26.7.12

Demi Selembar Foto

Masa SMA adalah masa yang indah dan paling banyak dikenang. Mungkin karena di masa inilah kita secara perlahan beralih menjadi manusia dewasa. Begitu juga dengan saya. Pengalaman yang tak terlupakan adalah di penghujung kelulusan.

Setelah Ujian Akhir selesai, kami semua mulai sibuk dengan persiapan kelulusan. salah satunya foto yang akan dipasang di ijazah. Namun tak semudah itu mengurus selembar foto. Saya dan beberapa teman-teman baru beberapa lama mengenakan jilbab. Kami semua ingin menyerahkan foto berjilbab, namun terhalang oleh peraturan. Masa itu jilbab memang masih banyak dipersoalkan, apalagi dalam urusan administrasi.  Kalaupun ingin foto berjilbab, kami diharuskan meneken sebuah "surat pernyataan". Mendengar kata "surat" itu membuat banyak yang mundur dan menyerah, termasuk saya.

Perjuangan tidak sampai di situ. Walaupun tidak diijinkan foto berjilbab, kami tak mau berfoto di studio foto yang pekerjanya lelaki. Maka, beramai-ramai kami mencari studio yang cocok. (Oh ya, waktu itu kamera digital belum seramai sekarang, teknologi foto pun belum canggih sehingga untuk membuat pasfoto sendiri [seperti yang kini banyak dilakukan] masih sulit.) Sebuah studio yang pekerjanya wanita didapatkan, terletak di daerah Kota.

Satu persatu kami mengambil posisi untuk difoto, tanpa jilbab (hikkkss), sekitar 6 - 8 orang kalau tidak salah. Setelah selesai, kami memakai jilbab kembali dan berpose bersama, sebagai pengingat.

Setelah fotonya kelar, maka dipampanglah foto wajah-wajah kami tanpa jilbab itu di ijazah. Seperti tanda kekalahan kepada birokrasi, namun juga tanda perjuangan. Dan sepertinya, di tahun berikutnya foto berjilbab pun sudah diperbolehkan tanpa banyak syarat, alhamdulillah.


me and my classmates



24.7.12

Back to The Jadul Mode^^

Kemarin adalah waktu menyerahkan laporan dasarian (10 hari-an), gempa selama sepuluh hari yang tercatat di kantor. Maka, saya pun segera mengerjakan laporan tersebut yang terdiri atas satu halaman lembar pengantar, lembar laporan kejadian gempa dan lembar peta. Tidak berapa lama, lembar pengantar dan laporan kejadian gempa selesai. Sehingga yang tinggal hanya lembar peta.

Untuk peta, kami menggunakan software ArcGIS. Yang dibutuhkan hanya data lokasi berupa titik episenter (dalam format .dbf atau .txt), karena peta dasar sudah ada. Dan data titik-titik episenter juga telah saya siapkan dari hari Jum'at. 

Namun, saat akan masuk ke program ArcGIS, rupanya macet. Licence manager-nya bermasalah kembali. Mengapa ini terjadi? Tak lain dan tak bukan karena software yang kami pakai adalah bajakan :(, seperti yang masif terjadi di Indonesia (yang sayangnya memang menyedihkan). Yang bisa menyelesaikan masalah tersebut adalah rekan saya juga di kantor (berlatar belakang IT), sayangnya saya belum bisa kontak dengannya. Hingga kemarin, masalah peta tersebut belum terpecahkan.

  
Tampilan peta gempa dengan ArcGIS

Sebenarnya ada alternatif bagi pembuatan peta, yakni dengan program ArcView. Program ini adalah yang dipakai sebelum kami memakai ArcGIS. Hanya saja, karena saking lamanya tidak dimanfaatkan, makanya waktu yangc dibutuhkan untuk membuat satu peta lebih banyak dibanding memakai ArcGIS. Itu yang ada di pikiran saya juga kemarin.
Dan, pagi ini, ArcGIS belum bisa diperbaiki, sehingga dengan terpaksa saya harus memakai alternatif ArcView, program jadul. 

ArcView memang lebih jadul dari ArcGIS, dari segi tampilan sangat terlihat. Namun program ini memiliki kelebihan, yaitu sangat mudah di-instal serta tak "memakan" memori yang besar. Program ini masih kompatibel dengan OS lama, seperti XP dan Vista. 

  
Tampilan peta gempa dengan ArcView 

Akhirnya setelah diutak-atik lama (selama beberapa jam), peta dalam ArcView akhirnya jadi juga. Bersama seorang rekan dan beberapa anak magang, peta yang minim "aksesoris" itu selesai. Lega sekali rasanya, setelah beberapa bulan tak bersentuhan dengan program ini dan sangat underestimate dengan hasil yang diperoleh, ternyata petanya tak buruk-buruk amat, hehe. Laporan dasarian pun selesai.

9.7.12

Back On Top again, FedEx!

Federer kembali ke puncak lagi!Setelah bertarung empat set yang melelahkan di lapangan tengah Wimbledon, 4-6, 7-5, 6-3, 6-4, diselingi jeda hujan, melawan pemuda Skotlandia, Andy Murray, Roger Federer kembali ke posisi No.1 dunia kembali.
Dengan menjuarai Wimbledon kemarin, Federer mengukir rekor yang sama dengan jagoan tenis idolanya, Pete Samprass, 7 kali juara Wimbledon.

Murray-sang penantang, bukan tanpa perlawanan. Petenis peringkat 4 dunia ini sempat mengambil set pertama. Hanya saja, set-set berikutnya menjadi milik Federer yang tidak pernah memperlihatkan tanda-tanda kelelahan selama pertandingan (komentatornya bilang Federer punya kemampuan pemulihan yang sangat mengagumkan).

Federer yang sebelumnya mengalahkan No.1 (sebelumnya), Novak Djokovic (dan sangat mengejutkan), memang memperlihatkan prestasi yang konsisten, meski tak menjuarai satupun gelar grandslam semenjak awal 2010 di Australia. Dan dengan ini, sekaligus mengakhiri dominasi Nadal-Djokovic di tingkat grandslam (Australia Open, France Open, Wimbledon dan US open) selama hampir tiga tahun terakhir.

Well, even i'm missing Rafa on this tournament, Congrats FedEx, you are No.1 once again.

 
Federer And The Trophy, 7th times winner ( Sumber: Dailymail.co.uk)