Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label bulutangkis

Bulutangkis Indonesia di 2017

Tahun 2017 hampir berlalu, begitu pula dengan gelaran turnamen-turnamen Badminton sepanjang tahun 2017 telah ditutup dengan berakhirnya Superseries Final di Dubai pada 17 Desember yang lalu.  Bagaimana dengan prestasi pebulutangkis kita sepanjang tahun ini, apakah lebih baik dari capaian di tahun 2016 lalu? Kalau tahun lalu, prestasi paling puncak adalah emas di Olimpiade Rio yang direbut oleh pasangan andalan kita, Tontowi Ahmad (Owi) dan Liliyana Natsir (Butet). Hampir tidak berbeda di tahun ini, pada bulan Agustus di Kejuaraan Dunia Bulutangkis yang merupakan salah satu ajang bergengsi di dunia bulutangkis, gelar Juara Dunia Ganda Campuran kembali dipersembahkan oleh pasangan Owi dan Butet. Gelar yang pernah juga mereka raih di tahun 2013 yang lalu. Owi dan Butet juga meraih gelar di Indonesia terbuka Super Series Premier (SSP) di bulan Juni, yang sangat istimewa karena gelar di rumah sendiri inilah gelar yang paling sulit mereka dapatkan selama berpasangan. Gelar super seri...

Badominton to Watashi: my Badminton diary

Maret 5 tahun yang lalu di dalam sebuah pelatihan menulisnya Tere Liye , saya pernah bertanya kepada beliau, bagaimana dengan blogger yang menulis buku. Bang Tere liye menjawab kalau (penulis blog) itu bagus bahkan menganjurkan agar membukukan blog kita. Tekad makin membara untuk membukukan blog setelah penutupan multiply-blog paling asyik karena komunitasnya pada Maret 2013. Tulisan-tulisan di sana terancam hilang, migrasi post masih bisa dilakukan. Tapi saya berpikir alangkah lebih baik kalau dibukukan saja. Dengan 2 blog yang aktif, blogpost dan multiply, saya menganggap kalau itu bisa jadi bahan buku solo pertama saya. Apa hendak di kata, kesibukan membuat saya tidak sempat-sempat untuk mewujudkan keinginan itu. Tugas-tugas kantor membuat saya agak menjauh dari menulis dan ngeblog, harapan membuat buku pun semakin memudar. Sebenarnya ada satu ganjalan besar, tema buku. Maunya sih membuat buku motivasi, eh isi blog kebanyakan cerita tak terlalu penting dan curhat ga jelas. Terlal...

The Chronicles of Ahsan and Hendra

S aya menulis ini sebagai penggemar. Ya, I’m a fan of Moh. Ahsan and Hendra Setiawan as a pair. Ahsan dan Hendra mungkin ibarat pengingat bangkitnya Bulutangkis Indonesia. Setelah kegagalan di Olimpiade 2012 dan skandal memalukan Ganda Putri, hadirnya mereka bak oase di tengah kemarau berkepanjangan. Di saat Taufik berada di ujung masa jayanya, Tontowi dan Liliyana yang berada di peringkat 2 dunia tapi tak mampu berbicara di Olimpiade, di waktu banyak yang memandang sebelah mata ke Bulutangkis Indonesia, mereka adalah jawaban banyak pertanyaan tentang prestasi Indonesia. Perpaduan dua ganda putra terbaik Indonesia, Hendra Setiawan-Markis Kido dan Bona Septano-Moh. Ahsan melahirkan pasangan ini. Hendra yang telah keluar dari Pelatnas memutuskan untuk kembali demi mencari tantangan dan pengalaman baru serta memuaskan ambisinya yang belum kesampaian, mejadi Juara All England. Sementara Ahsan, semenjak partnernya keluar dari Pelatnas, pelatih Hery IP. berusaha mencarikan pasangan bar...

