31.12.17

Bulutangkis Indonesia di 2017

Tahun 2017 hampir berlalu, begitu pula dengan gelaran turnamen-turnamen Badminton sepanjang tahun 2017 telah ditutup dengan berakhirnya Superseries Final di Dubai pada 17 Desember yang lalu.  Bagaimana dengan prestasi pebulutangkis kita sepanjang tahun ini, apakah lebih baik dari capaian di tahun 2016 lalu?

Kalau tahun lalu, prestasi paling puncak adalah emas di Olimpiade Rio yang direbut oleh pasangan andalan kita, Tontowi Ahmad (Owi) dan Liliyana Natsir (Butet). Hampir tidak berbeda di tahun ini, pada bulan Agustus di Kejuaraan Dunia Bulutangkis yang merupakan salah satu ajang bergengsi di dunia bulutangkis, gelar Juara Dunia Ganda Campuran kembali dipersembahkan oleh pasangan Owi dan Butet. Gelar yang pernah juga mereka raih di tahun 2013 yang lalu.

Owi dan Butet juga meraih gelar di Indonesia terbuka Super Series Premier (SSP) di bulan Juni, yang sangat istimewa karena gelar di rumah sendiri inilah gelar yang paling sulit mereka dapatkan selama berpasangan. Gelar super series yang lain Owi-Butet tahun ini adalah Perancis Terbuka Super Series (SS) di bulan Oktober.

Berbicara Indonesia di kejuaraan Super Series tahun ini maka pasangan Marcus Fernaldi Gideon dan Kevin Sanjaya Sukamuljo tidak bisa dilewatkan. Pasangan yang tahun lalu meraih 3 gelar Super Series itu, tahun ini meningkatkan raihannya. Tujuh gelar Super Series termasuk yang paling akhir di Dubai Super Series Finals berhasil mereka dapatkan di 2017 sekaligus juga meraih penghargaan Pemain Pria BWF terbaik tahun ini.

Torehan prestasi Marcus-Kevin dimulai di All England SSP dan India Terbuka  SS pada Maret, dilanjutkan di Malaysia Terbuka SS pada April. Sempat dilanda cidera, Mercus dan Kevin hanya sampai pada babak semi final di Singapura Terbuka SS pada April, perempat final di Kejuraan Dunia (Agustus) dan runner-up Denmark Terbuka SSP pada bulan Oktober. Mereka kemudian meraih gelar lagi di Jepang Terbuka SS pada bulan September, berlanjut di China Open SSP dan Hongkong SS pada bulan November 2017. Mereka lalu menutup tahun dengan meraih gelar di Dubai Super Series Finals setelah mengalahkan Juara Dunia tahun ini, Zhang Nan dan Liu Cheng dari China.

Sementara di sektor ganda campuran, selain Owi dan Butet, Praveen Jordan dan Debby Susanto juga meraih 1 gelar super series di Korea Terbuka. Pasangan peraih gelar All England tahun lalu ini juga sempat masuk final di Swiss Terbuka Grand Prix Gold (GPG) Maret lalu namun kalah dari ganda Thailand Dechapol P-Sapsiree T. Kabar buruknya, Praveen dan Debby akan dipisah tahun depan. Praveen akan bermain bersama Melati Daeva dan Debby akan berpasangan dengan Ricky Karanda yang hijrah dari sektor ganda putra.

Dari tunggal putra, meski meraih beberapa gelar bergengsi seperti Super Series (Anthony Ginting di Korea Terbuka) dan SEA GAMES MAlAYSIA 2017 (Jonathan Christie), namun bisa dikatakan sektor yang diisi pemain-pemain muda ini masih belum stabil. Sementara untuk tunggal putri, masih sering jadi penghias draw turnamen alias kalah di babak-babak awal. Prestasi paling menonjol adalah yang diraih Gregoria Mariska dengan menjadi juara kedua di India Terbuka GPG setelah kalah dari PV Sindhu, pemain tunggal putri terbaik India saat ini.

Sektor ganda putri mendapat harapan setelah vakumnya pasangan andalan kita-Greysia Polii dan Nitya Krishinda Maheswari karena operasi lutut Nitya di akhir tahun lalu. Greysia yang kini berpasangan dengan Apriyani Rahayu yang baru berusia 19 tahun mencatat prestasi yang menggembirakan. Juara di Thailand Terbuka GPG pada bulan Juni dan gelar Ganda Putri di Perancis Terbuka SS serta juara kedua di Hongkong Terbuka SS  membuat pasangan yang baru dipasangkan ketika Piala Sudirman Mei lalu ini melesat ke peringkat 10 dunia.

Untuk  kejuaraan beregu, Indonesia mencatat hasil buruk di dua turnamen besar yang diikuti. Hanya sampai babak perempat final di Kejuaraan Beregu Campuran Asia yang berlangsung di Vietnam pada Februari, karena kalah dari Jepang. Dan tidak lolos dari fase grup di Kejuaraan Piala Sudirman karena kalah bersaing dari India dan Denmark. Hasil yang bisa dianggap baik mungkin di SEA GAMES MALAYSIA 2017 pada bulan Agustus, dimana kita mendapatkan emas dari Beregu Putra dan perunggu di Beregu Putri.

