Apa yang paling saya rindukan dari kampungku yang satu itu, jawabannya banyak sekali. Mulai dari sayur kelor, kraker gabin, teman-temanku, toko-tokonya, pete-pete, ikan masak, tokoku (bukan toko deng, lebih cocok dibilang warung), penjual kenta (itu nama kerennya bale, yang suka teriak, bale...bale.., kenta..kenta..), kamarku, rumahku, mamaku, semua orang rumah, tanaman yang sering saya siram tiap pagi, udara kendari, jalanan kendari, dan semua tentang kendari dan sekitaran wua-wua. Tapi, sayang ongkos pulang-pergi Kendari mahal sekali, sekitar 2 juta, itu belum termasuk oleh-oleh, yang hanya bisa dikumpulkan dalam waktu yang lama sekali, bukan satu atau dua bulan ini. Jadi, kesimpulannya adalah untuk memenuhi rasa rinduku itu, saya harus menunggu kira-kira lima bulan lagi untuk pulkam (pulang kampung), dalam acara "Lebaran", soalnya libur panjang seminggu hanya tersedia pada waktu Idul Fitri saja.
Sekitar awal tahun lalu, saya sudah punya niat untuk membeli laptop sendiri. Setelah bertahun kerja dan selalu mengandalkan komputer kantor buat mengerjakan semua kepentingan dengannya, saya ingin mengubah keadaan ini. Saya lalu mengumpulkan sedikit demi sedikit uang honor demi sebuah laptop. Setelah beberapa saat, uang akhirnya terkumpul. Setelah bertanya kesana kemari merek laptop yang kira-kira murah tapi bagus, dan juga bantuan sahabat baik saya, Ami, yang kebetulan cerewet sekali kalau membahas hal-hal berhubungan dengan gadget. Kami pun lalu menunjuk sebuah merek. Pertama kali memilih laptop tersebut, abang penjualnya menawarkan memakai sistem operasi sejuta umat, sang Jendela. "Mau pake Win***s? Kalau mau, drivernya udah ada. Tinggal nambah aja sejuta.", kata si penjual tersebut. "Oh, tidak. Mau pakai linux saja. Ada gak?" "Waduh, ga ada linux di sini. Susah itu." Saya menolak, mau memakai linux saja.
Komentar
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar anda atas isi blog saya ini. Kritik, saran yang membangun sangat diharapkan, namun harap sopan.