tapi, tak ada yang tak mungkin jika mau bersungguh-sungguh. PLN Bersih bukanlah tagline semata. Terlihat dari perubahan-perubahan drastis yang dilakukan mereka, bahkan seluruh jajaran-mulai dari yang di atas hingga terbawah. Salut.

Berbagai perubahan yang dijalankan, bisa diakses dari situs plnbersih.com, diantaranya: perubahan sistem pelayanan dan pengaduan, pengaturan gratifikasi, perubahan pengadaan barang dan jasa, dsb. Hal-hal dasar yang bisa memicu korupsi dan penyelewengan dipangkas sedini mungkin. That's great.

Soal pelayanan, utamanya pembayaran. Saya sudah melakukannya sendiri. Pembayaran listrik yang dulunya lewat loket-loket kini bisa lebih mudah melalui ATM. Juga pembayaran lainnya, bisa dengan cepat dan gampang via ATM saja. Selain praktis, biaya-biaya tambahan yang tak perlu juga diminimalisir.

Sekitar setahun yang lalu, saya memanggil petugas PLN ke rumah. Listrik yang tak kunjung menyala sementara tetangga baik-baik saja membuat kami terpaksa mesti menelepon petugas PLN.
Ada yang berbeda kala itu. Petugas yang bekerja melakukan tugasnya dengan cermat, cepat, dan tanpa banyak cingcong. Dan yang lebih bagusnya lagi, tanpa minta uang rokok!!! Kagum jadinya. Sudah ditelepon tak pakai banyak alasan, langsung datang begitu mendengar keluhan kita. Mereka bekerja langsung dan tepat sasaran, dan tanpa biaya ekstra. Memuaskan.

Sistem ini rupanya telah dijalankan di PLN semenjak tahun 2010, dengan empat pilar program, yakni : partisipasi pegawai dan seluruh stakeholder, integritas, transparansi dan akuntabilitas.  Pilar kedua hingga keempat saya pandang sebagai hal-hal yang hanya bisa dilakukan dari dalam PLN sendiri. Dimana peran kita sebagai masyarakat (dan sebagai blogger)? Ada di pilar satu, partisipasi. Semua pilar yang lain tak akan terwujud tanpa adanya partisipasi dari pegawai PLN dan juga kita, masyarakat di luar PLN yang ikut menyukseskan sistem yang sementara di bangun di dalam PLN. Bagaimana wujud partisipasinya? Terutama seperti saya yang adalah seorang blogger?

Yang pasti pertama, jangan pernah pesimis apalagi sinis dengan program ini. Yakin. Meski sulit (dan saya rasa semua juga setuju), tapi tak ada yang tak mungkin jika kita yakin dan percaya serta bersungguh-sungguh. 

Kedua dan juga mudah untuk dilakukan, laporkan jika ada penyimpangan seperti petugas yang meminta uang rokok atau uang lelah. Kini saluran pengaduan atau pelaporan PLN dibuka seluas-luasnya dan pasti ditanggapi, via contact center 123 atau SMS Peduli 081281022000. Media sosial PLN juga telah ada, Facebook dan twitter (@pln_123), masyarakat dengan mudah dan cepat bisa berinteraksi dan mengadu ke sana.

Lalu bagaimana jika kita tahu ada orang dalam PLN yang melakukan korupsi? Ternyata ada mekanisme whistleblowing di PLN. Pelapor akan dilindungi bukannya di-bully. Namun, harus didukung dengan data dan fakta yang kuat, jangan hanya berdasarkan prasangka dan isu yang tak bisa dipertanggung jawabkan.

Mendukung PLN Bersih bisa juga dengan tak berusaha memberikan uang jasa agar kepentingan kita cepat dipenuhi, misalnya dalam memasang sambungan listrik baru atau menambah daya. Cara-cara seperti ini selain ketinggalan zaman (sebab sudah ada mekanismenya yang pasti dan cepat), juga hanya akan merugikan kita sendiri.

PLN yang bersih hasil akhirnya nanti bukan hanya dinikmati oleh mereka yang bekerja di PLN saja, namun pasti oleh seluruh masyarakat Indonesia. Bukan tak mungkin, dari satu BUMN ini, tren bersih akan "menyebar" dan "laku" ke tempat dan lembaga yang lain, aamiin.

9.10.13

Mengembalikan (restore) Tampilan Print Composer di QuantumGIS

Utak-atik emang pekerjaan yang menyenangkan, kalau tahu cara mengembalikan ke keadaan sebelumnya. Tapi kalau tak tahu, maka untuk itulah tombol CTRL + Z (undo) diciptakan, haha.

Yang masalah adalah saat tombol undo bagi tampilan tak tersedia, begitu pula tanda-tanda tombol yang lain. Hopeless:(

Dari kemarin, setelah sedikit main-main dengan Print Composer QuantumGIS (tools untuk mencetak peta), saya dengan "tanpa sengaja" mematikan tampilan sebelah kanannya. Yang saya kira bisa saya kembalikan dengan mudah. Ternyata tak bisa, saudara-saudara. Berulang kali saya coba, namun  tak satu pun yang sukses.

Pagi ini, setelah berkontemplasi cukup dalam (hedeuhhh bahasanya B-) ), saya mencoba strategi lain. Uninstall QuantumGIS lalu install ulang, dan hasilnyaaaaaaaaa......gagal maning-gagal maning. Sama sekali tak berubah. Mau tak mau harus cari bantuan ekstra dari luar, yakni mbah Google.

tampilan print composer yang asli

setelah diutak-atik

Ketik di google, how to restore print composer quantum GIS.  Berbagai pilihan keluar, yang awal-awal berhubungan dengan phyton-which I don't get it at all- tak mengerti sama sekali. Hingga ke pilihan,
http://osgeo-org.1560.x6.nabble.com/print-composer-turn-tabs-on-and-off-td4998825.html , caranya mudah sekali. Hanya pakai klik kanan. And, done!!

how to restore print composer?

pfffffiuuuhh.....

Moral of the story, malu bertanya (ke google), sesat di jalan :)

5.10.13

Tumis Paria Tomat

Sabtu pagi, mbak sayur yang kutunggu tlah berlalu. Setelah kucari-cari, mbak sayur sudah tak terkejar lagi.
Masak sayur apa pagi ini?
Ah, rupanya masih ada paria* di kulkas. Aha, bagaimana kalau tumis paria (lagi).

Caranya? Gampang dan mudah saja. Cukup siapkan paria yang telah dipotong tipis-tipis lalu ditaburi garam kasar lalu diremas-remas dan dicuci bersih. Ini berguna agar rasa pahitnya ternetralisir. 
Bumbu yang dipakai juga sederhana, hanya bawang putih dan bawah merah yang dihaluskan bersama garam. Jangan lupa lupa gula sebagai pembangkit rasa gurih. Serta tomat yang sudah dipotong kecil-kecil.
Jumlah serta ukuran terserah ya, kira-kira saja. Untuk saya, 3 siung bawang putih dan 3 siung bawang merah sudah cukup untuk kira-kira 200 gr paria.

Pertama, panaskan wajan lalu masukkan minyak goreng. Tunggu hingga panas. Lalu masukkan bumbu yang dihaluskan, tumis hingga harum. Lalu, masukkan tomat potong, tumis sebentar. Kemudian parianya, tumis hingga layu. Masukkan gula, bisa juga tambahkan air (kalau mau), tumis hingga 10 menit. Sajikan.



*paria = bahasa lokal untuk pare