Berbeda dengan tim senior, tim junior Indonesia mencatatkan hasil yang sangat baik. Pada Kejuaraan Badminton Asia Junior di bulan Juli, Raihan Naufal dan Siti Fadia Silva meraih emas di nomor Ganda Campuran, sementara untuk nomor Beregu Campuran, Indonesia hanya mampu  meraih perak setelah kalah dari Korea Selatan. Sedangkan di Kejuraan Dunia Junior, Indonesia berhasil meraih dua emas dari tunggal putri (Gregoria Mariska) dan Ganda Campuran (Rinov Rinaldy-Phita H. Mentari), dan dua perak dan satu perunggu. Prestasi yang terasa sangat berharga karena tahun ini kejuaran dunia junior dilaksanakan di Yogyakarta-Indonesia.

Tahun depan adalah tahun yang tak kalah pentingnya. Akan ada Kejuaraan Beregu Asia, Piala Thomas dan Uber serta Asian Games Jakarta-Palembang. Kejuaraan Beregu Asia menjadi penting karena Indonesia menjadi Juara di Beregu Putra saat 2016 yang lalu, serta Piala Thomas karena kita menjadi juara kedua juga di tahun lalu. Sementara, untuk Asian Games, selain karena kita menjadi tuan rumah, dua emas di ganda putra dan ganda putri di bulutangkis harus saat Asian Games Incheon 2014 lalu harus bisa kita pertahankan (kalau bisa sih lebih).

Selain kejuaraan penting, kabar lainnya yang tak kalah menggembirakan adalah kembalinya pasangan ganda putra Indonesia Juara Dunia 2013 dan 2015, Moh. Ahsan dan Hendra Setiawan. Meski Hendra hanya berstatus pemain magang, namun setidaknya pasangan ini akan menjadi pendukung pasangan utama kita, Marcus-Kevin karena sektor ganda putra kita masih belum punya pasangan pelapis yang stabil.

Selain itu juga, saya pribadi sangat berharap kepada PBSI agar memberikan kesempatan yang lebih kepada para pemain junior. Pemain junior Indonesia tidak sedikit yang bersinar di level junior, tapi melempem di senior. Kalau kata salah satu pelatih nasional, mereka kelamaan di"peram".  Berbeda dengan pemain junior di negara lain yang selain bersinar di junior juga cemerlang saat bertarung di tingkat senior karena sering diberikan kesempatan bermain di kejuaraan-kejuaraan yang bergengsi.

Satu harapan lagi, agar Marcus dan Kevin bisa dapat gelar di Kejuaraan Dunia atau Asian Games. Pasangan ini sering terlihat "gugup" jika bermain di level ini. Saatnya mereka buktikan kalau mereka bukan hanya jago di tingkat Super Series.

Semangat terus Bulutangkis Indonesia, teruslah beri kami prestasi yang membanggakan.

11.5.17

Baca dong sebelum klik LIKE!

Dari judulnya, kelihatan bijaksana banget, hehe. Tetapi, apa pun itu, mungkin ini adalah tips dari saya ber-internet ria.
Setelah beberapa tahun bermedsos, ada perubahan tren yang saya amati terutama saya sendiri. Kalau awal-awal, FB saya pakai buat "curhat" dan eksis serta mencari teman sekolah, sekarang lebih untuk mencermati perkembangan saja. Status-status saya sekarang hanya untuk laman kantor dan berita-berita bermanfaat. Sementara twitter, yang dulunya juga buat curhat, sekarang lebih untuk baca berita dan mengikuti skor pertandingan bulutangkis secara langsung, hehe. Status saya pun lebih banyak tentang bulutangkis.
Medsos lain yang sekarang aktif dan lagi heboh2nya adalah instagram. Saya gunakan instagram buat majang foto dan update berita, drama dan bulutangkis.
Mencermati perkembangan terbaru, banyak sekali berita bohong a.k.a hoax yang menyebar di medsos juga di aplikasi pesan. Salah banyak penyebab mudahnya tersebar hoax adalah kurangnya budaya baca dan telaah. Kadang hanya lewat membaca judul saja, tanpa pernah membuka tulisan di dalamnya.
Ini membuat saya sekarang lebih berhati-hati. Berita-berita yang beredar di internet bisa apa aja dan batas kebenaran serta kebohongan bisa saja teramat tipis. Tanpa pengetahuan dan kemauan mencari tahu jika memang tidak tahu bisa membawa kita  menjadi korban hoax atau bahkan jadi agen hoax.

