21.8.12

Bulutangkis di Olimpiade London 2012

Olimpiade London sudah berakhir, dan atlit Indonesia tak terlihat saat upacara penutupan. Mereka sudah pulang beberapa hari sebelumnya. Prestasi mereka adalah yang terburuk semenjak tahun 1992, tak ada medali emas yang di tangan.

Mengapa bisa gagal?

Cabang bulutangkis yang selama ini menjadi andalan penyumbang medali memang sudah memperlihatkan tanda-tanda keredupannya sejak lama. Bahkan sejak olimpiade Beijing 2008 lalu. Di piala beregu seperti Thomas dan Uber saja tak lagi berjaya, para pebulutangkis kita juga jarang memperoleh gelar di berbagai kejuaraan bahkan yang levelnya rendah. 

Regenerasi dituding tak berjalan mulus. Berbagai atlit yang dikirim hanya itu-itu saja, tak ada perubahan.  Sebut saja Taufik Hidayat yang selalu menjadi andalan di sektor tunggal putra, yang semakin tak berdaya melawan berbagai pendatang baru sementara junior di belakangnya tak kunjung memperlihatkan prestasi berarti.

Semrawutnya kepengurusan organisasi bulutangkis juga berperan tak kalah penting. Berbagai intrik dan masalah yang melanda membuat iklim tak sehat yang imbasnya sangat buruk bagi atlet. 


Simon Santoso setelah dikalahkan Lee Chong Wei, babak 16 besar (sumber zimbio.com)

Kita memang sempat berharap kepada pasangan Ganda Campuran, Lilyana Natsir-Tantowi Ahmad untuk medali emas. Melihat prestasi di tahun ini yang cukup cemerlang. Namun ternyata, harapan tinggal harapan. Prestasi tanpa mental yang matang membuyarkan semuanya. Butet-Owi kandas di semifinal, dan mesti tersingkir dalam perebutan medali perunggu melawan pasangan Denmark, Christinna Pedersen-Joachim Fischer.

Kisah kelam juga dibuat oleh pasangan putri kita, Meliana Jauhari dan Greysia Polii. Mereka terseret arus "Opera Soap" pasangan ganda putri Cina dan Korea, sehingga menghasilkan keputusan pahit diskualifikasi dari BWF.

Tunggal putra kita terhempas di babak 16 besar, Taufik dan Simon. Ganda putra keok di perempat final, Bona-Ahsan oleh pasangan Korea Lee Yong Dae-Chung Jae Sung. Tunggal putri Firdasari tumbang melawan pemain Cina, Wang Xin di perempat final. Tragis dan mengenaskan ;(

Meski begitu, perolehan tanpa emas kali ini rupanya menular ke negara yang juga menjadi langganan emas olimpiade, Korea Selatan. Bedanya, mereka masih bisa mendapat perunggu lewat ganda putra, sedangkan kita hampa tanpa medali.

Olimpiade kali ini juga memberi berkah bagi negara yang belum pernah sama sekali mendapat medali lewat bulutangkis, Jepang dan Rusia. Skandal "Opera Sabun" memuluskan langkah ganda putri mereka ke babak puncak.

Raihan Cina di Olimpiade London ini terbilang fantastis, lima emas. Prestasi yang selalu terjegal oleh Indonesia dan Korea Selatan di era-era sebelumnya. Lin Dan, Li Xue Rui, Cai Yun-Fu Hai Feng, Tian Jing-Zhao Yun Lei dan Zhang Nan-Zhao Yun Lei membuktikan keperkasaan Cina di pentas bulutangkis dunia memang tak terbantahkan.

Capaian yang amat sangat membuat iri.

Indonesia, kapan lagi medali emas di tangan kita??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar anda atas isi blog saya ini. Kritik, saran yang membangun sangat diharapkan, namun harap sopan.