8.11.08

Drama itu akhirnya berakhir

Minggu lalu, dua drama yang telah berlangsung berbulan-bulan akhirnya menemui ujungnya juga. Pelaku utamanya, dua orang keturunan Afrika mencatatkan diri mereka ke dalam buku sejarah sebagai yang pertama.
Orang pertama, Lewis Hamilton. Pemuda Inggris ini akhirnya bisa meraih gelar Juara Dunia Formula One 2008 setelah tahun lalu gagal bersaing dengan Kimi Raikkonen, Ferrari. Tahun ini, dengan konsistensi dan kerjasama tim yang apik, Lewis membuktikan diri kalau dia bisa. Dengan pertarungan yang sengit di kejuaraan terakhir, di sirkuit Interlagos Brazil, senin dinihari (31/11), waktu Indonesia. Persaingan dua pembalap, Ferrari dengan Felipe Massa dan McLArren dengan Lewis Hemilton berlangsung hingga ke detik-detik akhir balapan. Hamilton yang sebenarnya hanya membutuhkan finish di urutan lima jika Massa menjadi juara, ternyata sempat dilambung oleh pembalap lain. Pihak Ferrari pun sudah mulai merasa menang saat Massa melampaui garis finish. Tapi, semua buyar saat Hamilton berhasill memperbaiki posisinya kembali ke urutan lima di akhir balapan, dan menggenapkan poinnya menjadi 98, satu poin lebih banyak dari Massa. Hamilton pun resmi memperoleh gelar Juara Dunia F-1, dengan capaian sebagai yang termuda dan kulit hitam pertama sepanjang sejarah.
Pelaku sejarah yang lain, Barrack Hussein Obama. Fenomenal, kata yang tepat untuk orang ini. Hanya dalam waktu dua tahun semenjak terpilih sebagai Senator Illinois, dia sudah bisa mencapai kursi Gedung Putih. Obama, dengan segala pesonanya berhasil menyihir publik Amerika dan bahkan dunia. Pertarungannya dengan senator McCain di pemilihan presiden Amerika, berlangsung dengan ketat. Setelah berbulan-bulan, akhirnya pada 5 November lalu, Obama terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat ke-44 dan keturunan Afrika-Amerika pertama.
Kedua orang tersebut membuktikan kepada kita bahwa di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, sebuah contoh bagi bangsa Indonesia yang kini sedang terpuruk. Jika kita mau berusaha, semaksimal mungkin, apapun yang kita inginkan pasti dapat kita capai.


2 komentar:

  1. wah... Pia postingan mu hebat. Pendapat mu benar sekali. Ga ada yang ga mungkin kalau kita mau berusha.walaupun tubuh rentan terhadap air dingin, kita juga bisa mandi pake air dingin 2x sehari kalau kita mau berusaha. Tul ga....? ^_^

    BalasHapus
  2. Banyak yang berharap 'perubahan' pada Barrack Obama, seperti halnya pernyataan Hidayat Nur Wahid ketua MPR yang berharap Barrack Obama mampu menghadirkan tata dunia baru yang tidak lagi berbasis pada hegemoni arogan Amerika Serikat (AS) yang selama ini dijalankan oleh pemerintahan Presiden George W Bush. “Saya berharap Obama juga melahirkan tata dunia baru yang lebih berkeadilan, termasuk dalam konteks Timur Tengah,” tegasnya. (Hnw.or.id, 7/11/2008). Akan tetapi harus diingat permasalahannya adalah sistem. AS adalah negara kapitalis sekuler yang terus berupaya untuk memperluas 'kekuasaannya' di bumi ini terutama terhadap negara-negara Islam. Walaupun partai Demokrat yang memenangkan pemilu tetap penjajahan itu berlangsung cuma tehnisnya lebih halus dibandingkan dengan partai Republik.Karena itu, AS di bawah Obama sekalipun, tetap akan mendukung penjajahan Israel atas Palestina, misalnya. Dalam kampanyenya sebelum menjadi presiden, Obama bahkan berkali-kali menegaskan dukungannya atas Israel, “Saya berjanji kepada Anda bahwa saya akan melakukan apapun yang saya bisa dalam kapasitas apapun untuk tidak hanya menjamin keamanan Israel tapi juga menjamin bahwa rakyat Israel bisa maju dan makmur dan mewujudkan banyak mimpi yang dibuat 60 tahun lalu,” demikian salah satu kutipan pidato Obama. Bagaimanapun ada 'kewajiban' bagi setiap presiden AS untuk 'melayani' Israel sebagai pemilik kapital di AS. Kalau misalnya Obama berusaha untuk melawan sistem tersebut nasibnya akan seperti Abraham Lincoln yang berusaha untuk menghapuskan perbudakan atau JFK yang kebijakannya terlalu moderat kepada musuh-musuh AS, yaitu terbunuh.

    BalasHapus

Silahkan berikan komentar anda atas isi blog saya ini. Kritik, saran yang membangun sangat diharapkan, namun harap sopan.