Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kendari

Sedikit Tentangku dan Kendari (Lagi)

Sedikit dulu cerita di balik terbitnya buku baru kami, "Sedikit tentangku dan Kendari". Adalah di permulaan 2013 ini, saya dan rekan saya bertekad untuk mencetak kembali buku Kendari. Berkaca dari buku yang pertama, kami ingin agar buku yang kedua ini lebih baik. Hingga awal April sebuah musibah menimpa, laptop yang berisi naskah mentah hilang. Kalut, galau campur kesal. Mau tak mau, target cetak pertengahan tahun mesti mundur. Alhamdulillah, di tengah kekalutan ini, saya akhirnya bisa melacak draf naskah yang ternyata sempat saya simpan di imel. Pffffffuuuuuuuh, leganya bukan main. Waktu terus berdetak, kami makin semangat. Mencari ide-ide baru, memburu cerita-cerita yang lebih segar. Bongkar pasang, ganti sampul, debat sana-sini, bahkan terkadang perang ide dan opini. Ditambah lagi, kini tambah satu kepala, seorang teman yang menyumbangkan sampul-cerita ikut terlibat lebih dalam proses pembuatan buku ini.  Pokoknya rasanya nano-nano. Kali ini, percetakan yang k...

Konversi/Proyeksi Shapefile UTM ke Shapefile Degree dengan QuantumGIS

Tahu berapa lama topik ini mengganggu saya? Dua tahun, hehe. Dua tahun lalu saya mendapatkan beberapa data shapefile (peta dijital) kota Kendari setelah mengikuti pelatihan QIS di kampus lokal. Saya begitu bersemangat dengan data tersebut, sebab memang sudah lama saya mencari-carinya untuk dipakai dalam kerjaan. Hanya saja ada satu kendala dari peta tersebut, proyeksinya dalam UTM. Sedang, data yang biasa kami pakai memakai degree (decimal) :( Sebenarnya ada cara yang diajarkan instruktur dalam pelatihan tersebut, hanya saja ribetnya minta ampun hingga saya malas buat mengingatnya. Bukan tanpa usaha, saya juga berupaya dengan browsing di internet. Sayangnya tak satupun yang berhasil. Hari terus berlalu, tak terasa dua tahun berlalu. Hingga minggu lalu saya akhirnya memecahkan misteri tersebut. Bulan lalu saya menginstal sebuah program open source GIS yang oke banget.  Namanya QuantumGIS. Saya pernah menggunakan program tersebut (bersama laptop yang h...

Wanita-Wanita Perkasa

Tentang wanita-wanita perkasa. Karena dedikasi dan keteguhan hati mereka. Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketiga. Wanita-Wanita Pertama Hari sudah semakin siang. Jualannya hanya sedikit yang laku. Matahari semakin meninggi, melunturkan bedak tebal berwarna putih di wajahnya. Kawan-kawannya yang lain sudah mulai pulang ke rumah. Mereka lebih beruntung hari ini. Semenjak subuh sudah menuju ke pelelangan, bertarung dengan para penjual yang lain. Mencari ikan paling bagus dan juga murah. Demi sesuap nasi hari ini.

Yang Paling Kubanggakan, Kendari.

Tulisan ini diikutkan pada    8 Minggu Ngeblog   bersama Anging Mammiri, minggu kedua. "Darimana?" "Kendari." "Ohhh, Kendari. Dimana itu? Kalimantan  ya?" (Argggghhhhh, ini orang tak pernah belajar IPS ya dulu di SD.) "Bukan, itu di Sulawesi, Sulawesi Tenggara." "Ohhh, Sulteng." (Lagi-lagi......@_@) "Sultra, bukan Sulteng. Sulteng itu Sulawesi Tengah." Kejadian yang beberapa kali menimpa saya. Membuat saya menjadi sedih. Sebegitu tak terkenalnya-kah Kendari?? Bagi yang di Makassar atau di belahan Sulawesi yang lain mungkin pasti tahu dengan Kendari (keterlaluan mah kalau tidak, hehe). Tapi, untuk warga di sebaran Indonesia yang lain ternyata banyak yang awam dengan Kendari. Kendari (dari mata saya) adalah kota yang tak terlalu kecil, tak besar, singkatnya sedang-sedang saja. Di manakah letaknya? Pastinya di pulau Sulawesi (kan di Sulawesi Tenggara), hehe. Tahu pulau Sulawesi kan? Pulau itu punya dua ...

