Langsung ke konten utama

A Letter for Our Major

Yth Bapak Walikota di Meja Kerja

Asssalamua'alaykum Pak,
Nama saya Mudhalifana, salah seorang warga bapak.
Mau Curhat..



Bapak sudah pernah keliling-keliling kota Kendari belum?
Kayaknya belum deh Pak.
Soalnya banyak jalanan yang masih rusak, dan rusaknya tidak tanggung2..
Contohnya jalanan ke arah Mata, daerah terluar di wilayah kekuasaan Bapak.
Sepanjang jalan yang langsung berbatasan dengan laut, jalanannya sudah bolong semua,
Aspalnya entah kemana.
Padahal itu akses ke tempat wisata loh Pak,
jadi perhatian wisatawan/wisatawati yang mau liburan ke Kasilampe dan Toronipa.
dan jadi jalur diriku ke tempat kerja.
Tolonglah pak, diperbaiki.
Kalo perlu disurvei dulu, soalnya jalanan yang dibangun dipinggir laut rawan..
Sama perembesan air laut..(Bapak pasti lebih tau)

dan juga, trayek angkot ke sana, diperhatikan...
Karena, trayek angkutan yang tertib dan lancar mencerminkan kemajuan sebuah daerah..



Harap bisa dipertimbangkan...


Salam

warga biasa

Mudhalifana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kersen, Jambu Air dan Rambutan

Tulisan ini diikutkan pada  8 Minggu Ngeblog   bersama Anging Mammiri, minggu pertama. S uatu sore, April 1994 Aku terbangun dari tidur siangku. Tak ada mimpi buruk, aku tidur dengan pulas siang itu. Setelah berdiam diri sambil merenung, aku lalu melompat dari tempat tidur. It's Cheery Tree time , waktunya Pohon Kersen sodara-sodara!! Kaki dan tanganku lincah mencari dahan untuk dinaiki. Berpuluh-puluh buah Kersen warna-warni menggodaku. Aku tak sabar lagi ingin mencicipi manisnya buah-buah Kersen itu. Hmmmmm..., Jangan tanya berapa lama aku bisa bertahan di atas pohon Kersen, bisa berjam-jam. Dan, untungnya, pohon Kersen itu tak jauh dari rumah. Pohon itu dengan gagahnya bertengger di depan teras depan rumah nenekku. Pohon yang jadi favoritku dan sepupu-sepupu serta kawan-kawan sepermainan di sekitar rumah nenekku. Kersen (gambar dari sini )

Saya Pilih Ubuntu!

Sekitar awal tahun lalu, saya sudah punya niat untuk membeli laptop sendiri. Setelah bertahun kerja dan selalu mengandalkan komputer kantor buat mengerjakan semua kepentingan dengannya, saya ingin mengubah keadaan ini. Saya lalu mengumpulkan sedikit demi sedikit uang honor demi sebuah laptop.  Setelah beberapa saat, uang akhirnya terkumpul.  Setelah bertanya kesana kemari merek laptop yang kira-kira murah tapi bagus, dan juga bantuan sahabat baik saya, Ami, yang kebetulan cerewet sekali kalau membahas hal-hal berhubungan dengan gadget. Kami pun lalu menunjuk sebuah merek. Pertama kali memilih laptop tersebut, abang penjualnya menawarkan memakai sistem operasi sejuta umat, sang Jendela. "Mau pake Win***s? Kalau mau, drivernya udah ada. Tinggal nambah aja sejuta.", kata si penjual tersebut. "Oh, tidak. Mau pakai linux saja. Ada gak?" "Waduh, ga ada linux di sini. Susah itu." Saya menolak, mau memakai linux saja.

Yang Paling Kubanggakan, Kendari.

Tulisan ini diikutkan pada    8 Minggu Ngeblog   bersama Anging Mammiri, minggu kedua. "Darimana?" "Kendari." "Ohhh, Kendari. Dimana itu? Kalimantan  ya?" (Argggghhhhh, ini orang tak pernah belajar IPS ya dulu di SD.) "Bukan, itu di Sulawesi, Sulawesi Tenggara." "Ohhh, Sulteng." (Lagi-lagi......@_@) "Sultra, bukan Sulteng. Sulteng itu Sulawesi Tengah." Kejadian yang beberapa kali menimpa saya. Membuat saya menjadi sedih. Sebegitu tak terkenalnya-kah Kendari?? Bagi yang di Makassar atau di belahan Sulawesi yang lain mungkin pasti tahu dengan Kendari (keterlaluan mah kalau tidak, hehe). Tapi, untuk warga di sebaran Indonesia yang lain ternyata banyak yang awam dengan Kendari. Kendari (dari mata saya) adalah kota yang tak terlalu kecil, tak besar, singkatnya sedang-sedang saja. Di manakah letaknya? Pastinya di pulau Sulawesi (kan di Sulawesi Tenggara), hehe. Tahu pulau Sulawesi kan? Pulau itu punya dua ...