Apa yang paling saya rindukan dari kampungku yang satu itu, jawabannya banyak sekali. Mulai dari sayur kelor, kraker gabin, teman-temanku, toko-tokonya, pete-pete, ikan masak, tokoku (bukan toko deng, lebih cocok dibilang warung), penjual kenta (itu nama kerennya bale, yang suka teriak, bale...bale.., kenta..kenta..), kamarku, rumahku, mamaku, semua orang rumah, tanaman yang sering saya siram tiap pagi, udara kendari, jalanan kendari, dan semua tentang kendari dan sekitaran wua-wua. Tapi, sayang ongkos pulang-pergi Kendari mahal sekali, sekitar 2 juta, itu belum termasuk oleh-oleh, yang hanya bisa dikumpulkan dalam waktu yang lama sekali, bukan satu atau dua bulan ini. Jadi, kesimpulannya adalah untuk memenuhi rasa rinduku itu, saya harus menunggu kira-kira lima bulan lagi untuk pulkam (pulang kampung), dalam acara "Lebaran", soalnya libur panjang seminggu hanya tersedia pada waktu Idul Fitri saja.
Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu pertama. S uatu sore, April 1994 Aku terbangun dari tidur siangku. Tak ada mimpi buruk, aku tidur dengan pulas siang itu. Setelah berdiam diri sambil merenung, aku lalu melompat dari tempat tidur. It's Cheery Tree time , waktunya Pohon Kersen sodara-sodara!! Kaki dan tanganku lincah mencari dahan untuk dinaiki. Berpuluh-puluh buah Kersen warna-warni menggodaku. Aku tak sabar lagi ingin mencicipi manisnya buah-buah Kersen itu. Hmmmmm..., Jangan tanya berapa lama aku bisa bertahan di atas pohon Kersen, bisa berjam-jam. Dan, untungnya, pohon Kersen itu tak jauh dari rumah. Pohon itu dengan gagahnya bertengger di depan teras depan rumah nenekku. Pohon yang jadi favoritku dan sepupu-sepupu serta kawan-kawan sepermainan di sekitar rumah nenekku. Kersen (gambar dari sini )
Komentar
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar anda atas isi blog saya ini. Kritik, saran yang membangun sangat diharapkan, namun harap sopan.