16.9.16

The Chronicles of Ahsan and Hendra

Saya menulis ini sebagai penggemar. Ya, I’m a fan of Moh. Ahsan and Hendra Setiawan as a pair.
Ahsan dan Hendra mungkin ibarat pengingat bangkitnya Bulutangkis Indonesia. Setelah kegagalan di Olimpiade 2012 dan skandal memalukan Ganda Putri, hadirnya mereka bak oase di tengah kemarau berkepanjangan. Di saat Taufik berada di ujung masa jayanya, Tontowi dan Liliyana yang berada di peringkat 2 dunia tapi tak mampu berbicara di Olimpiade, di waktu banyak yang memandang sebelah mata ke Bulutangkis Indonesia, mereka adalah jawaban banyak pertanyaan tentang prestasi Indonesia.
Perpaduan dua ganda putra terbaik Indonesia, Hendra Setiawan-Markis Kido dan Bona Septano-Moh. Ahsan melahirkan pasangan ini. Hendra yang telah keluar dari Pelatnas memutuskan untuk kembali demi mencari tantangan dan pengalaman baru serta memuaskan ambisinya yang belum kesampaian, mejadi Juara All England. Sementara Ahsan, semenjak partnernya keluar dari Pelatnas, pelatih Hery IP. berusaha mencarikan pasangan baru yang cocok. Rupanya pilihan pasangan barunya adalah Hendra Setiawan, sang Juara Dunia 2007 dan Juara Olimpiade 2008. Mereka bukan baru pertama berpasangan di kejuaraan BWF. Sebelumnya di Piala Sudirman 2009, Ahsan-Hendra turun di partai terakhir di babak semifinal melawan Korea Selatan. Sayang mereka kalah dua gim langsung dan menutup jalan Indonesia di kejuaraan itu.
Setelah resmi berpasangan, banyak yang menyangsikan performa keduanya. Hendra dianggap tak sesakti dulu. Ahsan, yang selama berpasangan dengan Bona, tak sekalipun sukses di turnamen Super Series. Namun di turnamen pertama, keduanya langsung menggebrak, Turun di Denmark Terbuka Super Series, Oktober 2012, mereka mampu melaju hingga semifinal.
Hasil lebih mencengangkan ditunjukkan di 2013. Maju ke 7 final dan memenangkan 6 gelar, hanya kalah di Australia Grand Prix Gold dari juniornya, Angga Pratama-Rian Agung. Termasuk di antara 6 gelar itu adalah Juara Dunia 2013 di Guangzhou, China dan Super Series Finals 2013.
Sementara di 2014, mereka mengalami penurunan di jumlah gelar yang diraih namun peningkatan dari segi turnamen. Menang di kejuaraan bulutangkis paling bergengsi dan tertua di dunia, All England Super Series Premier serta Emas Ganda Putra di ajang multi cabang dan antar bangsa di Asia, Asian Games. Satu gelar Super Series yang lain adalah Hongkong Terbuka 2014. Di tahun ini pula, tercatat mereka beberapa kali gagal mempertahankan gelar, Indonesia Terbuka dan Jepang Terbuka. Keduanya dari Lee Yong Dae dan Yoo Yoon Seong. Yang menyedihkan, mereka tak bisa tampil di Kejuaraan Dunia akibat kambuhnya cidera Moh. Ahsan. Serta tak maksimalnya performa mereka di Super Series Finals di Dubai akibat Ahsan yang masih cidera.
2015 hampir mirip dengan 2014, gagal di beberapa Super Series. Mereka hanya berhasil merebut kembali gelar Malaysia Terbuka Super Series Premier (lagi-lagi berhadapan dengan Lee Yong Dae-Yoo Yoon Seong). Menurunnya Ahsan-Hendra berujung pada isu perceraian pasangan ini. Isu yang kemudian berhenti setelah mereka menjadi Juara Dunia (lagi) di Jakarta dan kemudian Juara Ganda Putra di BWF Super Series Finals di Dubai.
Memasuki 2016, mereka memulai dengan menjadi juara di Thailand Grand Prix Gold 2016. Sayang, setelahnya selalu hasil buruk yang mereka dapat, bahkan di babak-babak awal kejuaraan Super Series mereka sudah tersingkir. Walau penampilan mereka di Piala Thomas 2016 lumayan bagus bahkan mengantarkan Indonesia menjadi Juara Kedua, setelahnya hampir belum ada gelar yang direngkuh keduanya lagi. Puncaknya, di Olimpiade Rio di Brazil. Mereka tersingkir di babak penyisihan karena hanya mampu mengumpulkan 1 kemenangan dari tiga kali penampilan di grup.
Kini setelah pulang dari Rio, mereka tetap akan tampil di beberapa sisa turnamen Super Series. Bedanya, di 2 turnamen di Eropa, mereka akan dipecah. Masih belum jelas apakah perpisahan ini akan permanen atau sementara, mungkin tergantung hasil yang mereka catatkan di turnamen-turnamen tersebut.
Kalaupun sekiranya mereka akan dipisah (hikss….hikssss…), saya akan selalu ingat dengan pasangan ini, pasangan Ganda Putra terbaik bagi saya (walau tanpa emas Olimpiade). Hendra, pemain depan paling berbahaya yang pendiam dan sangat tenang di lapangan, dan Ahsan yang meledak-ledak dengan smash-nya yang menggelegar. Tapi sebelum mereka betul-betul berpisah, saya masih ingin melihat mereka di turnamen besar terakhir bersama. Mungkin Sudirman dan Kejuaraan Dunia tahun depan, atau Piala Thomas. Bersama piala juara di tangan.
*sumber gambar: jawapos.com