Piala Sudirman 2015, Dongguan-Cina

Minggu lalu adalah minggu yang sangat "panas" bagi bulutangkis Indonesia sebab ada gelaran Kejuaran Beregu Campuran Dunia dengan piala yang sangat terkenal, Piala Sudirman. Digelar dari tanggal 10 Mei hingga Final di hari Minggu kemarin, 17 Mei 2015, Indonesia berhasil menyabet perunggu setelah terhenti di semifinal hari Sabtu, 16 Mei 2015.  Beranggotakan pemain senior seperti Hendra Setiawan, Greysia Polii, M. Ahsan, dan Liliyana Natsir, dan pemain junior seperti Jonatan Christie, Firman Abdul Khalik, dan Hana Ramadhini, capaian Indonesia kali ini lebih baik dari dua tahun lalu yang hanya sampai perempat final. Menjadi juara di penyisihan grup C, di antara Inggris dan Denmark, perjalanan Indonesia tergolong lancar di perempat final. Berhadapan dengan Taiwan, Indonesia menang dengan skor 3-1, dan satu kemenangan disumbangkan oleh partai tunggal putra yang awalnya tidak terlalu diunggulkan.  Sayang, final yang terlalu dini harus terjadi di semifinal saat hasil undian ...

Ahsan-Hendra, Menang!!

Setelah pertarungan menegangkan selama 59 menit yang diselingi drama dan perang dingin (ahay bahasanya), akhirnya Muh. Ahsan - Hendra Setiawan, ganda putra kebanggaan Indonesia, memenangkan permainan tiga set atas ganda putra no. 1 dunia, Lee Yong Dae - Yoo Yoon Seong (aka LYD-YYS, biar hemat nulisnya), 14-21 21-15 23-21.   Sempat terseok-seok di awal tahun ini, di turnamen All England SSP (Super Series Premier), Ahsan-Hendra kembali bersinar di turnamen SSP berikutnya, Malaysia SSP. Turnamen yang gelarnya pernah mereka raih di tahun 2013 lalu.  Berkaca dari hasil  positif dan optimis wawancara mereka (yang bisa dibaca di badmintonindonesia.org), saya melihat peluang besar mereka memang ada di sini, dan kejadian juga, hehe.  Memang benar deh, kalau kita berkata yang baik-baik, bakal berakhir yang baik-baik juga. Berjumpa LYD-YYS bukanlah kali pertama buat Ahsan-Hendra, tapi kali yang ke-delapan.  Dari tujuh pertemuan, 5 kali Ahsan-Hendra kalah (...

Axiata Cup 2014, Yang Muda yang Beraksi

Tim Indonesia sebagai Juara Kedua Piala Axiata 2014 foto: badmintonindonesia.org Piala Axiata (Axiata Cup) tahun 2014 ini banyak membawa kesan yang manis. Terutama bagi pemain muda Indonesia. Kepercayaan yang diberikan tim pelatih tidak mereka sia-siakan. Hana, Antoni Ginting, Alfian, Annisa, Gideon Markus, Kevin , Wahyu dan Ade Yusuf, berhasil membawa Indonesia ke Final Piala Axiata di Malaysia. Walaupun akhirnya kalah dari Tim Thailand dengan skor tipis 140 - 138, namun pencapaian tim Indonesia kali ini bisa saya bilang luar biasa.  Datang dengan bukan kekuatan penuh, Indonesia awalnya diperkirakan paling jauh hanya sampai babak Semifinal saja.  Di saat tim negara lain yang bertaburan bintang, Indonesia banyak mengandalkan pemain mudanya. Hasil ini cukup memberi harapan untuk Piala Sudirman tahun depan, karena format Piala Axiata yang mirip dengan Piala Sudirman. Indonesia masih bisa memberikan kejutan di ajang tersebut. 

