Langsung ke konten utama

Postingan

Bulutangkis Indonesia di 2017

Tahun 2017 hampir berlalu, begitu pula dengan gelaran turnamen-turnamen Badminton sepanjang tahun 2017 telah ditutup dengan berakhirnya Superseries Final di Dubai pada 17 Desember yang lalu.  Bagaimana dengan prestasi pebulutangkis kita sepanjang tahun ini, apakah lebih baik dari capaian di tahun 2016 lalu? Kalau tahun lalu, prestasi paling puncak adalah emas di Olimpiade Rio yang direbut oleh pasangan andalan kita, Tontowi Ahmad (Owi) dan Liliyana Natsir (Butet). Hampir tidak berbeda di tahun ini, pada bulan Agustus di Kejuaraan Dunia Bulutangkis yang merupakan salah satu ajang bergengsi di dunia bulutangkis, gelar Juara Dunia Ganda Campuran kembali dipersembahkan oleh pasangan Owi dan Butet. Gelar yang pernah juga mereka raih di tahun 2013 yang lalu. Owi dan Butet juga meraih gelar di Indonesia terbuka Super Series Premier (SSP) di bulan Juni, yang sangat istimewa karena gelar di rumah sendiri inilah gelar yang paling sulit mereka dapatkan selama berpasangan. Gelar super seri...

Baca dong sebelum klik LIKE!

Dari judulnya, kelihatan bijaksana banget, hehe. Tetapi, apa pun itu, mungkin ini adalah tips dari saya ber-internet ria. Setelah beberapa tahun bermedsos, ada perubahan tren yang saya amati terutama saya sendiri. Kalau awal-awal, FB saya pakai buat "curhat" dan eksis serta mencari teman sekolah, sekarang lebih untuk mencermati perkembangan saja. Status-status saya sekarang hanya untuk laman kantor dan berita-berita bermanfaat. Sementara twitter, yang dulunya juga buat curhat, sekarang lebih untuk baca berita dan mengikuti skor pertandingan bulutangkis secara langsung, hehe. Status saya pun lebih banyak tentang bulutangkis. Medsos lain yang sekarang aktif dan lagi heboh2nya adalah instagram. Saya gunakan instagram buat majang foto dan update berita, drama dan bulutangkis. Mencermati perkembangan terbaru, banyak sekali berita bohong a.k.a hoax yang menyebar di medsos juga di aplikasi pesan. Salah banyak penyebab mudahnya tersebar hoax adalah kurangnya budaya baca dan telaah...

Badominton to Watashi: my Badminton diary

Maret 5 tahun yang lalu di dalam sebuah pelatihan menulisnya Tere Liye , saya pernah bertanya kepada beliau, bagaimana dengan blogger yang menulis buku. Bang Tere liye menjawab kalau (penulis blog) itu bagus bahkan menganjurkan agar membukukan blog kita. Tekad makin membara untuk membukukan blog setelah penutupan multiply-blog paling asyik karena komunitasnya pada Maret 2013. Tulisan-tulisan di sana terancam hilang, migrasi post masih bisa dilakukan. Tapi saya berpikir alangkah lebih baik kalau dibukukan saja. Dengan 2 blog yang aktif, blogpost dan multiply, saya menganggap kalau itu bisa jadi bahan buku solo pertama saya. Apa hendak di kata, kesibukan membuat saya tidak sempat-sempat untuk mewujudkan keinginan itu. Tugas-tugas kantor membuat saya agak menjauh dari menulis dan ngeblog, harapan membuat buku pun semakin memudar. Sebenarnya ada satu ganjalan besar, tema buku. Maunya sih membuat buku motivasi, eh isi blog kebanyakan cerita tak terlalu penting dan curhat ga jelas. Terlal...

