25.12.15

Cuka Apel, si Banyak Guna

Sudah kira-kira dua tahun belakangan, saya menjadi pemakai cuka apel. Awal-awal sih buat sakit Maag, tapi kemudian dipakai buat
bagian tubuh luar saja.

Buat apa saja? Berikut daftarnya,

1. Toner atau penyegar. Campur cuka apel dengan air (kemasan), taruh di dalam wadah (saya pakai wadah plastik bekas kolonye semprot). Rasionya sih suka-suka, tapi kalo muka kering lebih bagus ga terlalu pekat, mungkin 1:4.

2. Kondisioner. Campuran cuka apel tadi bisa juga dijadiin kondisioner sehabis memakai shampo. Mau disemprot langsung ke rambut, atau dicampur ke air (hangat) dulu baru dibilas ke rambut. Diamkan sebentar biar meresap, lalu bilas berulang ulang (sebab baunya lumayan menyengat).

3. Obat kutu air. Beberapa minggu lalu, kaki saya kena kutu air. Tidak terlalu parah, tapi lumayan mengganggu karena terasa gatal. Saya biasa mengoleskan kapas yang telah
disemprot larutan cuka apel, ke sela-sela kaki yang kena kutu air sebelum tidur. Alhamdulilah, gatal dan merahnya jadi cepat hilang.

Cuka apel yang saya pakai mereknya La Tamba dan Tahesta. Bagi yang mau mencoba silakan,
tapi ingat dites dulu sebelum dipakai, untuk
menguji ada alergi atau ketidakcocokan.

7.10.15

Wahyu-Ade, si Juara Thailand GPG 2015 yang sering tak dianggap

Wahyu Nayaka dan Ade Yusuf menjadi penyelamat muka Indonesia Minggu sore yang lalu. Maju ke babak final Kejuaraan Thailand Open Grand Prix Gold 2015 di tiga nomor, Indonesia hanya mampu membawa 1 gelar ganda putra lewat Wahyu-Ade. Dua finalis lain, Praveen Jordan-Debby Susanto dan Ihsan Maulana M harus mengakui keunggulan lawan-lawan mereka.
Nama Wahyu-Ade sebenarnya bukan nama baru di jajaran ganda putra pelatnas kita. Hanya saja pamor mereka kalah dari pasangan sepantaran, Angga Pratama-Ricky Karanda dan junior mereka Kevin Sanjaya-Marcus Gideon yang bulan Juni lalu ikut dalam tim SEA GAMES 2015. Padahal mereka bukannya tanpa gelar karena mereka sudah pernah merebut juara ganda putra di Dutch Grand Prix 2013 dan Iran International Challenge 2013. Hanya saja setelah itu, prestasi mereka menurun dan hanya menjadi penghias di berbagai turnamen yg diikuti.
Di tahun 2015, rupanya terjadi perubahan yang cukup signifikan. Pasangan ini mulai bisa bersaing dengan ganda putra kuat dunia, dan tidak kerap terhenti di babak-babak awal. Dan yang terakhir, di Thailand GPG 2015, mereka berhasil menjadi juara setelah mengalahkan mantan ganda no.1 asal Malaysia, Tan Beon Hoong-Koo Kien Kiet dalam 3 game yang ketak, 19-21 23-21 21-16. Mengandalkan serangan, drive dan permainan depan yang cepat, Wahyu dan Ade tampil dengan energi dan kekompakkan yang lebih dari pasangan mantan juara Asian Games 2006.
Walaupun mejadi juara ganda putra bagi Indonesia bukanlah hal yang mengejutkan sebab sebelumnya di semifinal ada 3 pasangan Indonesia. Namun ganda Malaysia, TBH-KKK tidak bisa dianggap enteng. Dengan pengalaman dan strategi yang mumpuni, terbukti mereka mampu mengandaskan ganda andalan kita, Angga Pratama-Ricky Karanda, juara Singapore Super Series 2015. Alhamdulillahnya, Wahyu-Ade mampu mengalahkan mereka di final.
Dengan kemenangan ini, Wahyu-Ade akan terus digenjot agar bisa terus berprestasi di berbagai turnamen sisa tahun ini. Semoga bisa nambah gelar ya, aamiin.