WBC 2014 aka Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2014

Sebenarnya saya tidak sanggup menulis berita ini, huaaaa. Sakitnya itu di sini (nunjuk hati), berdarah-darah dan pedih #lebay Setelah bulan lalu dipastikan bahwa ganda campuran andalan Indonesia gagal ke WBC (kejuaraan dunia) karena cedera engkel Tontowi Ahmad (Owi), maka sore ini kabar tak mengenakkan juga datang dari sektor ganda putra dan tunggal putra. Tunggal putra harapan kita, Simon Santoso dan ganda putra kebanggan Indonesia, Muh. Ahsan-Hendra Setiawan juga dipastikan tidak bisa ikut, hiks..hiks. Penyebabnya? Simon kena DBD sementara Ahsan cedera pinggul. Maka, sudah pasti Indonesia tidak bisa menampilkan kekuatan andalannya di ajang paling bergensi yang setara dengan olimpiade itu. Di tahun ini bisa dibilang prestasi pebulutangkis kita lagi menurun dibanding tahun lalu. Beberapa gelar super series dan super series premier telah hilang, ditambah dua gelar juara dunia. Amat sulit bagi pebulutangkis kita yang lain untuk merebut gelar tersebut. Ditambah Simon Santoso yang amat ...

Okay, I feel Sad:-/

As a badminton fan, an Indonesian fan, I feel really sad tonight. Firasat gak akan menang sih ada, setelah kemarin tim Uber kita kalah, karena target mereka semifinal dan gak terpenuhi. Sementara target tim Thomas adalah final. Indonesia melalui Thomas Cup tahun ini dengan gemilang di fase grup. Tiga kali tanding, tiga-tiganya menang dan hanya kehilangan satu poin dari nomor tunggal putra. Kemudian sukses melewati hadangan tim kuat Korea, namun tersandung oleh tim yang kurang diperhitungkan Malaysia. Malaysia yang hanya punya pemain nomor satu tunggal putra, Lee Chong Wei, dan ganda putra yg prestasinya biasa saja dan baru dipasangkan,  ternyata mampu menghempaskan ganda terbaik kita dan nomor satu dunia, Ahsan-Hendra. Kunci kemenangan Malaysia menurut saya adalah taktik selalu mengubah pemain yang turun. Urutan pemain beberapa kali berubah dalam setiap pertandingan. Juga pemain yang dinilai kurang siap karena kalah, seperti Darren Liew diganti walaupun berstatus kapten tim. Se...

Malaysia Open 2014

Tak seperti tahun lalu, Indonesia kali ini tak kebagian gelar di Malaysia. Tommy Sugiarto yang maju ke babak final harus takluk di tangan andalan tuan rumah, Lee Chong Wei. Ganda putra no.1 dunia sekaligus kebanggaan kita, M.Ahsan-Hendra S, juga telah lebih dulu terhenti di babak kedua. Begitu pula ganda campuran Lilyana N-Tontowi A. juga tak mampu ke final setelah kalah 2 set langsung dari pasangan Cina, Xu Chen-Ma Jin.  Namun, ada prestasi yang cukup membanggakan dari ganda putra, Angga-Ryan, yang tidak diunggulkan namun melaju hingga semifinal.    Meski belum dapat gelar, masih ada turnamen-turnamen lain menunggu pebulutangkis kita. SEMANGAT!!!

Yang Pertama untuk Tommy

Hari Minggu kemarin adalah hari yang bersejarah buat Tommy Sugiarto. Pebulutangkis tunggal putra andalan  Indonesia itu meraih gelar Super Series pertamanya di Singapura.  Melihat pertandingan final antara Tommy dan Boonsak Ponsana, sebenarnya tak ada yang terlalu istimewa dari permainan Tommy. Yang paling menonjol adalah keuletannya mengejar bola. Gaya bermainnya mengingatkan kepada sang pelatih, Joko Suprianto yang juga terkenal ulet di lapangan.  Bermain di final, bukannya tanpa kendala buat Tommy. Cedera di jempol kakinya rupanya masih terasa, dan sempat diperiksa oleh dokter saat memasuki set ketiga. Set pertama berlangsung ketat, poin susul menyusul hingga mencapai 20-22 untuk Boonsak. Sedangkan di set kedua, Tommy mendominasi. Poin berakhir di 21-5 untuk Tommy. Set penentuan berlangsung cukup ketat. Hanya saja, stamina Tommy yang lebih bagus membuat Boonsak banyak melakukan kesalahan ( unforced error ). Set ini ditutup dengan pengembalian bola dari Boon...

