Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label lomba

PLN Bersih untuk Indonesia, untuk Kita Juga

Melihat postingan tentang lomba blog PLN dan plang " PLN Bersih , No Suap" membuat saya berkerut dahi, "Emang bisa??" tanya saya dalam hati. Cap bersih dan apapun yang senada dengan itu, di negeri dan jaman sekarang ini adalah hal yang teramat sulit. Sungguh. Lihat saja di televisi, koran dan berita online, fakta atau opini yang ada adalah korupsi, penyalahgunaan wewenang dimana-mana. Suap, apalagi, adalah hal yang dianggap wajar di masyarakat kita. Tak menyuap seperti tak gaul :( (hedeeeuuuh). Tapi, tak ada yang tak mungkin jika mau bersungguh-sungguh. PLN Bersih bukanlah tagline semata. Terlihat dari perubahan-perubahan drastis yang dilakukan mereka, bahkan seluruh jajaran-mulai dari yang di atas hingga terbawah. Salut. Berbagai perubahan yang dijalankan, bisa diakses dari situs plnbersih.com , diantaranya: perubahan sistem pelayanan dan pengaduan, pengaturan gratifikasi, perubahan pengadaan barang dan jasa, dsb. Hal-hal dasar yang bisa memic...

Kalau Mama Minta Pulsa??

Bagaimana kalau Mamamu tiba-tiba minta pulsa ? Bukan Mama yang itu , ya. Apa mesti kelabakan cari konter voucher pulsa dulu? Atau minta ke teman yang jualan pulsa? Waduh, kelamaan. Keburu Mama marah-marah ;) Ada loh solusi yang cepat, murah lagi menguntungkan. Yaituuuuuuuu, dengan berjualan pulsa elektrik . Suer deh, ga pake boong! Pengalaman membuktikan. Saya sudah berjualan pulsa sejak tahun 2007, walau hanya kecil-kecilan (karena modalnya tak pernah besar-besaran karena sebagian besar cuma untuk orang-orang dekat dan pemakaian pribadi). Menjual pulsa elektrik membuat saya memiliki "kemerdekaan" dalam hal perpulsa-an. Jarang ada masa di mana saya kelabakan gara-gara pulsa tak ada. Orang sekitar juga bisa dengan mudah mengisi pulsanya, karena ada saya yang berjualan.  Soal keuntungannya? Saya belum melakukan pembukuan buat bisnis ini. Namanya saja kecil-kecilan, tak ada kounter, jadi uang yang masuk biasanya saya pakai kembali. Namun, kalau diseriusi, bisnis...

Antara Kunci Jawaban dan Belajar Keras

Mau tahu buku favorit saya waktu sekolah dasar? Buku kesukaan saya itu adalah buku "Kunci Jawaban".  Kenapa? Karena semua jawaban dari Ibu Guru ada di sana. Baik ulangan, maupun soal harian. Guru wali kelas saya nampaknya malas membuat soal, dan selalu mengandalkan buku tertentu yang jawabannya ada di buku "Kunci Jawaban". Yang punya buku itu di kelas, hanya saya dan ibu guru. Dengan bekal buku "Kunci Jawaban" itu, saya melalui masa SD dengan ceria. Beberapa kali juara kelas, dan selalu lancar menjawab pertanyaan di kelas. Entah kenapa hanya saya yang punya buku tersebut. Yang jelas, Bapak berhasil menemukannya di salah satu toko buku di kota saya (dan mungkin toko favorit), dan ternyata sama dengan yang dipakai oleh ibu guru saya.  Akan tetapi, ketenangan saya tersebut terusik saat akan naik ke kelas 6. Keluarga saya pindah ke kampung. Saya mau tak mau harus ikut juga.