20.9.15

Jakarta berkabut siang itu

Setahun lebih sudah terakhir saya menginjakkan kaki di Jakarta. Kota yg pernah membersamai saya selama 3 tahun. Kota yang mungkin dicintai banyak orang. Sayangnya saya tidak terlalu.
Jakarta siang itu berkabut tipis. Sebelum pesawat yang saya tumpangi mendarat, setumpuk tipis kabut nampak menyelimuti Jakarta.
Datang ke Jakarta dengan alasan yang sama seperti kedatangan saya, buat belajar sejenak agar otak kami tak selalu disemuti rutinitas yang sama hari ke hari. Agar wawasan kami bertambah luas lagi.
Bertemu kawan lama hanyalah bonus kecil. Ada kawan yang sudah bertahun-tahun tak bersua, ada yang seringnya via Whatsapp saja, ada juga yang hanya bisa lewat SMS dan telepon.
Waktu belajar hampir usai, waktu yang diharapkan pun kan datang. Waktu kembali ke kampung. Bertemu kembali dengan mereka yang selalu dirindu.

18.5.15

Piala Sudirman 2015, Dongguan-Cina


Minggu lalu adalah minggu yang sangat "panas" bagi bulutangkis Indonesia sebab ada gelaran Kejuaran Beregu Campuran Dunia dengan piala yang sangat terkenal, Piala Sudirman. Digelar dari tanggal 10 Mei hingga Final di hari Minggu kemarin, 17 Mei 2015, Indonesia berhasil menyabet perunggu setelah terhenti di semifinal hari Sabtu, 16 Mei 2015. Beranggotakan pemain senior seperti Hendra Setiawan, Greysia Polii, M. Ahsan, dan Liliyana Natsir, dan pemain junior seperti Jonatan Christie, Firman Abdul Khalik, dan Hana Ramadhini, capaian Indonesia kali ini lebih baik dari dua tahun lalu yang hanya sampai perempat final.

Menjadi juara di penyisihan grup C, di antara Inggris dan Denmark, perjalanan Indonesia tergolong lancar di perempat final. Berhadapan dengan Taiwan, Indonesia menang dengan skor 3-1, dan satu kemenangan disumbangkan oleh partai tunggal putra yang awalnya tidak terlalu diunggulkan.  Sayang, final yang terlalu dini harus terjadi di semifinal saat hasil undian semifinal Piala Sudirman memastikan Indonesia bertemu dengan Cina.

Pada babak semifinal tersebut, Indonesia harus mengakui keunggulan Cina dengan skor 1-3, dengan hanya kemenangan di nomor ganda putra M. Ahsan - Hendra. S vs Cai Yun - Fu Haifeng dalam skor 21-16 21-17. Tunggal putra yang diwakili oleh Jonatan Christie masih kalah kelas dengan Lin Dan, sementara Bellaetrix Manuputty mengalami cedera dan harus mundur saat set pertama melawan Li Xuerui. Greysia Polii- Nitya Krishinda M.15-21 yang melawan Yu Yang- Tang Yuanting sempat bermain ketat dalam tiga set tapi akhirnya kalah, 21-17 17-21. Cina pun menjadi juara setelah mengandaskan Jepang di babak Final dengan skor 3-0. 

Piala Sudirman tahun ini mencatatkan sejarah bagi Jepang yang mampu menembus semifinal dan final untuk pertama kalinya, setelah tahun lalu juga meraih Piala Thomas dan maju ke final Piala Uber.

Piala Sudirman tahun 2017 akan digelar di Gold Coast, Australia, dan semoga akan kembali ke tangan Indonesia dan akan ada stasiun TV nasional yang menyiarkan. Aamiin.


8.5.15

Ketika 3x4 tidak sama dengan 12

Ketidakstabilan ekonomi akhir-akhir ini sangat berdampak besar bagi kelas menengah bagian dasar seperti saya. Contoh paling nyata adalah kondisi di dapur kami. Harga bahan bakar buat masak, yakni gas elpiji, telah beberapa kali mengalami perubahan (aka kenaikan) hingga ke kisaran harga yang mulai ajaib. Ajaib karena kini telah jauh dari harga 4 tabung gas 3 kg.
Di pengecer kecil, harga gas 3 kg itu 20 ribu rupiah. Nah, sedang harga gas 12 kg sekarang sudah 160-an ribu rupiah. 4 tabung gas 3 kg itu 80rb, yg sama dng isi gas 12 kg, tapi harganya tidak sama :-/
Dari berita di koran dan tv, dikatakan kalau gas 3 kg masih dalam subsidi pemerintah, sementara yang 12 kg sudah tidak. Namun, ada rencana kalau gas 3 kg juga akan dilepas dari subsidi dan harganya mengikuti pasar. Rencana yang pasti akan membawa dampak besar bagi rakyat kecil yang sangat bergantung dengan bahan bakar ini setelah "dipaksa" beralih dari minyak tanah di masa pemerintahan lalu. 
Berdoa dan berusaha, tidak ada yang lain. Masa yang sulit pasti akan terlewati (optimism mode on).