31.1.15

[OMOB-JANUARI 2015] Jilbab dalam Pelukan Uncle Sam

Judul : Jilbab dalam Pelukan Uncle Sam
Penyusun : Meidya Derni
Penerbit : Madanisa (imprint dari Salamadani)
Penyunting : Emsoe
Perancang Sampul : Norma Aisyah
ISBN : 978-979-17213-3-2
Cetakan I : Februari 2008
Tebal : xii + 188 hal

Kasus Charlie Hebdo dan Islamofobia di Eropa membawa saya kembali pada buku ini. Sebuah buku yang saya beli akhir Mei, 6 tahun yang lalu, di sebuah toko buku yang berada di gang sempit kawasan Rawamangun. Jilbab dalam Pelukan Uncle Sam. Saya masih ingat kenangan saat pertama kali melihat sampul bukunya. Sampul yang adalah jendela sebuah buku, dan sampul buku ini sangat menarik di mata saya. Seorang perempuan muda yang mengenakan kerudung dari bendera Amerika, Star Spangled Barner.  Cerita yang diangkat menjadi sampul bukunya adalah salah satu kisah di dalam buku ini yang kebetulan juga menjadi judul bukunya, Jilbab dalam pelukan Uncle Sam. Kisah tentang pekerja anak Indonesia di Amerika yang disiksa majikannya dan berakhir di pengadilan Amerika.

Para penulis dalam buku ini adalah perempuan Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat, sebagian besar adalah ibu rumah tangga. Cerita yang ditulis di tahun 2006 memberikan gambaran bagaimana kehidupan mereka sebagai muslimah terutama setelah peristiwa 11 September 2001 (Black September).  Uniknya, ada beberapa yang memutuskan memakai jilbab setelah tinggal di sana.

Menjadi wanita muslim apalagi di negara seperti Amerika merupakan perjuangan setiap hari bagi mereka. Pandangan sinis, miring bahkan tindakan kasar pernah mereka dapatkan. Namun, tak sedikit juga uluran tangan dan persahabatan yang hangat dari orang Amerika yang sudah mengerti. Seperti juga masyakat kita umumnya, ketidaktahuan membawa asumsi. Dan terkadang asumsi atau anggapan yang berkembang dari ketidaktahuan itu adalah yang jelek-jelek.  Pengetahuan masyarakat Amerika tentang Islam kebanyakan diperoleh dari berita buruk yang membawa nama Islam-sebut saja terorisme.

Kisah para muslimah dalam mempertahankan jilbabnya di ruang publik atau bahkan di ruang radiologi, dikira biarawati (nun), atau pandangan kasihan dari orang karena dianggap dipaksa oleh suami-suami mereka dalam berjilbab, adalah salah banyak dari kisah-kisah inspiratif dalam buku ini. Membuat saya atau mereka yang tinggal di Indonesia akan pasti merasa lebih beruntung sebab dengan bebasnya bisa berjilbab (walau banyak juga yang dipandang sinis dengan jilbab panjang atau cadarnya), sesuatu yang harus sering-sering kita syukuri.  Berbagai kisah dalam buku ini bisa menjadi gambaran betapa beratnya menjadi muslimah berjilbab di negeri Paman Sam itu. Namun bagi mereka juga adalah perjalanan penuh hikmah yang menambah keimanan.

***

13.1.15

Dari Prof. dr Soeharsoyo, Sp.Ak ke dr. William Adi Tedja, TCM, M.A

Bermula dari status Prof.dr. Soeharsoyo, Sp.Ak (ket. Sp.Ak = Spesialis Akunpuntur Medik kalau tidak salah) yang membagikan jam kerja organ tubuh manusia. Saya pernah membaca hal yang serupa, tapi seingat saya tak ada nama professor di dalamnya. Dan ternyata benar, dari hasil gugling, nama professor itu hanya muncul sedikit, cuma 3 atau 4 sumber yang mencantumkannya.



Adapun tentang jam kerja organ yang memang banyak di-copast oleh beberapa blog, banyak yang bahkan tidak menyebutkan sumber atau narasumbernya. 


Gugling dengan kata kunci jam kerja organ tubuh ketemu artikel ini, 


Dari situ ada kata pengobatan TCM atau pengobatan  tradisional Cina. Gugling lagi dengan kata kunci pengobatan TCM dan jam kerja organ ketemu ini,


Nah, ada nama dokter yang disebut. Dari nama dokter William Adi Tedja ini, ketemulah  artikel dari intisari-online tertanggal 22 Juni 2011 yang saya duga adalah sumber dari artikel atau status di awal postingan ini,


Jadi, berdasarkan artikel tersebut,  jam kerja organ yang dimaksud di awal adalah pola hidup tubuh berdasarkan chi yang telah dipelajari ahli pengobatan Cina dari dulu.  Beberapa artikel online yang turut "semena-mena" menyalin artikel ini memakai istilah jam piket organ yang juga tak kalah menjual.

