Langsung ke konten utama

Drama itu akhirnya berakhir

Minggu lalu, dua drama yang telah berlangsung berbulan-bulan akhirnya menemui ujungnya juga. Pelaku utamanya, dua orang keturunan Afrika mencatatkan diri mereka ke dalam buku sejarah sebagai yang pertama.
Orang pertama, Lewis Hamilton. Pemuda Inggris ini akhirnya bisa meraih gelar Juara Dunia Formula One 2008 setelah tahun lalu gagal bersaing dengan Kimi Raikkonen, Ferrari. Tahun ini, dengan konsistensi dan kerjasama tim yang apik, Lewis membuktikan diri kalau dia bisa. Dengan pertarungan yang sengit di kejuaraan terakhir, di sirkuit Interlagos Brazil, senin dinihari (31/11), waktu Indonesia. Persaingan dua pembalap, Ferrari dengan Felipe Massa dan McLArren dengan Lewis Hemilton berlangsung hingga ke detik-detik akhir balapan. Hamilton yang sebenarnya hanya membutuhkan finish di urutan lima jika Massa menjadi juara, ternyata sempat dilambung oleh pembalap lain. Pihak Ferrari pun sudah mulai merasa menang saat Massa melampaui garis finish. Tapi, semua buyar saat Hamilton berhasill memperbaiki posisinya kembali ke urutan lima di akhir balapan, dan menggenapkan poinnya menjadi 98, satu poin lebih banyak dari Massa. Hamilton pun resmi memperoleh gelar Juara Dunia F-1, dengan capaian sebagai yang termuda dan kulit hitam pertama sepanjang sejarah.
Pelaku sejarah yang lain, Barrack Hussein Obama. Fenomenal, kata yang tepat untuk orang ini. Hanya dalam waktu dua tahun semenjak terpilih sebagai Senator Illinois, dia sudah bisa mencapai kursi Gedung Putih. Obama, dengan segala pesonanya berhasil menyihir publik Amerika dan bahkan dunia. Pertarungannya dengan senator McCain di pemilihan presiden Amerika, berlangsung dengan ketat. Setelah berbulan-bulan, akhirnya pada 5 November lalu, Obama terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat ke-44 dan keturunan Afrika-Amerika pertama.
Kedua orang tersebut membuktikan kepada kita bahwa di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, sebuah contoh bagi bangsa Indonesia yang kini sedang terpuruk. Jika kita mau berusaha, semaksimal mungkin, apapun yang kita inginkan pasti dapat kita capai.


Komentar

  1. wah... Pia postingan mu hebat. Pendapat mu benar sekali. Ga ada yang ga mungkin kalau kita mau berusha.walaupun tubuh rentan terhadap air dingin, kita juga bisa mandi pake air dingin 2x sehari kalau kita mau berusaha. Tul ga....? ^_^

    BalasHapus
  2. Banyak yang berharap 'perubahan' pada Barrack Obama, seperti halnya pernyataan Hidayat Nur Wahid ketua MPR yang berharap Barrack Obama mampu menghadirkan tata dunia baru yang tidak lagi berbasis pada hegemoni arogan Amerika Serikat (AS) yang selama ini dijalankan oleh pemerintahan Presiden George W Bush. “Saya berharap Obama juga melahirkan tata dunia baru yang lebih berkeadilan, termasuk dalam konteks Timur Tengah,” tegasnya. (Hnw.or.id, 7/11/2008). Akan tetapi harus diingat permasalahannya adalah sistem. AS adalah negara kapitalis sekuler yang terus berupaya untuk memperluas 'kekuasaannya' di bumi ini terutama terhadap negara-negara Islam. Walaupun partai Demokrat yang memenangkan pemilu tetap penjajahan itu berlangsung cuma tehnisnya lebih halus dibandingkan dengan partai Republik.Karena itu, AS di bawah Obama sekalipun, tetap akan mendukung penjajahan Israel atas Palestina, misalnya. Dalam kampanyenya sebelum menjadi presiden, Obama bahkan berkali-kali menegaskan dukungannya atas Israel, “Saya berjanji kepada Anda bahwa saya akan melakukan apapun yang saya bisa dalam kapasitas apapun untuk tidak hanya menjamin keamanan Israel tapi juga menjamin bahwa rakyat Israel bisa maju dan makmur dan mewujudkan banyak mimpi yang dibuat 60 tahun lalu,” demikian salah satu kutipan pidato Obama. Bagaimanapun ada 'kewajiban' bagi setiap presiden AS untuk 'melayani' Israel sebagai pemilik kapital di AS. Kalau misalnya Obama berusaha untuk melawan sistem tersebut nasibnya akan seperti Abraham Lincoln yang berusaha untuk menghapuskan perbudakan atau JFK yang kebijakannya terlalu moderat kepada musuh-musuh AS, yaitu terbunuh.

    BalasHapus

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar anda atas isi blog saya ini. Kritik, saran yang membangun sangat diharapkan, namun harap sopan.

Postingan populer dari blog ini

Bulutangkis Indonesia di 2017

Tahun 2017 hampir berlalu, begitu pula dengan gelaran turnamen-turnamen Badminton sepanjang tahun 2017 telah ditutup dengan berakhirnya Superseries Final di Dubai pada 17 Desember yang lalu.  Bagaimana dengan prestasi pebulutangkis kita sepanjang tahun ini, apakah lebih baik dari capaian di tahun 2016 lalu? Kalau tahun lalu, prestasi paling puncak adalah emas di Olimpiade Rio yang direbut oleh pasangan andalan kita, Tontowi Ahmad (Owi) dan Liliyana Natsir (Butet). Hampir tidak berbeda di tahun ini, pada bulan Agustus di Kejuaraan Dunia Bulutangkis yang merupakan salah satu ajang bergengsi di dunia bulutangkis, gelar Juara Dunia Ganda Campuran kembali dipersembahkan oleh pasangan Owi dan Butet. Gelar yang pernah juga mereka raih di tahun 2013 yang lalu. Owi dan Butet juga meraih gelar di Indonesia terbuka Super Series Premier (SSP) di bulan Juni, yang sangat istimewa karena gelar di rumah sendiri inilah gelar yang paling sulit mereka dapatkan selama berpasangan. Gelar super seri...

Eid el Fitr Mubarak!

Taqabbalallahu minna wa  minkum :)

The Chronicles of Ahsan and Hendra

S aya menulis ini sebagai penggemar. Ya, I’m a fan of Moh. Ahsan and Hendra Setiawan as a pair. Ahsan dan Hendra mungkin ibarat pengingat bangkitnya Bulutangkis Indonesia. Setelah kegagalan di Olimpiade 2012 dan skandal memalukan Ganda Putri, hadirnya mereka bak oase di tengah kemarau berkepanjangan. Di saat Taufik berada di ujung masa jayanya, Tontowi dan Liliyana yang berada di peringkat 2 dunia tapi tak mampu berbicara di Olimpiade, di waktu banyak yang memandang sebelah mata ke Bulutangkis Indonesia, mereka adalah jawaban banyak pertanyaan tentang prestasi Indonesia. Perpaduan dua ganda putra terbaik Indonesia, Hendra Setiawan-Markis Kido dan Bona Septano-Moh. Ahsan melahirkan pasangan ini. Hendra yang telah keluar dari Pelatnas memutuskan untuk kembali demi mencari tantangan dan pengalaman baru serta memuaskan ambisinya yang belum kesampaian, mejadi Juara All England. Sementara Ahsan, semenjak partnernya keluar dari Pelatnas, pelatih Hery IP. berusaha mencarikan pasangan bar...