Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label renungan

Pak Polisi dan Pasar

Muka-muka lesu bercampur kesal sangat tampak terlihat. Entah kenapa suasana pasar kali ini sangat muram, tak biasanya. Beberapa langkah memasuki pasar, tak tampak pedagang beras yang biasa saya beli beras merahnya. Penjual sayur pun langka. Beberapa orang berkumpul tampaknya mendiskusikan sesuatu. Oh, rupanya ada pak polisi pamong praja di antaranya. Hmm,ada apakah ini?? Saya hanya sempat bertanya sedikit, tak berani banyak. Wajah para pedagang sedang gundah, tidak etislah saya "mewawancarai" mereka lagi. Baru beberapa bulan, abu bekas bakaran pasar yang lama pun mungkin masih hangat. Pedagang yang menjajakan barang dagangannya di emperan trotoar pasar ini adalah mereka yang tak mampu membayar sewa kios di dalam gedung yang harganya menjulang itu. Kini mereka akan diusir lagi. I don't know . Hati ini ngilu. Para ina-ina (sebagian besar pedagang adalah ibu-ibu berusia lanjut) ini adalah pejuang-pejuang bagi keluarganya. Namun, pemkot melalui tangan Satpol PP mau mengh...

UN itu Ujian Kehidupan

Seperti yang telah lama saya dengung-dengungkan, saya tidak setuju dengan UN. Apa yang diperoleh dari UN? Dari sebuah bincang biasa dengan seorang kawan yang berprofesi pengajar di sekolah lanjutan atas, yang ada adalah pertunjukan sandiwara tahunan. Bagaimana tidak, jika UN tlah di depan mata, maka akan ada Tim Sukses bayangan (yang tak ada SK-nya) di setiap sekolah. Tujuannya, untuk memberikan jawaban ke anak murid. Mencengangkan dan memprihatinkan:( Setiap guru mata pelajaran akan diserahi tanggung jawab untuk mengerjakan soal-soal. Mereka ditempatkan di suatu ruangan, jauh dari pengawas agar leluasa menjawab pertanyaan di lembar naskah UN.   Mereka yang tak setuju terkadang bisa "diculik". Hati nurani melawan, maka jurus-jurus tolong menolong dikeluarkan campur iba. "Kasihan..kalau tidak lulus masa depan mereka bisa habis." Meski sebenarnya masih ada Ujian Paket B atau C. Apa yang salah dengan UN? Teman saya itu berujar " Kalau saja, standar kelul...

Bad News And A Good One

Kemarin, kembali hal itu terulang. Berita buruk dan baik hadir dalam satu masa. Seorang kawan kehilangan putri tercintanya, putri yang baru dilahirkan tujuh hari sebelumnya.  Putri yang dinantikan bukan saja oleh Ibu dan Ayahnya, tapi oleh kawan-kawan MPers yang lain ( cat: Mpers adalah komunitas pengguna blog Multiply). Belum ada kabar yang pasti mengenai sebabnya, tapi info awal sang putri meninggal karena gagal nafas. Putri yang cantik, yang pastinya akan menolong kedua orangtuanya di surga nanti, karena begitulah janji Alllah buat mereka yang kehilangan anak di masa sebelum baligh, aamiin, allahumma aamiin. Kematian begitu dekat, dan bukan tak mungkin ada di sekitar kita. Bekal apa yang telah kita punya? Saya tak berani menjawab yang pertanyaan ini, mengingat banyak sekali dosa dan khilaf :( Kabar kedua, berita menangnya tulisan saya dalam Lomba Blog Entry Batik yang diselenggarakan Blogfam . Alhamdulillah, postingan yang dibuat mepet deadline itu ternyata bisa...

Wanita dan Harumnya

Seorang wanita menaiki angkot yang juga saya tumpangi. Penampilannya rapih, dalam seragam.  Dia mengambil posisi di sebelah saya. Seketika tercium bau parfumnya, saya memang agak sensitif dalam hal wewangian. Teringat sebuah hadits yang isinya kira-kira tentang wanita yang keluar rumah dan tercium bau wewangiannya oleh lelaki lain, maka wanita tersebut sama dengan pelacur, naudzubillah! Kita sering lalai dengan hal-hal yang kecil, menganggap ini sudah ketinggalan jaman. Kalau gak wangi tidak gaul . Namun, kalau nantinya disamakan dengan pelacur, saya memilih tidak gaul. Dan Alhamdulillah, saya memang tidak memakai parfum karena alergi. Sesungguhnya bukan saja pakaian dan akhlak kita sebagai wanita yang bisa menjerumuskan, tapi wangi kita juga. Maka, berhati-hatilah.