Untuk PLN yang Lebih Baik

Sekitar sebulan lalu, listrik di rumah bermasalah. Tegangannya tidak stabil. Kejadiannya sebenarnya telah berlangsung beberapa lama, dan mencapai puncaknya pada malam hari itu. Lampu kedap-kedap lalu mati total. Setelah mengecek meteran, tak ada satupun yang salah. Lampu tetangga juga baik-baik saja. Karena tak punya nomor telepon lokal pengaduan PLN (dalam keadaan gelap, otak menjadi tambah malas untuk mencari tahu), saya membiarkan saja keadaan tersebut. Terpaksa melalui malam itu dengan lilin dan lampu dari telepon genggam.        Keesokan paginya, lampu belum menyala juga. Kembali mengecek ke rumah tetangga, namun saja saja dengan semalam. Hanya rumah kami saja yang bermasalah. Akhirnya rutinitas pagi dilalui tanpa listrik sama sekali. Nasi kembali dihangatkan dengan dandang, dan telepon genggam tak sempat di- charge . Menunggu mengisi baterainya di kantor saja.        Kembali ke pengaduan, setelah bertanya ke beberapa teman, saya pun m...

Pandai Berbagai Bahasa, Pandai Bahasa Indonesia

Berapa bahasa yang anda kuasai? Dua, tiga, atau hanya satu? Saya sendiri hanya tahu bahasa Indonesia dan sedikit bahasa Inggris walau hanya sebagai pengguna pasif. Berbeda dengan saya, ibu saya adalah seorang multilingual. Ia secara aktif mampu berbahasa indonesia, Bajo dan Muna. Bahasa Bajo adalah bahasa ibu-nya, sedangkan bahasa Muna adalah bahasa yang dipakai di kota tempat besarnya dulu. Bahasa lain yang juga mampu dipakainya adalah bahasa Makassar, Bugis dan sedikit Jawa. Bahasa Jawa, karena beliau pernah beberapa tahun tinggal di Jogja mengikuti Bapak saya yang sekolah di sana. Sedangkan ayah saya hanya menguasai bahasa Muna dan Indonesia. Bahasa Muna adalah bahasa ibu bagi Ayah. Ibu dan ayah saya memang berasal dari Muna, sebuah pulau yang mayoritas penduduknya adalah suku Muna dan berbahasa Muna. Meski ada juga yang tidak, seperti keluarga ibu saya yang berbahasa Bajo. Punya orangtua yang multilingual seharusnya menjadi keuntungan besar bagi kami, anak-ana...

Saya Pilih Ubuntu!

Sekitar awal tahun lalu, saya sudah punya niat untuk membeli laptop sendiri. Setelah bertahun kerja dan selalu mengandalkan komputer kantor buat mengerjakan semua kepentingan dengannya, saya ingin mengubah keadaan ini. Saya lalu mengumpulkan sedikit demi sedikit uang honor demi sebuah laptop.  Setelah beberapa saat, uang akhirnya terkumpul.  Setelah bertanya kesana kemari merek laptop yang kira-kira murah tapi bagus, dan juga bantuan sahabat baik saya, Ami, yang kebetulan cerewet sekali kalau membahas hal-hal berhubungan dengan gadget. Kami pun lalu menunjuk sebuah merek. Pertama kali memilih laptop tersebut, abang penjualnya menawarkan memakai sistem operasi sejuta umat, sang Jendela. "Mau pake Win***s? Kalau mau, drivernya udah ada. Tinggal nambah aja sejuta.", kata si penjual tersebut. "Oh, tidak. Mau pakai linux saja. Ada gak?" "Waduh, ga ada linux di sini. Susah itu." Saya menolak, mau memakai linux saja.

Ponpin buat Cewek? Perlu!

