29.10.08

Oleh-oleh dari Parung

Bukan berupa talas, ataupun buah-buahan terkenal asal bogor, tapi sepenggal cerita mewakili kenangan selama di sana.
Terlambat memang, benar-benar telat. Heran, akhir-akhir ini, passion to write turun hingga ke level mengkhawatirkan bagi seorang blogger. Namun, saya mencoba lagi, membuka "paksa" ruang memori. Cerita pun dimulai.
12 oktober, tepat setelah Ashar, bus kami pun melaju meninggalkan pelataran parkir kantor yang sepi di hari itu, Minggu. Bus melaju dengan kecepatan standar, tak pelan dan tidak pula kencang. Di samping saya, duduk senior sealmamater, lama sekali kami tak berjumpa, sekitar 8 bulan. Dia, senior di SMA dan waktu kuliah, kini sedah seperti kakak sendiri. Saat mendaftar dulu, kami selalu bersama-sama, hingga akhirnya lulus dan terpisah tempat penempatan. Saya di pusat, dan dia di Kupang.
Di dalam bus, saya hampir tidak mengenal sebagian besar peserta lain. Adapun yang saya kenal atau akrab hanyalah 7 orang. 3 sealmamater, dan 4 rekan sekerja. Sisanya 31 orang adalah wajah-wajah asing yang perlu saya jelalahi kemudian.
2 jam berlalu kami pun tiba di tempat tujuan. Kampus untuk aparat, para pegawai negara ini. Indah, agak adem dibandingkan Jakarta walau tak sesejuk Puncak, tapi lumayanlah.
Pertarungan awal dimulai, menentukan kamar serta teman sekamar. Setelah berlangsung beberapa menit, akhirnya diputuskan satu kamar ditempati tiga orang. Berbeda tipis dari prediksi, dua orang. Persekutuan awalku semula dengan seniorku itu pun harus terpecah, dengan memasukkan pemain baru. Seorang senior lagi asal Jogja tapi ditempatkan di Kupang.
Esok harinya, hari pertama sekolah singkat dimulai. Olahraga pagi, makan pagi, berbaris rapi, ke kelas, coffe break, ke kelas lagi, istirahat makan siang, ke kelas, coffe break, masuk kelas lagi, pulang ke asrama, makan malam, terus ke GOR atau sekedar jalan-jalan di sekitar kampus, adalah setumpuk aktivitas yang harus kami lalui dalam 12 hari ke depannya.
Sebenarnya, disamping rutinitas-rutinitas itu, ada hal yang terus dan terus kami lakukan. Berfoto! Tidak hentinya dan seperti tanpa lelah, para fotografer amatiran di antara kami selalu berupaya mengabadikan momen-momen penting. Hingga sekolah itu kami gelari "diklat foto".
Dan, bukan hanya foto, bahkan sampai video pun dibuat.
Kabar gembiranya, selama disana, saya bisa ke kickandy offair (lagi!!!!) yang diadakan di IPB Bogor. Kabar buruknya, kami datang di penghujung acara, cuman bisa gigit jari melihat goody bag kickandy dan Andrea Hirata yang di beri pesta kejutan di hari ulangtahunnya.
Malam harinya, di adakan malam perpisahan. Sedih, melihat teman-teman yang mulai disayangi untuk terakhir kali. Beberapa memang tidak akan langsung pulang ke daerah, ada yang masih tinggal bersama kami di Jakarta untuk beberapa hari. Jagung bakar dan minuman soda menjadi "saksi korban" kami malam itu. Entah kapan lagi bisa bertemu.
Sabtu, 25 oktober, bus kami pun melaju lagi, kali ini menuju Jakarta. Mudah-mudahan kita berjumpa lagi dalam diklat yang lain, PIM II mungkin, amiin!

10.10.08

Ternyata..

Sekali ikutan KickAndy Offair, ternyata berhasil membuat saya menjadi Kickandy Offair's Addict (hehehehe...). Terhitung sudah tiga kali, saya ikutan acara itu. Dan yang ketiga, ternyata bukan sekedar offair tapi di rekam juga alias akan ditayangkan di Metro TV. Tayangnya jum'at dan minggu kemarin.
Selain offair, saya juga ikutan rekaman di studio Metro TV, dan yang ini akan tayang malam ini (nonton ya!!)
Tapi, yang terpenting adalah selama dua minggu ke depan saya akan ikut sekolah singkat di Parung, Bogor. Doakan ya, semoga lulus, amiin.

9.10.08

Gugur satu per satu


Dulu, jumlah kami banyak sekali, saking banyaknya lantai 3 itu hampir mirip makassar kecil. Namun, seiring waktu, satu persatu mereka pun pergi.

Unhas Geofisika adalah satu-satunya prodi geofisika yang ada di Indonesia timur. Tidak heran, kalau banyak lulusannya yang mendiami BMG. Selain di perusahaan minyak yang memang banyak jadi incaran.

Kawan-kawan sealumni yang ada di kantor pusat, kini berkurang. Mereka kembali ke kampung, lebih memilih berkumpul dengan keluarga ketimbang mengejar karier di Ibukota. Dan kini, tinggal aku dan dua orang yang bertahan. Entah sampai kapan, mungkin di antara kami akan ada yang menyusul.

Aku, tak tahu. Ibukota kini masih menarik bagiku. Dua atau tiga tahun lagi, aku sungguh tak tahu. Mungkin,..........