18.6.09

UN.

Seorang teman memberi berita dari kampung, tentang kelulusan siswa-siswa dari SMA kami yang dulu. Kabar baik, hanya dua orang yang tidak lulus. SMA itu memang sekolah yang cukup terkenal di kota asal saya. Dengan fasilitas yang cukup lengkap dan guru-guru berkualitas, lumayanlah kalau dibandingkan dengan sekolah-sekolah lain di Indonesia ini, yang sebagian besar masih memprihatinkan.
Ujian Nasional, bagi saya itu adalah "kekerasan". Kekerasan yang dilakukan negara terhadap warga negaranya, bentuk lain dari anarki yang sering menghiasi wajah pendidikan kita, :(
Untuk menilai lulus atau tidaknya seorang siswa, sangat tidak adil kalau hanya didasarkan pada ujian yang cuma sebentar itu..!!
Selain faktor kelulusan, juga dampak psikologis pada siswa. Banyak siswa yang stres atau depresi akibat tak lulus UN, bahkan trauma mendengar kata UN. "Harga" mahal yang harus dibayar anak bangsa demi sebuah kebijakan.
Satu hal lagi, yang untuk saya ini adalah kemunduran. Kini, mencontek bukanlah hal yang tabu, bahkan sudah "dihalalkan". Demi banyaknya angka kelulusan, para guru "dipaksa" untuk melakukan segala cara, termasuk membocorkan dan memberi contekan,:(

Kalau dunia pendidikan kita terus begini, bagaimana nasib bangsa ini ke depan?


ps: satu sekolah di Kendari harus mengulang Ujian Nasional, hanya karena kesalahan sistem, 32 lainnya di seluruh Indonesia. Kenapa siswa yang menanggung kesalahan itu?

2 komentar:

  1. UN adalah salah satu cara bg sekolah untuk unjuk gigi.

    Tul, Pi! Biar ga dicap sekolah ga mutu, ya..byk cara, slh satunya dg bocorin soal. pdhl dg bgitu justru mnujukkan kualitas pengajaran di skul itu ada yg ga beres. ya nggak sih, pren?

    BalasHapus
  2. hha..ini kayak lingkaran setan yang ga berhneti diperdebatkan...

    tapi bagi yang serius beljar buat UN, ntar spmb n kuliahnya jadi gampang lo.. ga ada salahnya belajar, ntar pasti dibalas koq hasil kerja kerasnya..

    *pengalaman saya yang ga beljar

    BalasHapus

Silahkan berikan komentar anda atas isi blog saya ini. Kritik, saran yang membangun sangat diharapkan, namun harap sopan.