Dalam sebuah drama Korea (On Air, 2007), tampak adegan seorang aktris yang tengah diwawancarai oleh seorang wartawati. Aktris yang mula-mula hanya bintang iklan, lalu main dalam drama dan terkenal karena aktingnya yang diragukan (karena selalu dapat peran-peran yang mudah). Mula-mula si wartawati menyinggung tentang hobi si aktris. "Apa yang Anda lakukan saat waktu senggang?" "Di profilmu disebutkan bahwa Anda suka membaca buku." "Oh, itu hanya kerjaan manajerku, dia ingin membuat image yang baik tentang saya," jawab sang aktris (yang memang terkenal sengah ). "Sejujurnya, saya tak suka membaca buku." "Aaaaaahhh...." si wartawati tersenyum sinis. "Mengapa tersenyum?" "Sepertinya Anda banyak membaca," gantian sang aktris yang bertanya. "Itu karena... ah, saya suka penulis luar, Paulo Vistana dan Emily Nothon. Saya suka gaya tulisan mereka," jelas si wartawati. "Untuk tahu, ...

Bad News And A Good One

Kemarin, kembali hal itu terulang. Berita buruk dan baik hadir dalam satu masa. Seorang kawan kehilangan putri tercintanya, putri yang baru dilahirkan tujuh hari sebelumnya.  Putri yang dinantikan bukan saja oleh Ibu dan Ayahnya, tapi oleh kawan-kawan MPers yang lain ( cat: Mpers adalah komunitas pengguna blog Multiply). Belum ada kabar yang pasti mengenai sebabnya, tapi info awal sang putri meninggal karena gagal nafas. Putri yang cantik, yang pastinya akan menolong kedua orangtuanya di surga nanti, karena begitulah janji Alllah buat mereka yang kehilangan anak di masa sebelum baligh, aamiin, allahumma aamiin. Kematian begitu dekat, dan bukan tak mungkin ada di sekitar kita. Bekal apa yang telah kita punya? Saya tak berani menjawab yang pertanyaan ini, mengingat banyak sekali dosa dan khilaf :( Kabar kedua, berita menangnya tulisan saya dalam Lomba Blog Entry Batik yang diselenggarakan Blogfam . Alhamdulillah, postingan yang dibuat mepet deadline itu ternyata bisa...

Mohon Dukungannya, ya^^

Minggu kemarin, saya dan teman-teman (SMA) kembali kumpul-kumpul lagi :)  Agenda ini sudah mulai rutin kami lakukan, semenjak ada momen Long Weekend, dua minggu yang lalu.  Kalo taman Walikota sudah kami pilih dua kali, untuk tempat ngumpul, maka Ahad ini diputuskan Taman Korem (nama pastinya kurang tau :P)  yang jadi lokasi ketemuan. Agendanya, buat syuting, hehe.  Kebetulan telah lama saya merencanakan, hanya saja baru ketemu waktu yang pas kemarin.  Sebuah kontes video-pendek dengan tema Media-Sosial menarik minat saya, dan saya kepikiran teman-teman saya ini yang jadi pemeran-pemerannya.  Skenario saya susun dalam bentuk rekaman video juga dan siap untuk dieksekusi hari itu. Jam 7 pagi, teman saya, Ayu, datang ke rumah. Rencananya kami akan datang bersama, sekalian dengan mengadakan diskusi kecil dulu mengenai proyek buku yang sedang digarap.   Diskusi dan chitchat selesai, jam 7.40 kami pun berangkat ke TKP.  Tiba di sana, aktris yang...

Karena Batik Itu Indonesia

Batik pertama saya adalah kemeja yang diwariskan kakak perempuan saya. Terpaksa saya memakai kemeja itu, karena kebijakan di sekolah yang baru yang mewajibkan seragam batik di setiap hari Sabtu.  Karena bajunya lungsuran, maka warna kemeja itu pun buram, pudar. Meski begitu, ia telah menyelamatkan saya di saat yang tepat. Karena, mepet sehingga tak punya kesempatan buat mencari baju yang baru, Mama pun  mengobrak-abrik baju-baju lama yang sempat dibawa. Akhirnya diperoleh baju lama punya kakak yang masih layak pakai. Baju itu terbuat dari kain batik cetak, yang memang lebih murah dibanding batik biasa (batik tulis). Sebuah baju sederhana, namun datang di saat yang tepat. Baju batik selanjutnya, adalah daster-daster  yang nyaman banget. Karena berjilbab maka daster jilbab adalah pakaian rumahan yang sangat cocok dipadukan dengan jilbab rumah. Bentuknya yang gombrang, menyamarkan bentuk badan namun tetap terasa dingin. Mama saya yang membelikan semua daster itu, ka...

