2.9.12

Saya Pilih Ubuntu!

Sekitar awal tahun lalu, saya sudah punya niat untuk membeli laptop sendiri. Setelah bertahun kerja dan selalu mengandalkan komputer kantor buat mengerjakan semua kepentingan dengannya, saya ingin mengubah keadaan ini. Saya lalu mengumpulkan sedikit demi sedikit uang honor demi sebuah laptop. 

Setelah beberapa saat, uang akhirnya terkumpul.  Setelah bertanya kesana kemari merek laptop yang kira-kira murah tapi bagus, dan juga bantuan sahabat baik saya, Ami, yang kebetulan cerewet sekali kalau membahas hal-hal berhubungan dengan gadget. Kami pun lalu menunjuk sebuah merek.

Pertama kali memilih laptop tersebut, abang penjualnya menawarkan memakai sistem operasi sejuta umat, sang Jendela.
"Mau pake Win***s? Kalau mau, drivernya udah ada. Tinggal nambah aja sejuta.", kata si penjual tersebut.
"Oh, tidak. Mau pakai linux saja. Ada gak?"
"Waduh, ga ada linux di sini. Susah itu."
Saya menolak, mau memakai linux saja.


Kenapa saya berkeras? Selain karena dana saya tak cukup lagi, saya merasa tertantang memakai sistem operasi ini. Unik! Meski bukan seorang geek aka jenius IT, saya merasa cukup mampu untuk menggunakan Linux. Mampu, atau lebih tepat disebut ceroboh. Hari pertama saya dan laptop baru membuat saya frustasi. Saya kelabakan mencari OS linux yang cocok. Dan ujung-ujungnya, bajakan lagi-bajakan lagi ;(. Saya terperosok memakai OS "jendela" bajakan, demi menyelamatkan laptop yang tak kunjung terpakai.

Mencari OS linux yang sesuai dengan kepribadian kita susah-sudah gampang. Pertama mencoba, memakai OS linux punya kantor yang merupakan pengembangan salah seorang pegawai. Namun saya kurang sreg dengan tampilannya, terlampau jadul.

Hari berganti, namun saya masih belum menemukan distro Linux yang cocok. Akhirnya, saya dihubungkan oleh kawan saya dengan seorang rekan di lantai 4, namanya pak Eko. Dialah yang mengembangkan distro Linux yang saya sebut di atas. Setelah janjian (karena beliau tak selalu masuk kantor / shift), kami pun bertemu. Saya ditawarkan untuk menginstal Ubuntu versi 10.10 (Maverick Meerkat/perfect ten), saya langsung setuju. Instalasi dijalankan, dan setelah berjalan beberapa jam akhirnya sukses. Laptop saya kini resmi punya OS Ubuntu 10.10. Pak Eko kemudian memberikan beberapa tips-tips tentang Ubuntu, dan menawarkan bantuan kalau ada yang perlu disempurnakan kembali. Saya menerima tawaran tersebut, dan juga karena beberapa hari saya akan pindah domisili kerja. Saya mesti menuntaskan ini.

Permasalahan yang muncul adalah modem yang tidak connect. Namun, tuntas di tangan pak Eko. Masalah instalasi program untuk gambar, GIMP, juga akhirnya OKE. Beberapa masalah akhirnya bisa saya tangani sendiri, berbekal koneksi bagus dan tutorial dari internet. Tinggal bertanya ke Google, insya Allah semua bisa teratasi.

Tak terasa kini sudah setahun lebih saya bersama Ubuntu 10.10. Walau telah ada yang baru, 12.04, saya belum mau beralih (belum dapat CD dan takut kalau mesti mengunduh, hehe). Saya masih nyaman dengan perfect ten ini. Beberapa buku juga hadir dari sini. Buku terakhir saya, Sedikit Tentangku dan Kendari, juga saya garap hanya dengan LibreOffice di Ubuntu. Fasilitas ekspor ke PDF-nya yang begitu mudah membuat penyusunan buku tersebut berjalan lancar.

Walau, terkadang ada juga kendala yang saya temui. Namun, itu tak menjadi penghalang bagi saya untuk terus bergerak dengan Ubuntu. Terus belajar dan tak menyerah dengan halangan yang ada. Masa depan Open Source di Indonesia terbentang cerah. Pasti.

my lapie with Ubuntu

***

Tulisan ini disertakan dalam Lomba Blog ILC 2012 dengan tema "INDONESIA GO OPEN SOURCE"




21 komentar:

  1. Wow, sama dong !

    saya sudah pakai ubuntu mulai dari versi 09.04 hihihi

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. Hahaha, mb Indri bisa aja :-P

      Hapus
  3. sy sih apa kata suami ajah, gak ngerti yg kayak gini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Suaminya pake linux jg, mbak?

      Hapus
  4. Saya tertarik dengan Blankon Pattimura 7.0 bikinan anak-anak negeri (turunan dari ubuntu 10.10) waktu berencana membeli laptop dan kemudian benar-benar menggunakannya. Nah, sekarang sudah mulai familiar, jadi langsung pakai ubuntu 12.04 yang terbaru. Enak ternyata...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagi cdnya dong, mas.

      Hapus
    2. Mau? #tar deh tak carinya. sepertinya terselip entah di mana.

      Hapus
    3. ditunggu ya, yang 12.04 kan?

      Hapus
    4. iya, 12.04 LTS. Udah ketemu,nih... ngasihnya gimana?

      *FYI, Ubuntu 12.10 (Quantal Quetzal) udah mau rilisbulan Oktober.

      Hapus
  5. bedanya apa mbak sama windows?
    laptopq udah mau pindah tangan ke tangan suami qeqeqe
    laptop suami udah pensiun
    nah aq mau minta ganti komputer desk aja >>> lebih cucok buat IRT

    apakaaah yang membuat ubuntu ini menarik
    #ala silet

    BalasHapus
    Balasan
    1. apa ya, beda kebiasaan ajah mungkin.
      Menariknya karena lebih keluar dari mainstream, beda ama kebanyakan.

      Hapus
    2. menariknya adalah kebanyakan software yang ada tersedia secara gratis, mbak. dan dijamin bebas virus. kita tidak perlu pusing soal virus. kalau masih mau pakai program dari windows, cukup install wine dan kita bisa menginstall program yang kita inginkan.

      Hapus
    3. wine itu apa pak
      #ngibrittanyagugel :D :D

      Hapus
    4. wine itu anggur, mbak *dilemparsendal*

      Hapus
    5. wine itu software di linux agar bisa menginstall program yang berjalan di Windows OS, Mbak.

      Hapus
  6. wah, jadi tertarik pake ubuntu nih :D

    BalasHapus
  7. ga menger saya urusan begini..ckckck

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ndapapa ji, Ti. Ndak muncul ji di ujian, hehe

      Hapus

Silahkan berikan komentar anda atas isi blog saya ini. Kritik, saran yang membangun sangat diharapkan, namun harap sopan.