Kesimpulannya, nama Professor Soeharsoyo (yang belum saya dapat pastikan orangnya ada atau tidak) hanya dicatut. Narasumber aslinya adalah dr. William Adi Tedja, TCM, M.A dari Klinik Utomo Chinese Medical Center, Jakarta Barat. Kesimpulan lainnya, para peng-copast artikel ini adalah orang-orang yang kreatif. Salut, walau harus terus diluruskan. Biasakan dong copast dengan mencantumkan sumber.

Dan terakhir, para pembaca sekalian, usahakan tidur sebelum pukul 11 malam, agar kesehatan hati terjaga, begitu pesan artikel dari dr. William. Sekian^^


6.1.15

Susahnya belanja barang Korea (catatan elevenia)

Iya, elevania yang itu!

Jadi 3 bulan yang lalu, saya ingin sekali memiliki matras akupuntur asal Korea, karena kepincut tayangan matras itu di Running Man (okeh, saya memang penggemar variety show itu, bangeut!!). Dengar-dengar sih bisa buat badan jadi segar meski rasa sakit yang dihasilkan di kaki mirip rasa tertusuk-tusuk jarum. Nah, buka-buka internet, ketemulah tempat yang jualan barangnya, dari Korea pula. Adalah di elevenia (yang iklannya Cinta Laura itu loh!), dengan harga sekitar 300 ribuan plus ongkos kirim dari Korea, total harganya 450 ribuan. Setelah pesan, kemudian transfer, maka menunggulah saya akan kedatangannya.

Sebulan kemudian, barangnya belum datang juga. Saya masih sabar menanti. Soalnya sepanjang pengalaman belanja online (apalagi di tempat sebesar itu), kecil kemungkinan barang tidak dikirim dalam pikiran saya. Lalu, ada email masuk dari elevenia. Isinya, meminta balasan konfirmasi jika barang sudah diterima, dengan waku 3 x 24 jam. Saya masih menunggu lagi. Sabar.


Eh, 2 hari kemudian, tiba-tiba email yang lain masuk lagi. Isinya konfirmasi barang telah diterima (dengan asumsi saya tidak membalas email pertama tanda saya memang telah menerima barangnya). Ggggrggghh, dalam hati, apa-apaan ini?? Barang belum diterima, waktu email 3 hari belum lewat, kok sudah main konfirmasi saja. Saya segera membalas email itu, dengan nada yang kesal, tapi tidak ada tanggapan dari pihak sana. CS-nya juga tidak bisa dihubungi. Via akun my elevenia juga tidak bisa komplain. Saya kesal sekali. Kok ada tempat belanja online yang sama sekali tidak ada saluran keluhannya. :@

Lalu, ketemulah akun twitternya, @eleveniacare. Rupanya, melalui twitter-lah, keluhan ke elevenia cepat ditanggapi. Namun, lagi-lagi saya "dilempar" ke bagian kurir pengiriman barang, perusahaan Star Logistic. Saya menabung sabar kembali di sini. Info dari ekspedisi skala internasional itu, orderan saya masih dalam jadwal pengiriman, yang artinya belum dikirim (dari sebulan lalu!!). Saya disuruh untuk menghubungi mereka seminggu lagi. Sabar!!

Dan, sebulan kemudian saya komplain lagi ke @eleveniacare. Dijanjikan akan dikirimkan email (yang sampai sekarang tak pernah sampai  ke kotak email saya). Tgl 15 Desember, saya mengultimatum untuk segera memberi kepastian, kalau tidak saya membatalkan pesanan tersebut. Kepastian tak datang juga besoknya, saya akhirnya menge-tweet pembatalan pesanan. Cukup, kesabaran saya hanya bisa dua bulan saja. Lalu, segala puji bagi Allah, Elevenia merespon cepat. Walaupun pengembaliannya berlapis-lapis langkahnya (pengembalian poin, kemudian pengembalian uang), akhirnya uang saya bisa kembali juga.

Dengan pengalaman ini, saya "kapok" belanja di elevenia. Tidak dua kali dah. Meski uangnya balik, tapi informasi pengiriman barangnya tidak jelas. Harusnya jika barang tidak bisa dikirim atau terlambat, sebagai pembeli, diberikan informasi yang jelas. Apa yang terjadi jika saya tidak komplain?? Wallahu'alam.