Supaya Bisa Eksis di Dunia Maya, Ngapain Aja Yah?

Pertanyaan bagaimana supaya eksis di internet, saya lontarkan awal bulan Februari di blog Multiply saya. "Supaya bisa eksis di dunia maya, ngapain aja yah?", begitu redaksi pertanyaan saya, dan jawaban yang masuk beraneka rupa.    "Rajin nulis, share pengalaman, tips, journey dll. Rajin silaturrahim k sesama bloggers," jawaban pertama. "Bikin jurnal dan qn (quicknotes)." yang ini dan jawaban pertama tadi khas blogger, blogger memang musti rajin posting. "Buka toko (online)," tipikal jawaban dari seorang online seller, eksis sambil dagang^^. "Rajin mampir n komen. Politik balas budi seringkali berlaku. Haha.. Tapi minimal welcome sama tamu," blogger juga. "Bikin Keributan, posting-posting artikel yang berbau SARA, PROVOKASI, HINAAN. Dijamin Eksis..", waduh kalau eksis yang kayak gini, jauh-jauh aahh, ga bakal lama. "Gak ada saran, soale gak bisa ngeksis," teman saya yang gak ngaku eksis, padahal akun blognya dima...

Karena Temannya Menulis itu Membaca

Kalau ditanya atau disuruh menuliskan di formulir-formulir tentang hobi, kebanyakan orang biasanya akan menuliskan kalau hobi mereka adalah membaca. Nah, sama juga dengan saya, hobi membaca. Mungkin karena tidak punya bahan hobi yang lain, atau mungkin karena hobi mereka memang membaca. Untuk kasus saya, saya memang suka membaca, tapi satu kelemahan saya, yakni tidak suka membeli buku (nah loh!). Lama baru saya sadari, setelah selesai kuliah, kalau kebiasaan saya ini (kalau bisa dibilang kebiasaan) ternyata berdampak kurang baik. Membaca, menjadi suatu kesukaan saja, bukan menjadi kewajiban. Padahal, kalau ingin maju, katanya kita sebaiknya membaca satu buku satu hari (yang ini saya lupa dapat dari mana). Kalau ingin membaca suatu buku, saya paling suka meminjamnya. Apakah dari teman atau dari perpustakaan. Itulah yang membuat koleksi buku saya amat sangat minim. Tapi setelah bekerja, saya ingin merubah "kebiasaan itu", saya akan membeli buku..dan membaca banyak buku.. ______...

(Sebenarnya) Speech

Kemarin sore, telepon saya berdering..(dari nomor jakarta) "Dengan Waode Sitti....?" "Iyahhh..." (saya memutar otak dengan keras, mungkin ini teman dari kantor pusat, mau saya kerjain..) "Kami dari Lomba Blog AQUA" (wait a minute..gak jadi ngisengin) mengkonfirmasi bahwa saya adalah salah satu nominator. Dan acara penyerahan hadiah yang akan diselenggarakan keesokan harinya, di Wisma Antara - Jakarta, membutuhkan kehadiran kami, para calon juaranya, atau perwakilannya saja. Karena sudah tak mungkin saya ke Jakarta sore itu juga, maka saya berusaha menghubungi teman saya di Jakarta. Teman pertama menyanggupi, asal sore hari. Melihat susunan acara yang rencananya di pagi hari, dia akhirnya mengundurkan diri. Orang kedua, adalah paman saya. Ternyata, tanpa tawar menawar panjang, beliau pun menyanggupi. Beres! And, we proudly present..the winners are.. Para pemenang