Mereka dan Buku "Sedikit Tentangku dan Kendari"

Judul: Sedikit Tentangku dan Kendari Penyusun: Mudhalifana Haruddin & Ayu Aga Desain Cover: Ferdhy Muhammad Harga: 45.000 (diluar ongkir) Tebal: x + 166 halaman diterbitkan melalui nulisbuku Kontributor: Mudhalifana Haruddin, Chaerul Sabara, Atyra Sansa, Ely Widyawati, Desi Dian Yustisia, Hana Yusida Syarif, Tatik Bahar, Bramastyo Dhieka, Itsuki Nurmani, Raya Adawiyah, Ummu Shavana, Ephy Aslinda, Andie Dodiet Fauzzie, Januar Lestari, Ramadhan Tosepu, Syabriyah Akib, Nurusyainie, Ayu Aga Penulis Tamu: Arham Kendari Sinopsis Buku tentang Kendari? Jarang ada, apalagi yang genrenya pop. Buku ini menjawab kebutuhan ini. Berisi 26 cerita yang semuanya adalah kisan nyata tentang Kendari. Mulai dari kuliner, pasar tradisional, pete-pete, hingga kisah dunia lain.  Kedekatan emosi pribadi dari tiap orang yang menceritakan pengalaman nyatanya di buku ini membuat pembaca akan bisa melihat, merasakan, membayangkan dan bahkan ingin datang ke kota kecil ini, Kendari....

New Book to Come

to be continued...

Telukku Sayang...

Gambar di atas adalah hasil citra Google Earth per 25 Agustus 2009.  Dari sini sudah terlihat betapa parahnya pendangkalan di daerah teluk.  Tempat  yang dulu masih masih berupa laut, kini berubah menjadi daratan.  Berdasarkan hasil  penelitian dari tahun 1992 hingga 2000, tingkat pendangkalan mencapai 0,027 m tiap  tahunnya.  Sumbangan sedimen dari beberapa sungai besar, yakni Sungai Wanggu,  Sungai Benubenua, Sungai Mandonga dan beberapa sungai kecil.  Diperkirakan dalam 10  tahun ke depan, luas teluk tinggal 197 hektar. Bukan saja sedimen dari sungai, aktivitas tambahan di daerah sekitar teluk turut berperan  besar dalam pendangkalan tersebut.  Banyak daerah disitu yang kini telah berubah fungsi,  ditimbun untuk dijadikan tempat usaha atau pun pemukiman.  Pembangunan, tanpa melihat  dampak buruknya bagi lingkungan. Pemerintah kota melakukan langkah reaktif untuk masalah ini, yang sudah sering dit...

The Journeys 2: Cerita dari Tanah Air Beta

Jika orang lain mesti menyisihkan uang dan cutinya demi liburan ke pantai atau gunung, maka saya tidak. Tiap hari adalah liburan :) Dengan hanya menumpang angkot (di daerah saya dikenal dengan pete-pete ), maka tiap hari saya akan menikmati nikmatnya angin pantai dan sejuknya gunung dan bukit.  Adalah purirano, sebuah kelurahan di paling ujung Kendari, lokasi kantor saya. Dengan melewati beberapa tanjakan dan turunan, pantai dan perumahan penduduk, stasiun pengisian BBM, pabrik  Semen, maka sampailah saya di sana. Dua puluh menit saja dari "kota"-nama wilayah di kota ini, yang memang dahulu adalah pusat kota, sebelum bergeser ke pusat yang baru. Meski secara administratif Purirano masih berada di ibukota provinsi (Sulawesi Tenggara), namun drastis suasana yang ada adalah pedesaan. Rumah-rumah masih jarang, dan embel-embel sebagai kota nyaris tak terlihat, selain jalan yang lumayan mulus. Langit dan laut biru   Saat pagi hari, ...

Kemana Pengawas Pemilu??

Jalanan Kendari yang lengang, tak banyak kendaran yang lewat. Macet pun sesekali saja, di lampu merah, hehe.  Tapi, entah mengapa wajah-wajah di pinggir jalan mengganggu konsentrasi saya, dalam menghayati panorama alam.  Wajah-wajah dalam baliho, penuh senyum palsu hasil editan potosop. Ini bukan masa kampanye. Pemilukada baru akan dimulai tahun depan, untuk walikota. Sedang untuk pemilihan gubernur, dua tahun lagi. Kemana para pengawas pemilu, bawaslu dan KPU? Tampaknya mereka lagi asyik sendiri, ada yang berantem dan main tuntut-tuntutan. Sehingga peserta jalan masing-masing, tanpa aturan dan mata yang mengawasi. Mulai bergerilya dan melancarkan aksi  money politics. Rakyat yang dibawah pun banyak yang ketawa ketiwi, lihat hiburan seru sekali. Namun akhirnya akan menangis, karena yang dipilih ingkari jan ji.

