Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label kuliner

Tumis Paria Tomat

Sabtu pagi, mbak sayur yang kutunggu tlah berlalu. Setelah kucari-cari, mbak sayur sudah tak terkejar lagi. Masak sayur apa pagi ini? Ah, rupanya masih ada paria* di kulkas. Aha, bagaimana kalau tumis paria (lagi). Caranya? Gampang dan mudah saja. Cukup siapkan paria yang telah dipotong tipis-tipis lalu ditaburi garam kasar lalu diremas-remas dan dicuci bersih. Ini berguna agar rasa pahitnya ternetralisir.  Bumbu yang dipakai juga sederhana, hanya bawang putih dan bawah merah yang dihaluskan bersama garam. Jangan lupa lupa gula sebagai pembangkit rasa gurih. Serta tomat yang sudah dipotong kecil-kecil. Jumlah serta ukuran terserah ya, kira-kira saja. Untuk saya, 3 siung bawang putih dan 3 siung bawang merah sudah cukup untuk kira-kira 200 gr paria. Pertama, panaskan wajan lalu masukkan minyak goreng. Tunggu hingga panas. Lalu masukkan bumbu yang dihaluskan, tumis hingga harum. Lalu, masukkan tomat potong, tumis sebentar. Kemudian parianya, tumis hingga layu. Masukk...

Pempek, dari Sumsel lalu Meng-indonesia.

Sumatra Selatan, menginjakkan kaki di tanahmu, aku belum. Satu-satunya anggota keluarga dalam (my inner family) yang pernah kesana, mungkin Bapakku. Aku pernah melihat foto Bapak, berlatar jembatan Ampera. Dari buku pelajaran SD, aku jadi tahu kalau jembatan itu ada di Palembang, Sumatra Selatan. Cerita-cerita tentangmu hanya aku dengar dari kawan yang pernah atau memang tinggal di sana, kebanyakan melalui blog mereka. Juga tentang artis yang berasal dari sana, seperti Yahya bersaudara dan Anwar Fuady, pemain sinetron kawakan. Namun, ada satu yang terasa dekat denganku. Sebuah makanan yang memang sangat terkenal berasal dari daerahmu, Pempek. Suatu hari, sekeluarga dari Palembang tinggal di kosanku. Mereka datang ke Jakarta demi berobat.  Salah satu anak dari si Pak Haji (nama sang Bapak) menderita penyakit mata yang membutuhkan penanganan serius dari rumah sakit mata di Jakarta. Pengobatannya memerlukan waktu yang cukup lama maka mereka pun lama menetap di ibukota. Beberap...

Curiosity or Obsession?

"Curiosity kills a cat" Entah ini namanya keingintahuan atau obsesi, yang jelas dua hari ini bayangan sayur asem ini menari-nari di otak.  Oukeh. Cukup, i said. Bergeraklah saya ke arah pasar Kota, mencari bahan-bahan sayur asem berdasar petunjuk di sini . Semua bahan ada, kecuali buah Melinjo, daging tetelan, terasi, dan kacang tanah.  Pagi ini, tekad saya bulatkan. Dengan menginstruksikan adik supaya memotong-motong sayuran, saya juga bergerak menghaluskan bumbu-bumbu.  Sebelum shalat Dhuhur, sayur asem pun siap. Rasanya, "Kurang asin, " kata adik saya. Haha, yang penting penasaran saya terjawab, dan perut kenyang. Soal rasa, bisa diaturlah ;)   Gambar dari  http://resepmasakanindonesia.idcc.info