23.1.09

New Year's Guests

Awal tahun Januari 2009, subid kami kedatangan tamu "istimewa", gempa besar melanda Manokwari, Papua Barat, 4 Januari 2009 (WIB). Karena minggu sebelumnya ada cuti bersama, maka data-data gempa 3 Januari tersebut menumpuk. Gempa yang begitu besar menghasilkan data yang amat sangat banyak, tak seperti yang ada biasa kami hadapi.
3 Januari malam, tepatnya jam 02.43 dinihari, gempa 7.9 SR mengguncang Manokwari. Dua jam kemudian, atau jam 05.33, sebuah gempa terjadi lagi, kali ini dengan kekuatan 7.6 SR. Gempa yang terjadi belakangan, belum bisa dipastikan sebagai susulan (aftershock). Beberapa ahli menyatakan gempa ini adalah gempa duplet.
Gempa duplet atau gempa kembar pernah terjadi pada tahun 2007, di Sumatera Barat, Maret dan September di Bengkulu. Serta tahun 2004 di Papua, dekat dengan lokasi gempa ini. Gempa duplet terjadi jika dua gempa (besar) terjadi di tempat dan dalam waktu yang berdekatan.
BMKG mencatat gempa pertama terjadi pada 138 Km Barat Laut Manokwari, dan gempa kedua pada 76 Km Barat Daya kota yang sama. Dari dugaan sementara, gempa dipicu aktivitas sesar geser Sorong (sorong strike-slip fault). Sesar ini adalah produk pertemuan dua lempeng besar, Lempeng Benua Australia yang bergerak ke utara dan Lempeng Samudera Pasifik ke arah barat.
Dua gempa besar ini ternyata memicu tsunami, walaupun dengan tinggi gelombang yang kecil, yakni 0.8 m di Manokwari, 0.35 m di Biak dan 0.2 m di Jayapura. Sedangkan di selatan Jepang tercatat 0.15 m. Sampai sekarang masih diselidiki apa yang menyebabkan tsunami tersebut, apakah karena dislokasi patahan atau terjadi longsoran bawah laut akibat gempa.
Selain ada sesar sorong, terdapat juga jalur subduksi di sebelah utara. Zona inilah yang juga menjadi pertimbangan para ahli mengenai "misteri" tsunami tersebut.
Sampai postingan ini terbit, masih tercatat dan dirasakan gempa-gempa susulan, diantaranya ada yang mencapai di atas 5 SR. Kerusakan yang terjadi juga parah, ribuan bangunan rusak, baik di Sorong maupun Manokwari, dua kota yang dekat dengan sumber gempa.

7.1.09

Duku apa Langsat??

"Ini duku, pia, kalo yang asam itu langsat!" tegas temanku. "Tapi, kalau di kampung itu namanya langsat. Buah yang lazim di sana." aku bersikeras. Yah, kalau di kampungku buah coklat kecil yang rasanya manis dan asam itu disebut langsat, kalau duku saya tak tahu, tak pernah makan satu sebutirpun.
Tapi, setelah "mengobrak-abrik" mbah google dan wikipedia, kini saya tahu kalau duku dan langsat itu adalah buah yang sama, hehe, :)
Umumnya buah ini terbagi atas 2 varietas, berdasarkan pembagian para ahli, duku dan langsat. Perbedaannya terlihat dari pohon, kalau pohon duku bertajuk besar dan berdaun hijau cerah, sedangkan langsat lebih kurus dan berdaun hijau tua. Sedang dari segi buah, duku berkulit tebal dan tidak bergetah, dan langsat berkulit tipis dan bergetah. Namun, keduanya tetaplah duku aka Lansium domesticum.
Dari berbagai daerah di Indonesia, penyebutan buah ini sebagian besar adalah langsat. Hanya di daerah Jawa dan sebagian Sumatera saja yang mengenalnya sebagai duku. Baik untuk varietas yang duku maupun langsat, karena memang sepintas tak ada bedanya. Sedangkan di luar negeri, buah ini dikenal sebagai langseh (Malaysia), lanzones (Filipina), lansad (Thailand).
Jadi, duku apa langsat? sama aja, :)


5.1.09

Apalah arti sebuah Nama

"Pia!", saya menoleh. Ternyata, bukan saya yang dipanggil. Tengsin, ya sedikit. Ternyata nama Pia pasaran juga, ^_^.
Apalah arti sebuah nama? Artinya, sangat penting.
Nama adalah identitas kita, pembeda dari manusia lain. Seperti kode yang hanya diciptakan untuk tiap individu. Dari diskusi buku yang saya ikuti kemarin, Prof. Komaruddin menyatakan bahwa roh orang yang tengah mati suri atau koma bisa dipanggil dengan menyebutkan nama lengkapnya, misalnya Fulanah binti Fulan. Sehingga disarankan jika ingin mendoakan seseorang, sebaiknya menyebutkan nama lengkap orang tersebut.

Orangtua kita memberikan nama yang dianggapnya terbaik. Dan terkadang nama bisa mencerminkan kepribadian seseorang, meski tak selalu menjamin. Jika Shakespeare beranggapan bahwa nama itu tidaklah penting, mungkin karena dia tidak hidup di zaman modern seperti sekarang ini, di mana identitas berupa nama berarti banyak dan penting. Penggunaan berbagai fasilitas dan kemudahan hidup seringkali membutuhkan nama pengguna.

Senin siang, saat tugas analisis numpuk banget, pusing jadinya!