10.3.17

Badominton to Watashi: my Badminton diary

Maret 5 tahun yang lalu di dalam sebuah pelatihan menulisnya Tere Liye, saya pernah bertanya kepada beliau, bagaimana dengan blogger yang menulis buku. Bang Tere liye menjawab kalau (penulis blog) itu bagus bahkan menganjurkan agar membukukan blog kita.
Tekad makin membara untuk membukukan blog setelah penutupan multiply-blog paling asyik karena komunitasnya pada Maret 2013. Tulisan-tulisan di sana terancam hilang, migrasi post masih bisa dilakukan. Tapi saya berpikir alangkah lebih baik kalau dibukukan saja. Dengan 2 blog yang aktif, blogpost dan multiply, saya menganggap kalau itu bisa jadi bahan buku solo pertama saya.
Apa hendak di kata, kesibukan membuat saya tidak sempat-sempat untuk mewujudkan keinginan itu. Tugas-tugas kantor membuat saya agak menjauh dari menulis dan ngeblog, harapan membuat buku pun semakin memudar.
Sebenarnya ada satu ganjalan besar, tema buku. Maunya sih membuat buku motivasi, eh isi blog kebanyakan cerita tak terlalu penting dan curhat ga jelas. Terlalu random, acak dan tak beraturan. Bisa membuat pembaca bukannya termotivasi tapi mungkin malah mengernyitkan dahi dan senyum kecut. Hingga di tahun 2015, Aha! moment terjadi-sebuah pencerahan (qeqe). Saya yang sudah suka bulutangkis (suka nonton dan komen lebih tepatnya), ternyata sudah lama juga menuliskan berbagai momen bulutangkis ke dalam blog. Pas sudah, saya blogger yang suka bulutangkis kenapa ga bikin buku tentang bulutangkis saja. (why not??!!).
Meski jika dihitung-hitung jumlah postingan bulutangkis belum seberapa, saya bertekad bulat. Momen Olimpiade Rio 2016 jadi patokan, bukunya kalau bisa udah ada di 2016.
Mulailah saya mencicil tulisan, setiap selesai turnamen sebisanya saya posting di blog yang baru, pianochenk.wordpress.com-blog pengganti multiply. Ngeblog yang dulunya sangat bergantung mood, saya upayakan agar berubah. Musti, kudu, harus nulis tiap ada turnamen/kejuaraan besar.
Fokus saya di kejuaraan level Super Series atau yang setara. Atau setiap ada pebulutangkis Indonesia yang menang. Kalau di kejuaraan besar dan Indonesia tidak dapat gelar, maka tidak saya tuliskan. Kenapa? Karena sakit banget rasanya (hahaha, BL baperan ini mah).
Bentuk buku mulai terlihat di pertengahan 2016. Sayang target sebelum Olimpiade Rio tidak tercapai. Alhamdulillah-nya, Indonesia dapat medali emas di Rio. Perasaan kecewa di 2012 terobati di 2016. Momen ini saya kekalkan ke dalam konsep buku, keterpurukan Bulutangkis Indonesia di 2012 menuju kebangkitan di 2016.
Bahan dan konsep buku akhirnya tuntas di awal Januari ini. Saya minta teman penulis ( Hairi Yanty) yg juga BL untuk "menilai"nya sedikit. Syukur dapat penilaian yang lumayan, bukunya layak baca walau ga wah-wah amat, hehe.
Akhir Januari saya masukkan ke penerbit indie, leutika prio. Penerbit yang sudah pernah berkerjasama menerbitkan buku teman saya, Labuhan-Tiara Rumaysha. Leutika Prio sengaja saya pilih karena saya puas dan yakin dengan kualitas terbitan mereka.
Akhir Februari bukunya sudah terbit di Leutika Prio, dan awal Maret ini sudah sampai ke tangan saya.
Badominton to Watashi: My Badminton Diary adalah buku solo pertama saya, buku yang lahir dari tulisan-tulisan tentang bulutangkis (Indonesia) di blog saya.

*Badominton to Watashi artinya Bulutangkis dan Saya

16.9.16

The Chronicles of Ahsan and Hendra

Saya menulis ini sebagai penggemar. Ya, I’m a fan of Moh. Ahsan and Hendra Setiawan as a pair.
Ahsan dan Hendra mungkin ibarat pengingat bangkitnya Bulutangkis Indonesia. Setelah kegagalan di Olimpiade 2012 dan skandal memalukan Ganda Putri, hadirnya mereka bak oase di tengah kemarau berkepanjangan. Di saat Taufik berada di ujung masa jayanya, Tontowi dan Liliyana yang berada di peringkat 2 dunia tapi tak mampu berbicara di Olimpiade, di waktu banyak yang memandang sebelah mata ke Bulutangkis Indonesia, mereka adalah jawaban banyak pertanyaan tentang prestasi Indonesia.
Perpaduan dua ganda putra terbaik Indonesia, Hendra Setiawan-Markis Kido dan Bona Septano-Moh. Ahsan melahirkan pasangan ini. Hendra yang telah keluar dari Pelatnas memutuskan untuk kembali demi mencari tantangan dan pengalaman baru serta memuaskan ambisinya yang belum kesampaian, mejadi Juara All England. Sementara Ahsan, semenjak partnernya keluar dari Pelatnas, pelatih Hery IP. berusaha mencarikan pasangan baru yang cocok. Rupanya pilihan pasangan barunya adalah Hendra Setiawan, sang Juara Dunia 2007 dan Juara Olimpiade 2008. Mereka bukan baru pertama