As a badminton fan, an Indonesian fan, I feel really sad tonight.
Firasat gak akan menang sih ada, setelah kemarin tim Uber kita kalah, karena target mereka semifinal dan gak terpenuhi. Sementara target tim Thomas adalah final.
Indonesia melalui Thomas Cup tahun ini dengan gemilang di fase grup. Tiga kali tanding, tiga-tiganya menang dan hanya kehilangan satu poin dari nomor tunggal putra. Kemudian sukses melewati hadangan tim kuat Korea, namun tersandung oleh tim yang kurang diperhitungkan Malaysia.
Malaysia yang hanya punya pemain nomor satu tunggal putra, Lee Chong Wei, dan ganda putra yg prestasinya biasa saja dan baru dipasangkan, ternyata mampu menghempaskan ganda terbaik kita dan nomor satu dunia, Ahsan-Hendra.
Kunci kemenangan Malaysia menurut saya adalah taktik selalu mengubah pemain yang turun. Urutan pemain beberapa kali berubah dalam setiap pertandingan. Juga pemain yang dinilai kurang siap karena kalah, seperti Darren Liew diganti walaupun berstatus kapten tim. Sementara pemain kita, itu-itu saja, dari penyisihan sampai semifinal, sehingga pola main kita bisa mudah dibaca.
Selain itu juga, mental pemain Malaysia lebih baik dari pemain kita. Meski berstatus tidak diandalkan, mereka bermain lebih baik dari Indonesia, hiks.
Dari semua tim yang bermain di semifinal Thomas Cup tahun ini, Indonesia dan China kayaknya yang punya target final dan dua-duanya gagal. Saran buat pengurus PBSI, dua tahun depan targetnya semifinal aja, biar kita masuk final #eh.
Harapan buat final Thomas besok adalah biar Jepang yang juara. Sekian.
Sekitar awal tahun lalu, saya sudah punya niat untuk membeli laptop sendiri. Setelah bertahun kerja dan selalu mengandalkan komputer kantor buat mengerjakan semua kepentingan dengannya, saya ingin mengubah keadaan ini. Saya lalu mengumpulkan sedikit demi sedikit uang honor demi sebuah laptop. Setelah beberapa saat, uang akhirnya terkumpul. Setelah bertanya kesana kemari merek laptop yang kira-kira murah tapi bagus, dan juga bantuan sahabat baik saya, Ami, yang kebetulan cerewet sekali kalau membahas hal-hal berhubungan dengan gadget. Kami pun lalu menunjuk sebuah merek. Pertama kali memilih laptop tersebut, abang penjualnya menawarkan memakai sistem operasi sejuta umat, sang Jendela. "Mau pake Win***s? Kalau mau, drivernya udah ada. Tinggal nambah aja sejuta.", kata si penjual tersebut. "Oh, tidak. Mau pakai linux saja. Ada gak?" "Waduh, ga ada linux di sini. Susah itu." Saya menolak, mau memakai linux saja.
dont be sad, be happy..hehe
BalasHapus