Langsung ke konten utama

Ke Pasar Tradisional

Beberapa minggu yang  lalu, saya mendapat pemandangan langka.
Seorang remaja lelaki menemani ibunya berbelanja
di pasar.
Kenangan pun kembali mengajak saya, memutar memori, tentang pasar tradisional.
Ritual ini adalah hal yang saya benci, waktu kecil dulu.
Betapa tidak, pasar adalah tempat dimana kakiku tak pernah selamat dari becek dan lumpur, lengket -basah dan bau.
Belum lagi bau dan panasnya, pokoknya segala ketidaknyamanan ada di pasar.
Mama tidak mau tau, dia biasa berjalan di depan dan selalu menyuruh saya berjalan lebih cepat lagi,dan lebih sering lagi meninggalkan saya yang bergulat dengan tanah berlumpur dikaki.
Sekarang, ke pasar adalah kebiasaan baru lagi. Dalam seminggu, berbelanja di pasar bisa saya lakukan tiga atau empat kali.
Rajin? Bukan. Ini dikarenakan tempat transit angkot saya ada di pasar. Jadi, sekalian saja saya lakukan, toh tidak butuh ongkos lebih dan tidak memakan waktu banyak.
Lagipula, pasarnya juga kalau hujan tidak terlalu becek. Ojeknya juga banyak, hingga kalau kalian berdiri menepi sebentar pasti banyak yang menghampiri,hihi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bulutangkis Indonesia di 2017

Tahun 2017 hampir berlalu, begitu pula dengan gelaran turnamen-turnamen Badminton sepanjang tahun 2017 telah ditutup dengan berakhirnya Superseries Final di Dubai pada 17 Desember yang lalu.  Bagaimana dengan prestasi pebulutangkis kita sepanjang tahun ini, apakah lebih baik dari capaian di tahun 2016 lalu? Kalau tahun lalu, prestasi paling puncak adalah emas di Olimpiade Rio yang direbut oleh pasangan andalan kita, Tontowi Ahmad (Owi) dan Liliyana Natsir (Butet). Hampir tidak berbeda di tahun ini, pada bulan Agustus di Kejuaraan Dunia Bulutangkis yang merupakan salah satu ajang bergengsi di dunia bulutangkis, gelar Juara Dunia Ganda Campuran kembali dipersembahkan oleh pasangan Owi dan Butet. Gelar yang pernah juga mereka raih di tahun 2013 yang lalu. Owi dan Butet juga meraih gelar di Indonesia terbuka Super Series Premier (SSP) di bulan Juni, yang sangat istimewa karena gelar di rumah sendiri inilah gelar yang paling sulit mereka dapatkan selama berpasangan. Gelar super seri...

Eid el Fitr Mubarak!

Taqabbalallahu minna wa  minkum :)

Kersen, Jambu Air dan Rambutan

Tulisan ini diikutkan pada  8 Minggu Ngeblog   bersama Anging Mammiri, minggu pertama. S uatu sore, April 1994 Aku terbangun dari tidur siangku. Tak ada mimpi buruk, aku tidur dengan pulas siang itu. Setelah berdiam diri sambil merenung, aku lalu melompat dari tempat tidur. It's Cheery Tree time , waktunya Pohon Kersen sodara-sodara!! Kaki dan tanganku lincah mencari dahan untuk dinaiki. Berpuluh-puluh buah Kersen warna-warni menggodaku. Aku tak sabar lagi ingin mencicipi manisnya buah-buah Kersen itu. Hmmmmm..., Jangan tanya berapa lama aku bisa bertahan di atas pohon Kersen, bisa berjam-jam. Dan, untungnya, pohon Kersen itu tak jauh dari rumah. Pohon itu dengan gagahnya bertengger di depan teras depan rumah nenekku. Pohon yang jadi favoritku dan sepupu-sepupu serta kawan-kawan sepermainan di sekitar rumah nenekku. Kersen (gambar dari sini )