Ahsan-Hendra, Hebat!!

Penonton bergemuruh. pasangan Muh. Ahsan dan Hendra Setiawan memasuki lapangan. Disusul Lee Yong Dae dan Kon sung Hyun, ganda dari Korea yang banyak digandrungi penonton wanita Indonesia ( thanks to Korea's Fever ). Kali ini mereka bertemu di final setelah awal tahun bertemu di Final Malaysia Terbuka . Yang berbeda hanyalah peringkat. Kini, Ahsan dan Hendra di urutan 13 dunia, sementara Lee Yong Dae-Ko Sung Hyun yang lebih banyak memenangkan turnamen, kokoh di peringkat pertama BWF.   Pertarungan dimulai. Ahsan dan Hendra bermain cepat dan bersih, jarang melakukan kesalahan. Mereka terus menekan. Ganda Korea jarang diberi ruang buat menyerang. Pasangan kita unggul 21-14 di set pertama.   Masuk ke game kedua, rupanya pasangan Korea mulai tune-in setelah di babak pertama mati mesin. Sempat mengambil alih beberapa poin, namun Ahsan-Hendra tak kehilangan kepercayaan diri. Sorak-sorai semakin memberikan suntikan semangat. "Indonesia.. Indonesia!!" menggoyang istora min...

Piala Sudirman 2013: Bangga Meski Kalah!!

Mungkin hampir semua penggemar bulutangkis tahu kalau dari tanggal 19 kemarin ada ajang beregu bergengsi yang dipertandingkan, Piala Sudirman. Tahun ini dilangsungkan di negeri tetangga, Malaysia. Berada di grup A, bersama juara bertahan Cina dan India  membuat peluang Indonesia untuk lolos terbilang lumayan besar. Mengingat India yang hanya unggul di beberapa sektor, yakni tunggal putri dan putra (beberapa pemain mereka sempat menjadi juara atau selalu menyulitkan tunggal-tunggal terbaik dunia). Sedangkan di nomor ganda, pasangan-pasangan kita lebih bagus secara prestasi dan peringkat.  Kita masih bisa merebut poin dari India, dan setidaknya melaju ke putaran selanjutnya sebagai runner up grup di bawah Cina (yang hampir bisa dipastikan sebagai juara grup). Yang semuanya memang terbukti, Indonesia lolos ke babak perempat final setelah menang lawan India dan kalah melawan Cina (India tersingkir karena tak pernah menang).  Di babak perempat final, berbeda dari p...

Ahsan-Hendra, Daebak!!

Malaysia Super Series berakhir kemarin. Dua wakil Indonesia di final hanya mampu mempersembahkan satu gelar, ganda putra. Laga ganda putra yang mempertemukan pasangan kita, Muh. Ahsan-Hendra Setiawan dengan ganda Korea, Lee Yong Dae-Ko Sung Hyun memberikan tontonan yang menyegarkan sekaligus tak terduga bagi saya. Sebab, sehari sebelumnya saya hanya memperkirakan pasangan kita ini merebut runner-up. Pasangan Korea menurut saya lebih unggul, selain juga karena mereka sebelumnya menang minggu lalu di Korea Open (yang peringkat turnamennya lebih tinggi dari Malaysia Super Series). M.Ahsan-Hendra Setiawan di Malaysia Super Series 2013(sumber olahraga.kompas.com ) Peringkat pasangan Indonesia yang baru mencapa 66 dunia di atas kertas jauh dari pasangan Korea yang sudah masuk sepuluh besar dunia (6 BWF). Namun, progress pasangan kita di turnamen ini lumayan mengagumkan. Rata-rata waktu tiap pertandingan yang mereka mainkan hanya di bawah 30 menit, yang berarti permainan merek...

