Langsung ke konten utama

Postingan

Untuk PLN yang Lebih Baik

Sekitar sebulan lalu, listrik di rumah bermasalah. Tegangannya tidak stabil. Kejadiannya sebenarnya telah berlangsung beberapa lama, dan mencapai puncaknya pada malam hari itu. Lampu kedap-kedap lalu mati total. Setelah mengecek meteran, tak ada satupun yang salah. Lampu tetangga juga baik-baik saja. Karena tak punya nomor telepon lokal pengaduan PLN (dalam keadaan gelap, otak menjadi tambah malas untuk mencari tahu), saya membiarkan saja keadaan tersebut. Terpaksa melalui malam itu dengan lilin dan lampu dari telepon genggam.        Keesokan paginya, lampu belum menyala juga. Kembali mengecek ke rumah tetangga, namun saja saja dengan semalam. Hanya rumah kami saja yang bermasalah. Akhirnya rutinitas pagi dilalui tanpa listrik sama sekali. Nasi kembali dihangatkan dengan dandang, dan telepon genggam tak sempat di- charge . Menunggu mengisi baterainya di kantor saja.        Kembali ke pengaduan, setelah bertanya ke beberapa teman, saya pun m...

Pandai Berbagai Bahasa, Pandai Bahasa Indonesia

Berapa bahasa yang anda kuasai? Dua, tiga, atau hanya satu? Saya sendiri hanya tahu bahasa Indonesia dan sedikit bahasa Inggris walau hanya sebagai pengguna pasif. Berbeda dengan saya, ibu saya adalah seorang multilingual. Ia secara aktif mampu berbahasa indonesia, Bajo dan Muna. Bahasa Bajo adalah bahasa ibu-nya, sedangkan bahasa Muna adalah bahasa yang dipakai di kota tempat besarnya dulu. Bahasa lain yang juga mampu dipakainya adalah bahasa Makassar, Bugis dan sedikit Jawa. Bahasa Jawa, karena beliau pernah beberapa tahun tinggal di Jogja mengikuti Bapak saya yang sekolah di sana. Sedangkan ayah saya hanya menguasai bahasa Muna dan Indonesia. Bahasa Muna adalah bahasa ibu bagi Ayah. Ibu dan ayah saya memang berasal dari Muna, sebuah pulau yang mayoritas penduduknya adalah suku Muna dan berbahasa Muna. Meski ada juga yang tidak, seperti keluarga ibu saya yang berbahasa Bajo. Punya orangtua yang multilingual seharusnya menjadi keuntungan besar bagi kami, anak-ana...

Saya Pilih Ubuntu!

Sekitar awal tahun lalu, saya sudah punya niat untuk membeli laptop sendiri. Setelah bertahun kerja dan selalu mengandalkan komputer kantor buat mengerjakan semua kepentingan dengannya, saya ingin mengubah keadaan ini. Saya lalu mengumpulkan sedikit demi sedikit uang honor demi sebuah laptop.  Setelah beberapa saat, uang akhirnya terkumpul.  Setelah bertanya kesana kemari merek laptop yang kira-kira murah tapi bagus, dan juga bantuan sahabat baik saya, Ami, yang kebetulan cerewet sekali kalau membahas hal-hal berhubungan dengan gadget. Kami pun lalu menunjuk sebuah merek. Pertama kali memilih laptop tersebut, abang penjualnya menawarkan memakai sistem operasi sejuta umat, sang Jendela. "Mau pake Win***s? Kalau mau, drivernya udah ada. Tinggal nambah aja sejuta.", kata si penjual tersebut. "Oh, tidak. Mau pakai linux saja. Ada gak?" "Waduh, ga ada linux di sini. Susah itu." Saya menolak, mau memakai linux saja.

Mereka dan Buku "Sedikit Tentangku dan Kendari"

Judul: Sedikit Tentangku dan Kendari Penyusun: Mudhalifana Haruddin & Ayu Aga Desain Cover: Ferdhy Muhammad Harga: 45.000 (diluar ongkir) Tebal: x + 166 halaman diterbitkan melalui nulisbuku Kontributor: Mudhalifana Haruddin, Chaerul Sabara, Atyra Sansa, Ely Widyawati, Desi Dian Yustisia, Hana Yusida Syarif, Tatik Bahar, Bramastyo Dhieka, Itsuki Nurmani, Raya Adawiyah, Ummu Shavana, Ephy Aslinda, Andie Dodiet Fauzzie, Januar Lestari, Ramadhan Tosepu, Syabriyah Akib, Nurusyainie, Ayu Aga Penulis Tamu: Arham Kendari Sinopsis Buku tentang Kendari? Jarang ada, apalagi yang genrenya pop. Buku ini menjawab kebutuhan ini. Berisi 26 cerita yang semuanya adalah kisan nyata tentang Kendari. Mulai dari kuliner, pasar tradisional, pete-pete, hingga kisah dunia lain.  Kedekatan emosi pribadi dari tiap orang yang menceritakan pengalaman nyatanya di buku ini membuat pembaca akan bisa melihat, merasakan, membayangkan dan bahkan ingin datang ke kota kecil ini, Kendari....

Nambo Beach, 22 Agustus 2012

Silaturahmi paska lebaran belum berakhir, hari ini kami sekeluarga pergi ke pinggiran kota. Berkunjung ke rumah salah seorang tante, sekalian tamasya ke pantai Nambo yang tak jauh dari rumahnya.  Mumpung masih holiday , sebelum besok masuk kantor kembali, hihi. Enjoy the pictures!! Main Pasir 

Bulutangkis di Olimpiade London 2012

Olimpiade London sudah berakhir, dan atlit Indonesia tak terlihat saat upacara penutupan. Mereka sudah pulang beberapa hari sebelumnya. Prestasi mereka adalah yang terburuk semenjak tahun 1992, tak ada medali emas yang di tangan. Mengapa bisa gagal? Cabang bulutangkis yang selama ini menjadi andalan penyumbang medali memang sudah memperlihatkan tanda-tanda keredupannya sejak lama. Bahkan sejak olimpiade Beijing 2008 lalu. Di piala beregu seperti Thomas dan Uber saja tak lagi berjaya, para pebulutangkis kita juga jarang memperoleh gelar di berbagai kejuaraan bahkan yang levelnya rendah.  Regenerasi dituding tak berjalan mulus. Berbagai atlit yang dikirim hanya itu-itu saja, tak ada perubahan.  Sebut saja Taufik Hidayat yang selalu menjadi andalan di sektor tunggal putra, yang semakin tak berdaya melawan berbagai pendatang baru sementara junior di belakangnya tak kunjung memperlihatkan prestasi berarti.

Eid Mubarak^^