11.5.17

Baca dong sebelum klik LIKE!

Dari judulnya, kelihatan bijaksana banget, hehe. Tetapi, apa pun itu, mungkin ini adalah tips dari saya ber-internet ria.
Setelah beberapa tahun bermedsos, ada perubahan tren yang saya amati terutama saya sendiri. Kalau awal-awal, FB saya pakai buat "curhat" dan eksis serta mencari teman sekolah, sekarang lebih untuk mencermati perkembangan saja. Status-status saya sekarang hanya untuk laman kantor dan berita-berita bermanfaat. Sementara twitter, yang dulunya juga buat curhat, sekarang lebih untuk baca berita dan mengikuti skor pertandingan bulutangkis secara langsung, hehe. Status saya pun lebih banyak tentang bulutangkis.
Medsos lain yang sekarang aktif dan lagi heboh2nya adalah instagram. Saya gunakan instagram buat majang foto dan update berita, drama dan bulutangkis.
Mencermati perkembangan terbaru, banyak sekali berita bohong a.k.a hoax yang menyebar di medsos juga di aplikasi pesan. Salah banyak penyebab mudahnya tersebar hoax adalah kurangnya budaya baca dan telaah. Kadang hanya lewat membaca judul saja, tanpa pernah membuka tulisan di dalamnya.
Ini membuat saya sekarang lebih berhati-hati. Berita-berita yang beredar di internet bisa apa aja dan batas kebenaran serta kebohongan bisa saja teramat tipis. Tanpa pengetahuan dan kemauan mencari tahu jika memang tidak tahu bisa membawa kita  menjadi korban hoax atau bahkan jadi agen hoax.

10.3.17

Badominton to Watashi: my Badminton diary

Maret 5 tahun yang lalu di dalam sebuah pelatihan menulisnya Tere Liye, saya pernah bertanya kepada beliau, bagaimana dengan blogger yang menulis buku. Bang Tere liye menjawab kalau (penulis blog) itu bagus bahkan menganjurkan agar membukukan blog kita.
Tekad makin membara untuk membukukan blog setelah penutupan multiply-blog paling asyik karena komunitasnya pada Maret 2013. Tulisan-tulisan di sana terancam hilang, migrasi post masih bisa dilakukan. Tapi saya berpikir alangkah lebih baik kalau dibukukan saja. Dengan 2 blog yang aktif, blogpost dan multiply, saya menganggap kalau itu bisa jadi bahan buku solo pertama saya.
Apa hendak di kata, kesibukan membuat saya tidak sempat-sempat untuk mewujudkan keinginan itu. Tugas-tugas kantor membuat saya agak menjauh dari menulis dan ngeblog, harapan membuat buku pun semakin memudar.
Sebenarnya ada satu ganjalan besar, tema buku. Maunya sih membuat buku motivasi, eh isi blog kebanyakan cerita tak terlalu penting dan curhat ga jelas. Terlalu random, acak dan tak beraturan. Bisa membuat pembaca bukannya termotivasi tapi mungkin malah mengernyitkan dahi dan senyum kecut. Hingga di tahun 2015, Aha! moment terjadi-sebuah pencerahan (qeqe). Saya yang sudah suka bulutangkis (suka nonton dan komen lebih tepatnya), ternyata sudah lama juga menuliskan berbagai momen bulutangkis ke dalam blog. Pas sudah, saya blogger yang suka bulutangkis kenapa ga bikin buku tentang bulutangkis saja. (why not??!!).
Meski jika dihitung-hitung jumlah postingan bulutangkis belum seberapa, saya bertekad bulat. Momen Olimpiade Rio 2016 jadi patokan, bukunya kalau bisa udah ada di 2016.
Mulailah saya mencicil tulisan, setiap selesai turnamen sebisanya saya posting di blog yang baru, pianochenk.wordpress.com-blog pengganti multiply. Ngeblog yang dulunya sangat bergantung mood, saya upayakan agar berubah. Musti, kudu, harus nulis tiap ada turnamen/kejuaraan besar.
Fokus saya di kejuaraan level Super Series atau yang setara. Atau setiap ada pebulutangkis Indonesia yang menang. Kalau di kejuaraan besar dan Indonesia tidak dapat gelar, maka tidak saya tuliskan. Kenapa? Karena sakit banget rasanya (hahaha, BL baperan ini mah).
Bentuk buku mulai terlihat di pertengahan 2016. Sayang target sebelum Olimpiade Rio tidak tercapai. Alhamdulillah-nya, Indonesia dapat medali emas di Rio. Perasaan kecewa di 2012 terobati di 2016. Momen ini saya kekalkan ke dalam konsep buku, keterpurukan Bulutangkis Indonesia di 2012 menuju kebangkitan di 2016.
Bahan dan konsep buku akhirnya tuntas di awal Januari ini. Saya minta teman penulis ( Hairi Yanty) yg juga BL untuk "menilai"nya sedikit. Syukur dapat penilaian yang lumayan, bukunya layak baca walau ga wah-wah amat, hehe.
Akhir Januari saya masukkan ke penerbit indie, leutika prio. Penerbit yang sudah pernah berkerjasama menerbitkan buku teman saya, Labuhan-Tiara Rumaysha. Leutika Prio sengaja saya pilih karena saya puas dan yakin dengan kualitas terbitan mereka.
Akhir Februari bukunya sudah terbit di Leutika Prio, dan awal Maret ini sudah sampai ke tangan saya.
Badominton to Watashi: My Badminton Diary adalah buku solo pertama saya, buku yang lahir dari tulisan-tulisan tentang bulutangkis (Indonesia) di blog saya.