Bulutangkis di Olimpiade London 2012

Olimpiade London sudah berakhir, dan atlit Indonesia tak terlihat saat upacara penutupan. Mereka sudah pulang beberapa hari sebelumnya. Prestasi mereka adalah yang terburuk semenjak tahun 1992, tak ada medali emas yang di tangan. Mengapa bisa gagal? Cabang bulutangkis yang selama ini menjadi andalan penyumbang medali memang sudah memperlihatkan tanda-tanda keredupannya sejak lama. Bahkan sejak olimpiade Beijing 2008 lalu. Di piala beregu seperti Thomas dan Uber saja tak lagi berjaya, para pebulutangkis kita juga jarang memperoleh gelar di berbagai kejuaraan bahkan yang levelnya rendah.  Regenerasi dituding tak berjalan mulus. Berbagai atlit yang dikirim hanya itu-itu saja, tak ada perubahan.  Sebut saja Taufik Hidayat yang selalu menjadi andalan di sektor tunggal putra, yang semakin tak berdaya melawan berbagai pendatang baru sementara junior di belakangnya tak kunjung memperlihatkan prestasi berarti.

Akhirnya, "Pecah Bisul" di Indonesia Open 2012

Ahad kemarin gelaran Final Indonesia Open Super Series 2012 dilangsungkan. Lima partai, dengan dua finalis tuan rumah. Indonesia kebagian nomor Tunggal Putra dan Ganda Campuran. Sayang, hanya satu gelar yang bisa direbut, yakni Simon Santoso yang mengalahkan pemain Cina, Du Peng Yu. Meski cuma satu gelar, namun ini sudah menandakan peristiwa "pecah bisul" di even bergengsi ini. Indonesia telah cukup lama puasa gelar semenjak 2008. Gelar Simon juga yang pertama buatnya setelah lama tak menggenggam medali atau piala. Simon dengan medali juara (Sumber Solopos ) Turnamen ini menghasilkan banyak kejutan. Unggulan seperti Chen Long, Chen Jin, Wang Xing, Peter Gade tumbang di babak-babak awal.  Indonesia Open tahun ini juga menuai pujian dari BWF, organisasinya bulutangkis dunia. Penyelenggaraannya dinilai yang terbaik, bahkan dibanding All England. Hanya saja kapasitas dan luas Istora yang dipandang kurang besar.   Hasil pertandingan yang menyajikan berbagai k...

Laporan Olahraga, Senin, 30 April 2012

Dari lapangan tenis, petenis nomor dua dunia, Rafael Nadal berhasil menjuarai Barcelona Open. Nadal mengalahkan rekan senegaranya, Davis Ferrer dalam dua set langsung, 7-6 7-5. Gelar ini adalah gelar ketujuh Nadal di Barcelona, sekaligus mengukuhkannya sebagai Raja Lapangan Tanah Liat. Rafael Nadal, Barcelona Open 2012 Di cabang bulutangkis, Indonesia mendapatkan satu gelar di India Open dari pasangan ganda campuran (paling bersinar 2012), Lilyana Natsir--Tantowi Ahmad yang mengandaskan ganda Thailand, Sudket Prapakamol--Saralee Thoungthongkam, 21-16 16-21 21-14. Gelar  ini adalah gelar ketiga pada tahun ini buat Butet-Owi sekaligus sebagai juara bertahan. 

ALL ENGLAND 2012, Ada Juga Indonesia.

Setelah film Unstopable-nya Denzel Washington semalam berhasil mengalihkan kegiatan "menulis" yang seharusnya saya lakukan, tak sengaja kanal MNC SPORTS terpencet. Ah, rupanya All England sedang ditayangkan. Pertarungan antara Wang Yi Han dan Li Xue Rui mendekati titik akhir, Li Wue Rui pun memperoleh juara. Dalam usia yang sangat muda, 21. Setelah itu, maka giliran pasangan ganda campuran Indonesia bertarung. Melawan ganda Denmark, yang hari sebelumnya melibas pasangan China no. 2 dunia.  Gambar sports.okezone.com