The Chronicles of Ahsan and Hendra

S aya menulis ini sebagai penggemar. Ya, I’m a fan of Moh. Ahsan and Hendra Setiawan as a pair. Ahsan dan Hendra mungkin ibarat pengingat bangkitnya Bulutangkis Indonesia. Setelah kegagalan di Olimpiade 2012 dan skandal memalukan Ganda Putri, hadirnya mereka bak oase di tengah kemarau berkepanjangan. Di saat Taufik berada di ujung masa jayanya, Tontowi dan Liliyana yang berada di peringkat 2 dunia tapi tak mampu berbicara di Olimpiade, di waktu banyak yang memandang sebelah mata ke Bulutangkis Indonesia, mereka adalah jawaban banyak pertanyaan tentang prestasi Indonesia. Perpaduan dua ganda putra terbaik Indonesia, Hendra Setiawan-Markis Kido dan Bona Septano-Moh. Ahsan melahirkan pasangan ini. Hendra yang telah keluar dari Pelatnas memutuskan untuk kembali demi mencari tantangan dan pengalaman baru serta memuaskan ambisinya yang belum kesampaian, mejadi Juara All England. Sementara Ahsan, semenjak partnernya keluar dari Pelatnas, pelatih Hery IP. berusaha mencarikan pasangan bar...

Cuka Apel, si Banyak Guna

Sudah kira-kira dua tahun belakangan, saya menjadi pemakai cuka apel. Awal-awal sih buat sakit Maag, tapi kemudian dipakai buat bagian tubuh luar saja. Buat apa saja? Berikut daftarnya, 1. Toner atau penyegar. Campur cuka apel dengan air (kemasan), taruh di dalam wadah (saya pakai wadah plastik bekas kolonye semprot). Rasionya sih suka-suka, tapi kalo muka kering lebih bagus ga terlalu pekat, mungkin 1:4. 2. Kondisioner. Campuran cuka apel tadi bisa juga dijadiin kondisioner sehabis memakai shampo. Mau disemprot langsung ke rambut, atau dicampur ke air (hangat) dulu baru dibilas ke rambut. Diamkan sebentar biar meresap, lalu bilas berulang ulang (sebab baunya lumayan menyengat). 3. Obat kutu air. Beberapa minggu lalu, kaki saya kena kutu air. Tidak terlalu parah, tapi lumayan mengganggu karena terasa gatal. Saya biasa mengoleskan kapas yang telah disemprot larutan cuka apel, ke sela-sela kaki yang kena kutu air sebelum tidur. Alhamdulilah, gatal dan m...

Wahyu-Ade, si Juara Thailand GPG 2015 yang sering tak dianggap

Wahyu Nayaka dan Ade Yusuf menjadi penyelamat muka Indonesia Minggu sore yang lalu. Maju ke babak final Kejuaraan Thailand Open Grand Prix Gold 2015 di tiga nomor, Indonesia hanya mampu membawa 1 gelar ganda putra lewat Wahyu-Ade. Dua finalis lain, Praveen Jordan-Debby Susanto dan Ihsan Maulana M harus mengakui keunggulan lawan-lawan mereka. Nama Wahyu-Ade sebenarnya bukan nama baru di jajaran ganda putra pelatnas kita. Hanya saja pamor mereka kalah dari pasangan sepantaran, Angga Pratama-Ricky Karanda dan junior mereka Kevin Sanjaya-Marcus Gideon yang bulan Juni lalu ikut dalam tim SEA GAMES 2015. Padahal mereka bukannya tanpa gelar karena mereka sudah pernah merebut juara ganda putra di Dutch Grand Prix 2013 dan Iran International Challenge 2013. Hanya saja setelah itu, prestasi mereka menurun dan hanya menjadi penghias di berbagai turnamen yg diikuti. Di tahun 2015, rupanya terjadi perubahan yang cukup signifikan. Pasangan ini mulai bisa bersaing dengan ganda putra kuat dun...

Jakarta berkabut siang itu

Setahun lebih sudah terakhir saya menginjakkan kaki di Jakarta. Kota yg pernah membersamai saya selama 3 tahun. Kota yang mungkin dicintai banyak orang. Sayangnya saya tidak terlalu. Jakarta siang itu berkabut tipis. Sebelum pesawat yang saya tumpangi mendarat, setumpuk tipis kabut nampak menyelimuti Jakarta. Datang ke Jakarta dengan alasan yang sama seperti kedatangan saya, buat belajar sejenak agar otak kami tak selalu disemuti rutinitas yang sama hari ke hari. Agar wawasan kami bertambah luas lagi. Bertemu kawan lama hanyalah bonus kecil. Ada kawan yang sudah bertahun-tahun tak bersua, ada yang seringnya via Whatsapp saja, ada juga yang hanya bisa lewat SMS dan telepon. Waktu belajar hampir usai, waktu yang diharapkan pun kan datang. Waktu kembali ke kampung. Bertemu kembali dengan mereka yang selalu dirindu.