Meet a Friend

Bermula dari pesan di akun Linkedin saya,  Seorang teman lama, yang saya kenal selama kerja di kantor pusat rupanya ingin berjalan-jalan ke Kendari, khususnya stasiun gempa tempat saya sekarang.  Saya menjawab, silakan datang, ada banyak pemandangan laut di sini, juga  rocking road  (hehe, yang bener itu  rocky road,  dari  teman saya ). Untuk memuluskan, kami pun bertukar nomor telepon juga. Nah, kalo saat imel-imelan memakai boso inggris, maka sms-sms dilakukan dalam bahasa indonesia. Rupanya Ole memang lagi menggiatkan berbahasa Indonesia (padahal kita maunya berbahasa Inggris dengan bule, kebalik ya^^). Alhamdulillah..saya tak perlu lagi berpotang panting mencari kata Inggris yang tepat, hehe 

Amorphophallus, tamu tak diundang.

Beberapa minggu lalu, kantor kami kedatangan tamu  agung.  Sebentuk bunga langka telah tumbuh di pekarangan kantor, Amorphophallus sp, yang banyak dikenal sebagi Bunga Bangkai (Corpse Flower). Awalnya kabar ini saya anggap bualan belaka,  "ahh, palingan bunga biasa saja, bukanlah..bukan bunga bangkai.." , tapi melihat foto bunga itu yang baru diambil teman saya pagi hari, saya pun bergegas guggling , mencari tahu apa dan bagaimana bunga bangkai itu (bukannya meluncur langsung ke TKP, hehe ). Teman saya berseru "Raflessia Arnoldi, bunga raksasa..", dan memang, banyak yang salah mengira bunga bangkai dan Rafflesia Arnoldi sama saja. Padahal, keduanya jauhh berbeda.  Kalo Rafflesia Arnoldi itu tidak bertangkai, berdaun, berbatang, sedang  bunga bangkai itu tumbuhan lengkap, ada daun, batang dan tangkai.             Bunga Bangkai aka Amorphophollus sp.

Memecahkan Rekor.

Seumur hidup, saya belum pernah punya rekor, apalagi yang nasional.  Kalau bolos atau telat masuk kelas dianggap bisa termasuk rekor, mungkin saya berhasil punya berkali-kali rekor nasional, hehe :) Tapi, memang rejeki ndak akan kemana.  Tak sengaja, saat sedang pesbukan, saya  melihat halaman yang menarik mata saya, 1001 Wajah Teluk Kendari. Teluk Kendari, adalah salah satu interest saya setelah pulang kampung.  Dan Fotografi, adalah salah satu passion baru saya, walau cuman bermodal kamera hape.  Dua hal itu digabung, tanpa diundang pun, saya rela menceburkan diri,  :-) Berita itu saya bagi dengan seorang teman, yang rupanya sangat antusias juga.  Setelah mengisi form pendaftaran, kami pun siap beraksi-memecahkan rekor, yeee! Sabtu, 25 Juni, cuaca Kendari agak kurang kondusif.  Hujan terus turun, dan sepertinya tak mau berhenti dalam waktu sesingkat-singkatnya.  Hati menjadi  bimbang, mungkin kah sebentar akan berhasil?  Dita...

A Letter for Our Major

Yth Bapak Walikota di Meja Kerja Asssalamua'alaykum Pak, Nama saya Mudhalifana, salah seorang warga bapak. Mau Curhat.. Bapak sudah pernah keliling-keliling kota Kendari belum? Kayaknya belum deh Pak. Soalnya banyak jalanan yang masih rusak, dan rusaknya tidak tanggung2.. Contohnya jalanan ke arah Mata, daerah terluar di wilayah kekuasaan Bapak. Sepanjang jalan yang langsung berbatasan dengan laut, jalanannya sudah bolong semua, Aspalnya entah kemana. Padahal itu akses ke tempat wisata loh Pak, jadi perhatian wisatawan/wisatawati yang mau liburan ke Kasilampe dan Toronipa. dan jadi jalur diriku ke tempat kerja. Tolonglah pak, diperbaiki. Kalo perlu disurvei dulu, soalnya jalanan yang dibangun dipinggir laut rawan.. Sama perembesan air laut..(Bapak pasti lebih tau) dan juga, trayek angkot ke sana, diperhatikan... Karena, trayek angkutan yang tertib dan lancar mencerminkan kemajuan sebuah daerah.. Harap bisa dipertimbangkan... Salam warga biasa Mud...