25.12.15

Cuka Apel, si Banyak Guna

Sudah kira-kira dua tahun belakangan, saya menjadi pemakai cuka apel. Awal-awal sih buat sakit Maag, tapi kemudian dipakai buat
bagian tubuh luar saja.

Buat apa saja? Berikut daftarnya,

1. Toner atau penyegar. Campur cuka apel dengan air (kemasan), taruh di dalam wadah (saya pakai wadah plastik bekas kolonye semprot). Rasionya sih suka-suka, tapi kalo muka kering lebih bagus ga terlalu pekat, mungkin 1:4.

2. Kondisioner. Campuran cuka apel tadi bisa juga dijadiin kondisioner sehabis memakai shampo. Mau disemprot langsung ke rambut, atau dicampur ke air (hangat) dulu baru dibilas ke rambut. Diamkan sebentar biar meresap, lalu bilas berulang ulang (sebab baunya lumayan menyengat).

3. Obat kutu air. Beberapa minggu lalu, kaki saya kena kutu air. Tidak terlalu parah, tapi lumayan mengganggu karena terasa gatal. Saya biasa mengoleskan kapas yang telah
disemprot larutan cuka apel, ke sela-sela kaki yang kena kutu air sebelum tidur. Alhamdulilah, gatal dan merahnya jadi cepat hilang.

Cuka apel yang saya pakai mereknya La Tamba dan Tahesta. Bagi yang mau mencoba silakan,
tapi ingat dites dulu sebelum dipakai, untuk
menguji ada alergi atau ketidakcocokan.

7.10.15

Wahyu-Ade, si Juara Thailand GPG 2015 yang sering tak dianggap

Wahyu Nayaka dan Ade Yusuf menjadi penyelamat muka Indonesia Minggu sore yang lalu. Maju ke babak final Kejuaraan Thailand Open Grand Prix Gold 2015 di tiga nomor, Indonesia hanya mampu membawa 1 gelar ganda putra lewat Wahyu-Ade. Dua finalis lain, Praveen Jordan-Debby Susanto dan Ihsan Maulana M harus mengakui keunggulan lawan-lawan mereka.
Nama Wahyu-Ade sebenarnya bukan nama baru di jajaran ganda putra pelatnas kita. Hanya saja pamor mereka kalah dari pasangan sepantaran, Angga Pratama-Ricky Karanda dan junior mereka Kevin Sanjaya-Marcus Gideon yang bulan Juni lalu ikut dalam tim SEA GAMES 2015. Padahal mereka bukannya tanpa gelar karena mereka sudah pernah merebut juara ganda putra di Dutch Grand Prix 2013 dan Iran International Challenge 2013. Hanya saja setelah itu, prestasi mereka menurun dan hanya menjadi penghias di berbagai turnamen yg diikuti.
Di tahun 2015, rupanya terjadi perubahan yang cukup signifikan. Pasangan ini mulai bisa bersaing dengan ganda putra kuat dunia, dan tidak kerap terhenti di babak-babak awal. Dan yang terakhir, di Thailand GPG 2015, mereka berhasil menjadi juara setelah mengalahkan mantan ganda no.1 asal Malaysia, Tan Beon Hoong-Koo Kien Kiet dalam 3 game yang ketak, 19-21 23-21 21-16. Mengandalkan serangan, drive dan permainan depan yang cepat, Wahyu dan Ade tampil dengan energi dan kekompakkan yang lebih dari pasangan mantan juara Asian Games 2006.
Walaupun mejadi juara ganda putra bagi Indonesia bukanlah hal yang mengejutkan sebab sebelumnya di semifinal ada 3 pasangan Indonesia. Namun ganda Malaysia, TBH-KKK tidak bisa dianggap enteng. Dengan pengalaman dan strategi yang mumpuni, terbukti mereka mampu mengandaskan ganda andalan kita, Angga Pratama-Ricky Karanda, juara Singapore Super Series 2015. Alhamdulillahnya, Wahyu-Ade mampu mengalahkan mereka di final.
Dengan kemenangan ini, Wahyu-Ade akan terus digenjot agar bisa terus berprestasi di berbagai turnamen sisa tahun ini. Semoga bisa nambah gelar ya, aamiin.