*Badominton to Watashi artinya Bulutangkis dan Saya

16.9.16

The Chronicles of Ahsan and Hendra

Saya menulis ini sebagai penggemar. Ya, I’m a fan of Moh. Ahsan and Hendra Setiawan as a pair.
Ahsan dan Hendra mungkin ibarat pengingat bangkitnya Bulutangkis Indonesia. Setelah kegagalan di Olimpiade 2012 dan skandal memalukan Ganda Putri, hadirnya mereka bak oase di tengah kemarau berkepanjangan. Di saat Taufik berada di ujung masa jayanya, Tontowi dan Liliyana yang berada di peringkat 2 dunia tapi tak mampu berbicara di Olimpiade, di waktu banyak yang memandang sebelah mata ke Bulutangkis Indonesia, mereka adalah jawaban banyak pertanyaan tentang prestasi Indonesia.
Perpaduan dua ganda putra terbaik Indonesia, Hendra Setiawan-Markis Kido dan Bona Septano-Moh. Ahsan melahirkan pasangan ini. Hendra yang telah keluar dari Pelatnas memutuskan untuk kembali demi mencari tantangan dan pengalaman baru serta memuaskan ambisinya yang belum kesampaian, mejadi Juara All England. Sementara Ahsan, semenjak partnernya keluar dari Pelatnas, pelatih Hery IP. berusaha mencarikan pasangan baru yang cocok. Rupanya pilihan pasangan barunya adalah Hendra Setiawan, sang Juara Dunia 2007 dan Juara Olimpiade 2008. Mereka bukan baru pertama

25.12.15

Cuka Apel, si Banyak Guna

Sudah kira-kira dua tahun belakangan, saya menjadi pemakai cuka apel. Awal-awal sih buat sakit Maag, tapi kemudian dipakai buat bagian tubuh luar saja.

Buat apa saja? Berikut daftarnya,

1. Toner atau penyegar. Campur cuka apel dengan air (kemasan), taruh di dalam wadah (saya pakai wadah plastik bekas kolonye semprot). Rasionya sih suka-suka, tapi kalo muka kering lebih bagus ga terlalu pekat, mungkin 1:4.

2. Kondisioner. Campuran cuka apel tadi bisa juga dijadiin kondisioner sehabis memakai shampo. Mau disemprot langsung ke rambut, atau dicampur ke air (hangat) dulu baru dibilas ke rambut. Diamkan sebentar biar meresap, lalu bilas berulang ulang (sebab baunya lumayan menyengat).

3. Obat kutu air. Beberapa minggu lalu, kaki saya kena kutu air. Tidak terlalu parah, tapi lumayan mengganggu karena terasa gatal. Saya biasa mengoleskan kapas yang telah disemprot larutan cuka apel, ke sela-sela kaki yang kena kutu air sebelum tidur. Alhamdulilah, gatal dan merahnya jadi cepat hilang.

Cuka apel yang saya pakai mereknya La Tamba dan Tahesta. Bagi yang mau mencoba silakan, tapi ingat dites dulu sebelum dipakai, untuk menguji ada alergi atau ketidakcocokan.