Langsung ke konten utama

Dunia tanpa sekolah dan Laskar Pelangi..sebuah perbandingan

Hari Minggu kemarin, saya berkunjung ke rumah Paman di Rawamangun. Dan tanpa sengaja menemukan sebuah buku berjudul "Dunia Tanpa Sekolah", karangan M.izza. Miris hati ini membaca buku itu, karena saya teringat buku lainnya, Laskar Pelangi. Dalam hati, saya bandingkan keduanya..dan inilah hasilnya..
Kalo LP bercerita tentang bagaimana perjuangan anak-anak dari Pulau Belitung untuk dapat bersekolah di tengah himpitan ekonomi dan adat kebiasaan setempat. Walaupun mereka bersekolah dengan tampilan seadanya, di sekolah yang sudah reot, tapi mereka tidak putus asa. Dengan guru yang selalu menghibur mereka dengan ilmu serta nasehat, dibalut cara mengajar yang mengena di hati. Sedang dalam DTS, si Izza merasa sekolah bukanlah tempat yang cocok untuknya. Dia lebih memilih untuk menjadi penulis, keluar saat duduk di bangku SMP. Saat banyak anak-anak tidak dapat sekolah, dia memilih melepaskan diri dari segala aturan yang mengikatnya di sekolah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bulutangkis Indonesia di 2017

Tahun 2017 hampir berlalu, begitu pula dengan gelaran turnamen-turnamen Badminton sepanjang tahun 2017 telah ditutup dengan berakhirnya Superseries Final di Dubai pada 17 Desember yang lalu.  Bagaimana dengan prestasi pebulutangkis kita sepanjang tahun ini, apakah lebih baik dari capaian di tahun 2016 lalu? Kalau tahun lalu, prestasi paling puncak adalah emas di Olimpiade Rio yang direbut oleh pasangan andalan kita, Tontowi Ahmad (Owi) dan Liliyana Natsir (Butet). Hampir tidak berbeda di tahun ini, pada bulan Agustus di Kejuaraan Dunia Bulutangkis yang merupakan salah satu ajang bergengsi di dunia bulutangkis, gelar Juara Dunia Ganda Campuran kembali dipersembahkan oleh pasangan Owi dan Butet. Gelar yang pernah juga mereka raih di tahun 2013 yang lalu. Owi dan Butet juga meraih gelar di Indonesia terbuka Super Series Premier (SSP) di bulan Juni, yang sangat istimewa karena gelar di rumah sendiri inilah gelar yang paling sulit mereka dapatkan selama berpasangan. Gelar super seri...

Eid el Fitr Mubarak!

Taqabbalallahu minna wa  minkum :)

The Chronicles of Ahsan and Hendra

S aya menulis ini sebagai penggemar. Ya, I’m a fan of Moh. Ahsan and Hendra Setiawan as a pair. Ahsan dan Hendra mungkin ibarat pengingat bangkitnya Bulutangkis Indonesia. Setelah kegagalan di Olimpiade 2012 dan skandal memalukan Ganda Putri, hadirnya mereka bak oase di tengah kemarau berkepanjangan. Di saat Taufik berada di ujung masa jayanya, Tontowi dan Liliyana yang berada di peringkat 2 dunia tapi tak mampu berbicara di Olimpiade, di waktu banyak yang memandang sebelah mata ke Bulutangkis Indonesia, mereka adalah jawaban banyak pertanyaan tentang prestasi Indonesia. Perpaduan dua ganda putra terbaik Indonesia, Hendra Setiawan-Markis Kido dan Bona Septano-Moh. Ahsan melahirkan pasangan ini. Hendra yang telah keluar dari Pelatnas memutuskan untuk kembali demi mencari tantangan dan pengalaman baru serta memuaskan ambisinya yang belum kesampaian, mejadi Juara All England. Sementara Ahsan, semenjak partnernya keluar dari Pelatnas, pelatih Hery IP. berusaha mencarikan pasangan bar...