18.12.08

Ke Monas (lagi!).

Kalau ingat masa lalu, orang-orang di televisi yang sangat ingin melihat Monas dan berfoto di depannya, terlihat norak bagi saya. Tapi, akhirnya semua itu terjadi juga pada saya, Sabtu 13 Desember 2008 jam 4 sore.
Sebenarnya ke Monas sih pernah, beberapa bulan lalu, letaknya tidak jauh dari tempat saya tinggal, naik bajaj cukup bayar 10 ribu rupiah. Kali ini, karena bersama keluarga dan mereka sangat ingin melihat Monas, maka saya harus menemani.
Hujan gerimis menyambut saat kami tiba di sana. Celakanya, saya lupa membawa payung. Alhamdulillah, tidak terlalu deras. Setelah berjalan-jalan sebentar, kami pun memutuskan untuk berfoto di depan Monas. Kesempatan bersama yang amat sangat jarang selama 5 tahun terakhir ini, sayang untuk tidak diabadikan, apalagi karena ketiadaan kamera :( !!!!!
Kami pun berfoto (dengan latar belakang Monas!).
Pesan Moral dari ini :"Jangan pernah bilang kalau orang lain itu norak karena suatu hal, karena mungkin itu bisa terjadi pada dirimu sendiri!"

10.12.08

I'm Not a Boy...sebuah klarifikasi

Ternyata, mempunyai nama sepanjang Mudhalifana Haruddin, tidak membuat orang-orang 'ngeh' kalau itu nama cewek, bukan cowok,heh! So, kali ini para pembaca yang terhormat, once again let me clarify,Mudhalifana Haruddin is a girl not a boy..(kapok dah dipanggil mas ato bro! )
Selain itu juga, kalau diperhatikan dengan seksama, di bawah "geophysicist wanna be" ada teks yang menyatakan kalau saya adalah "seorang warga negara dan wanita Indonesia biasa". Jelas kan?
Tapi, daripada marah-marah dan buang-buang energi, tidak ada salahnya kalau dalam kesempatan ini saya mengucapkan
"Taqabbalallahu minna wa minkum,
SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1429 H,
maafkan segala kesalahan dan moga kita dapat meniru pengorbanan Nabi Ibrahim AS
dan Nabi Ismail, amin!"
Lebaran Haji kali ini, begitu bermakna...Alhamdulillah!!

2.12.08

Diskusi Buku :The Last Lecture

Sabtu, 29 November 2008. Waktu menunjukkan pukul 15.30, bergegas menuju ke jalan raya. P10, Kopaja 20 lalu kopaja 612. Sampai juga di Paramadina, auditorium. Setengah lima lewat, terlambat setengah jam, "it's normal!". Andy F Noya sedang melakukan prolog, pembicara tamu belum dihadirkan. 5 kurang lima, mereka pun dipanggil.
Hujan turun, petir juga sesekali menyambar. Esty Nugraha, sang adik angkat penulis buku The Last Lecture, Randy Pausch, mendapat kesempatan pertama. Dia bercerita tentang proses adopsinya, sebagian besar lagi mengenai kedermawanan keluarga Pausch.
Randy Pausch, seorang professor ilmu komputer dari Universitas Carnegie Mellon, divonis kanker pankreas dua tahun yang lalu. Buku yang ditulisnya bersama Jeffrey Zaslow, menjadi inspirasi bagi banyak orang, diilhami oleh kuliah terakhir yang diberikan Randy bagi mahasiswanya. Buku tersebut bukan berisi kegundahan Randy akan penyakitnya atau tentang sekarat melainkan optimismenya tentang hidup, mimpi-mimpinya. "It was about living...www.the lastlecture.com"
Professor Komaruddin Hidayat, menjadi pembicara kedua. Mengupas "Psikologi Kematian", tentang riset dan pemikirannya setelah membaca banyak buku dari paham dan agama berbeda. Buku yang juga amat mengisinpirasi Andy F Noya.
Adzan Maghrib, tapi acara belum selesai. Masih ada sesi tanya jawab, and I was freezing to death, gila..dingin sekali! Aku tidak bisa berkonsentrasi pada sesi terakhir ini, sehingga lenyaplah my goody bag's chance.
Kesimpulan acara diskusi buku kali ini: memang judulnya The Last Lecture, tapi yang menjadi sorotan, ya bukunya Prof Komaruddin.
Jam setengah 7 kurang lima, it's over. Sebelum pulang, mampir dulu ke mushala kampus.
Jam 7 kurang 10, meluncur ke jalan kembali. No more rain. Bis 46, ketemu dengan 2 orang pengamen. Ditangan mereka, lagu "Merindukanmu"-nya d'Massive terasa pas. Salah seorang personelnya membuatku tertawa, terlalu bersemangat cara nyanyinya. Kalau kata mba ii', cara menyanyi seperti itu bisa membuat pita suara rusak (halah).
20, kembali mendengar d'massive. Lagu "Cinta ini membunuhku" dibawakan oleh seorang pengamen cilik perempuan dengan apik, dengan ukulelenya. Kali ini, yang membuatku tertawa adalah di setiap bagian "ooo..ouo..oooooohhhhh..", pasti dipotong menjadi "ooo..............", selebihnya diisi dengan suara ukulele, cerdik!
Setelah pengamen itu turun, aku disajikan pemandangan lampu-lampu di kawasan Kuningan yang terasa sangat indah di malam itu, udara terasa nyaman.
Pindah ke P10, penuh asap rokok. Perda ternyata tidak berdaya menghadapi para perokok ini.
Jam setengah delapan kurang, sampai juga di rumah.