11.11.12

Antara Kunci Jawaban dan Belajar Keras

Mau tahu buku favorit saya waktu sekolah dasar? Buku kesukaan saya itu adalah buku "Kunci Jawaban".  Kenapa? Karena semua jawaban dari Ibu Guru ada di sana. Baik ulangan, maupun soal harian. Guru wali kelas saya nampaknya malas membuat soal, dan selalu mengandalkan buku tertentu yang jawabannya ada di buku "Kunci Jawaban". Yang punya buku itu di kelas, hanya saya dan ibu guru.

Dengan bekal buku "Kunci Jawaban" itu, saya melalui masa SD dengan ceria. Beberapa kali juara kelas, dan selalu lancar menjawab pertanyaan di kelas.

Entah kenapa hanya saya yang punya buku tersebut. Yang jelas, Bapak berhasil menemukannya di salah satu toko buku di kota saya (dan mungkin toko favorit), dan ternyata sama dengan yang dipakai oleh ibu guru saya. 

Akan tetapi, ketenangan saya tersebut terusik saat akan naik ke kelas 6. Keluarga saya pindah ke kampung. Saya mau tak mau harus ikut juga.

Saya kemudian didaftarkan ke sekolah di sana. Sebuah sekolah yang katanya cukup terkenal. Di sekolah yang baru itu, semua kebiasaan saya berubah. Tak ada lagi kunci jawaban. Tak ada lagi kemudahan-kemudahan dalam kelas. Saya berjuang keras di kelas 6 ini. Bukan lagi dengan bantuan buku Kunci Jawaban melainkan dengan otak. Keras!

Di sekolah yang lama, PR terasa gampang. Bapak seringkali membantu mengerjakannya. Namun, di sekolah yang baru, saya "dipaksa" untuk menyelesaikan semua PR sendiri. Tingkat kesulitan yang bertambah, dan Bapak juga tambah sibuk dengan tugas kantornya, saya tak sempat lagi meminta bantuan Bapak. Sehingga, di awal-awal masuk sekolah, saya sempat stress dan kewalahan.

Tak habis pikir, di tempat yang bisa dianggap kampung dibanding tempat sebelumnya,  sekolah dasarnya kok bisa kejam sekali, hiks. Culture shock  mungkin bisa disebut istilahnya. Anak-anak di sana lebih senang belajar dan lebih mempunyai semangat persaingan. Suasana mencongak* sebagai contohnya, adalah kesempatan di mana semua anak saling berlomba menjawab. Seru bagi mereka, dan menegangkan karena baru bagi saya.

Yang lebih terasa sadis bagi saya yang baru berusia 11 tahun waktu itu, adalah sang wali kelas. Perempuan separuh baya yang sangat berwibawa itu sangat tegas. Dan bisa tampak menakutkan bila salah satu murid tak mengerjakan PR. Sistem pengajaran yang masih terasa berbau feodal-menerapkan hukuman (fisik) yang tak tanggung-tanggung.

Namun, seiring waktu akhirnya saya beradaptasi juga. Menyesuaikan diri dengan cara belajar lebih keras, bahkan lebih dari yang bisa saya bayangkan. Tak ada kata santai seperti dulu. Sang wali kelas tak terlihat menakutkan lagi. Kali ini saya senang belajar lebih keras.
***

Bersyukur atas pengalaman waktu SD tersebut. Merasakan dua atmosfer belajar yang berbeda, sekolah di ibukota provinsi dan satunya di ibukota kabupaten. Satunya santai dan terkendali, sedang di tempat baru lebih "barbar" dan kompetitif.

Di kampung, saya bertemu guru-guru yang jenius dan menjadi idola saya. Mereka menguasai banyak bidang, dan betul-betul menguasai-bukan hanya sekedar tahu. Guru wali kelas saya saat SD mengajar hampir semua mata pelajaran, kecuali pelajaran Agama dan Olahraga. Beliau sangat pintar matematika, pengetahuan alam dan pengetahuan sosial. Beliau juga yang mengajarkan kami kecintaan akan pengetahuan tentang dunia (geografi dan sejarah dunia). Walau beliau dari kampung, tapi wawasan beliau tak kampungan. Beliau juga selalu mengajarkan kejujuran, sesuatu yang kini sering diabaikan di dunia pendidikan.

Saya merindukan masa-masa seperti itu. Dimana belajar bukan sekedar mengejar angka, tapi juga memperoleh nilai-nilai kehidupan dan menyenangkan. Nilai-nilai yang tak melulu keluar dari mulut para guru, namun juga dicontohkan kepada murid-muridnya. 




*mencongak = metode berpikir cepat biasanya untuk matematika, guru akan mengajukan pertanyaan dan meminta siswa untuk menjawab dengan cepat

------------------------------------------------
Ikutan lomba blog Gerakan Indonesia Berkibar "Guruku Pahlawanku"




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar anda atas isi blog saya ini. Kritik, saran yang membangun sangat diharapkan, namun harap sopan.