Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2008

Oleh-oleh dari Parung

Bukan berupa talas, ataupun buah-buahan terkenal asal bogor, tapi sepenggal cerita mewakili kenangan selama di sana.
Terlambat memang, benar-benar telat. Heran, akhir-akhir ini, passion to write turun hingga ke level mengkhawatirkan bagi seorang blogger. Namun, saya mencoba lagi, membuka "paksa" ruang memori. Cerita pun dimulai.
12 oktober, tepat setelah Ashar, bus kami pun melaju meninggalkan pelataran parkir kantor yang sepi di hari itu, Minggu. Bus melaju dengan kecepatan standar, tak pelan dan tidak pula kencang. Di samping saya, duduk senior sealmamater, lama sekali kami tak berjumpa, sekitar 8 bulan. Dia, senior di SMA dan waktu kuliah, kini sedah seperti kakak sendiri. Saat mendaftar dulu, kami selalu bersama-sama, hingga akhirnya lulus dan terpisah tempat penempatan. Saya di pusat, dan dia di Kupang.
Di dalam bus, saya hampir tidak mengenal sebagian besar peserta lain. Adapun yang saya kenal atau akrab hanyalah 7 orang. 3 sealmamater, dan 4 rekan sekerja. Sisanya 31 ora…

Ternyata..

Sekali ikutan KickAndy Offair, ternyata berhasil membuat saya menjadi Kickandy Offair's Addict (hehehehe...). Terhitung sudah tiga kali, saya ikutan acara itu. Dan yang ketiga, ternyata bukan sekedar offair tapi di rekam juga alias akan ditayangkan di Metro TV. Tayangnya jum'at dan minggu kemarin.
Selain offair, saya juga ikutan rekaman di studio Metro TV, dan yang ini akan tayang malam ini (nonton ya!!)
Tapi, yang terpenting adalah selama dua minggu ke depan saya akan ikut sekolah singkat di Parung, Bogor. Doakan ya, semoga lulus, amiin.

Gugur satu per satu

Dulu, jumlah kami banyak sekali, saking banyaknya lantai 3 itu hampir mirip makassar kecil. Namun, seiring waktu, satu persatu mereka pun pergi.

Unhas Geofisika adalah satu-satunya prodi geofisika yang ada di Indonesia timur. Tidak heran, kalau banyak lulusannya yang mendiami BMG. Selain di perusahaan minyak yang memang banyak jadi incaran.

Kawan-kawan sealumni yang ada di kantor pusat, kini berkurang. Mereka kembali ke kampung, lebih memilih berkumpul dengan keluarga ketimbang mengejar karier di Ibukota. Dan kini, tinggal aku dan dua orang yang bertahan. Entah sampai kapan, mungkin di antara kami akan ada yang menyusul.

Aku, tak tahu. Ibukota kini masih menarik bagiku. Dua atau tiga tahun lagi, aku sungguh tak tahu. Mungkin,..........