20.9.15

Jakarta berkabut siang itu

Setahun lebih sudah terakhir saya menginjakkan kaki di Jakarta. Kota yg pernah membersamai saya selama 3 tahun. Kota yang mungkin dicintai banyak orang. Sayangnya saya tidak terlalu.
Jakarta siang itu berkabut tipis. Sebelum pesawat yang saya tumpangi mendarat, setumpuk tipis kabut nampak menyelimuti Jakarta.
Datang ke Jakarta dengan alasan yang sama seperti kedatangan saya, buat belajar sejenak agar otak kami tak selalu disemuti rutinitas yang sama hari ke hari. Agar wawasan kami bertambah luas lagi.
Bertemu kawan lama hanyalah bonus kecil. Ada kawan yang sudah bertahun-tahun tak bersua, ada yang seringnya via Whatsapp saja, ada juga yang hanya bisa lewat SMS dan telepon.
Waktu belajar hampir usai, waktu yang diharapkan pun kan datang. Waktu kembali ke kampung. Bertemu kembali dengan mereka yang selalu dirindu.

18.5.15

Piala Sudirman 2015, Dongguan-Cina


Minggu lalu adalah minggu yang sangat "panas" bagi bulutangkis Indonesia sebab ada gelaran Kejuaran Beregu Campuran Dunia dengan piala yang sangat terkenal, Piala Sudirman. Digelar dari tanggal 10 Mei hingga Final di hari Minggu kemarin, 17 Mei 2015, Indonesia berhasil menyabet perunggu setelah terhenti di semifinal hari Sabtu, 16 Mei 2015. Beranggotakan pemain senior seperti Hendra Setiawan, Greysia Polii, M. Ahsan, dan Liliyana Natsir, dan pemain junior seperti Jonatan Christie, Firman Abdul Khalik, dan Hana Ramadhini, capaian Indonesia kali ini lebih baik dari dua tahun lalu yang hanya sampai perempat final.

Menjadi juara di penyisihan grup C, di antara Inggris dan Denmark, perjalanan Indonesia tergolong lancar di perempat final. Berhadapan dengan Taiwan, Indonesia menang dengan skor 3-1, dan satu kemenangan disumbangkan oleh partai tunggal putra yang awalnya tidak terlalu diunggulkan.  Sayang, final yang terlalu dini harus terjadi di semifinal saat hasil undian semifinal Piala Sudirman memastikan Indonesia bertemu dengan Cina.

Pada babak semifinal tersebut, Indonesia harus mengakui keunggulan Cina dengan skor 1-3, dengan hanya kemenangan di nomor ganda putra M. Ahsan - Hendra. S vs Cai Yun - Fu Haifeng dalam skor 21-16 21-17. Tunggal putra yang diwakili oleh Jonatan Christie masih kalah kelas dengan Lin Dan, sementara Bellaetrix Manuputty mengalami cedera dan harus mundur saat set pertama melawan Li Xuerui. Greysia Polii- Nitya Krishinda M.15-21 yang melawan Yu Yang- Tang Yuanting sempat bermain ketat dalam tiga set tapi akhirnya kalah, 21-17 17-21. Cina pun menjadi juara setelah mengandaskan Jepang di babak Final dengan skor 3-0. 

Piala Sudirman tahun ini mencatatkan sejarah bagi Jepang yang mampu menembus semifinal dan final untuk pertama kalinya, setelah tahun lalu juga meraih Piala Thomas dan maju ke final Piala Uber.

Piala Sudirman tahun 2017 akan digelar di Gold Coast, Australia, dan semoga akan kembali ke tangan Indonesia dan akan ada stasiun TV nasional yang menyiarkan. Aamiin.