23.9.12

Pandai Berbagai Bahasa, Pandai Bahasa Indonesia

Berapa bahasa yang anda kuasai? Dua, tiga, atau hanya satu?
Saya sendiri hanya tahu bahasa Indonesia dan sedikit bahasa Inggris walau hanya sebagai pengguna pasif.
Berbeda dengan saya, ibu saya adalah seorang multilingual. Ia secara aktif mampu berbahasa indonesia, Bajo dan Muna. Bahasa Bajo adalah bahasa ibu-nya, sedangkan bahasa Muna adalah bahasa yang dipakai di kota tempat besarnya dulu. Bahasa lain yang juga mampu dipakainya adalah bahasa Makassar, Bugis dan sedikit Jawa. Bahasa Jawa, karena beliau pernah beberapa tahun tinggal di Jogja mengikuti Bapak saya yang sekolah di sana.
Sedangkan ayah saya hanya menguasai bahasa Muna dan Indonesia. Bahasa Muna adalah bahasa ibu bagi Ayah.
Ibu dan ayah saya memang berasal dari Muna, sebuah pulau yang mayoritas penduduknya adalah suku Muna dan berbahasa Muna. Meski ada juga yang tidak, seperti keluarga ibu saya yang berbahasa Bajo.
Punya orangtua yang multilingual seharusnya menjadi keuntungan besar bagi kami, anak-anaknya. Namun sayang, di rumah kami tak dibiasakan berbahasa daerah. Ayah dan ibu selalu berbahasa Indonesia kepada kami. Bahasa daerah, yakni Muna dan Bajo, hanya sesekali terdengar saat mereka ingin membincangkan hal rahasia. Atau, saat ada kerabat yang datang.
Memiliki kemampuan banyak bahasa (meski itu bahasa daerah) adalah kemampuan yang mengagumkan bagi saya. Tak terbayang kecerdasan di otak mereka yang mampu mengganti “setingan” bahasa untuk berbagai tujuan dan peruntukan. Ibu dan ayah juga membuktikan betapa cerdasnya orang yang mampu berbicara beberapa bahasa, mereka punya daya ingat dan daya tangkap yang bagus.

2.9.12

Saya Pilih Ubuntu!

Sekitar awal tahun lalu, saya sudah punya niat untuk membeli laptop sendiri. Setelah bertahun kerja dan selalu mengandalkan komputer kantor buat mengerjakan semua kepentingan dengannya, saya ingin mengubah keadaan ini. Saya lalu mengumpulkan sedikit demi sedikit uang honor demi sebuah laptop. 

Setelah beberapa saat, uang akhirnya terkumpul.  Setelah bertanya kesana kemari merek laptop yang kira-kira murah tapi bagus, dan juga bantuan sahabat baik saya, Ami, yang kebetulan cerewet sekali kalau membahas hal-hal berhubungan dengan gadget. Kami pun lalu menunjuk sebuah merek.

Pertama kali memilih laptop tersebut, abang penjualnya menawarkan memakai sistem operasi sejuta umat, sang Jendela.
"Mau pake Win***s? Kalau mau, drivernya udah ada. Tinggal nambah aja sejuta.", kata si penjual tersebut.
"Oh, tidak. Mau pakai linux saja. Ada gak?"
"Waduh, ga ada linux di sini. Susah itu."
Saya menolak, mau memakai linux saja.

Mereka dan Buku "Sedikit Tentangku dan Kendari"





Judul: Sedikit Tentangku dan Kendari
Penyusun: Mudhalifana Haruddin & Ayu Aga
Desain Cover: Ferdhy Muhammad
Harga: 45.000 (diluar ongkir)
Tebal: x + 166 halaman diterbitkan melalui nulisbuku

Kontributor:
Mudhalifana Haruddin, Chaerul Sabara, Atyra Sansa, Ely Widyawati, Desi Dian Yustisia, Hana Yusida Syarif, Tatik Bahar, Bramastyo Dhieka, Itsuki Nurmani, Raya Adawiyah, Ummu Shavana, Ephy Aslinda, Andie Dodiet Fauzzie, Januar Lestari, Ramadhan Tosepu, Syabriyah Akib, Nurusyainie, Ayu Aga

Penulis Tamu:
Arham Kendari

Sinopsis

Buku tentang Kendari? Jarang ada, apalagi yang genrenya pop. Buku ini menjawab kebutuhan ini. Berisi 26 cerita yang semuanya adalah kisan nyata tentang Kendari. Mulai dari kuliner, pasar tradisional, pete-pete, hingga kisah dunia lain.  Kedekatan emosi pribadi dari tiap orang yang menceritakan pengalaman nyatanya di buku ini membuat pembaca akan bisa melihat, merasakan, membayangkan dan bahkan ingin datang ke kota kecil ini, Kendari.